
sawitsetara.co - Industri kelapa sawit dinilai bukan sekadar komoditas perkebunan, tetapi telah menjadi salah satu penopang penting perekonomian Indonesia. Bahkan, sektor ini disebut mampu menjadi bantalan ekonomi ketika Indonesia menghadapi berbagai krisis.
Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Edy Martono mengatakan, peran strategis sawit terlihat dari kemampuannya menghasilkan devisa sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi dan menyerap jutaan tenaga kerja.
“Perlu diketahui sawit ini adalah penopang ekonomi Indonesia yang luar biasa, bahkan sawit ini sudah menyelamatkan beberapa krisis ekonomi,” kata Edy dalam Workshop Jurnalistik Persatuan Wartawan Indonesia (PWI)-GAPKI di Yogyakarta, Jumat (28/02/2026).
Edy menuturkan, industri sawit tetap menunjukkan kinerja kuat ketika Indonesia menghadapi sejumlah periode krisis, mulai dari krisis ekonomi 1998, krisis global 2008, hingga pandemi COVID-19.
Menurut dia, salah satu bukti ketahanan industri sawit terlihat saat pandemi COVID-19. Di tengah tekanan ekonomi global, industri sawit Indonesia justru mampu mencatatkan rekor penerimaan devisa hingga 39,2 miliar dolar AS.
“Kemudian di saat sekarang, saat kondisi global tidak bagus, sawit masih memberikan sumbangan yang luar biasa. Jadi artinya dengan keadaan sekarang, ternyata sawit ini memberikan kontribusi yang luar biasa,” ujarnya.
Tak hanya menghasilkan devisa, Edy menyebut industri sawit juga memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Tercatat sekitar 16 juta orang terlibat dalam ekosistem industri kelapa sawit Indonesia.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa sawit memiliki rantai ekonomi yang panjang, mulai dari sektor perkebunan, pengolahan, perdagangan, transportasi hingga industri hilir.
“Industri sawit di Indonesia mampu menyerap tenaga kegiatan sangat besar, tercatat sebanyak 16 juta orang telah terlibat dalam industri sawit ini,” katanya.
Karena itu, Edy menilai masyarakat perlu memahami posisi strategis Indonesia sebagai negara produsen sekaligus konsumen minyak sawit terbesar di dunia.
Menurutnya, keberadaan sawit sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Banyak produk yang digunakan sehari-hari merupakan hasil olahan kelapa sawit atau menggunakan turunannya sebagai bahan baku.
“Kita tidak sadar dari bangun tidur sampai tidur lagi ketemunya dalam produk sawit,” ujar Edy.
Ia mencontohkan berbagai produk seperti sabun mandi, pasta gigi, sampo hingga beragam produk makanan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari.
“Bangun tidur kita cuci muka, gosok gigi, pakai sabun, keramas, kemudian sarapan pagi, kopi, bahkan permen coklat dari sawit,” katanya.
Edy menegaskan, besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa sawit memiliki posisi yang jauh lebih luas daripada sekadar komoditas ekspor.
Sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia memiliki kepentingan untuk terus memperkuat industri sawit dari hulu hingga hilir. Pengembangan industri hilir dinilai penting agar nilai tambah sawit semakin banyak dinikmati di dalam negeri.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, sektor sawit juga dinilai memiliki peran strategis dalam menjaga penerimaan devisa, membuka lapangan pekerjaan, serta menggerakkan ekonomi masyarakat.
“Jadi masyarakat Indonesia harus menyadari, kalau kita betul-betul sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, tetapi kita juga sebagai konsumen minyak sawit terbesar di dunia,” tutur Edy.
Dengan peran tersebut, industri sawit menjadi salah satu sektor yang dinilai memiliki kontribusi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi Indonesia, baik melalui ekspor dan devisa maupun melalui kebutuhan industri dan konsumsi masyarakat di dalam negeri.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *