
sawitsetara.co - NUSANTARA — Mekanisme pembentukan harga tandan buah segar (TBS) menjadi salah satu isu yang dibahas dalam International Oil Palm Smallholder (IOPS) Forum 2026. Petani kelapa sawit Honduras menilai persaingan antarperusahaan pengolah dapat membuka ruang bagi peningkatan harga sekaligus memperkuat posisi tawar produsen.
Hal itu disampaikan Mr. Allan Maradiaga dari FENAPALMAH, Honduras, dalam sesi diskusi IOPS Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur, Kamis (27/8/2026).
IOPS Forum 2026 diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO) atas dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Forum berlangsung selama tiga hari, 27-29 Agustus 2026, dengan mempertemukan petani dan organisasi sawit dari sejumlah negara.
Dalam paparannya, Allan menjelaskan harga referensi TBS di Honduras ditinjau setiap bulan. Penetapan harga tersebut mengacu pada harga Bursa Malaysia Derivatives (BMD) serta kondisi pasar.
“Harga referensi TBS ditinjau setiap bulan berdasarkan acuan Bursa Malaysia Derivatives dan kondisi pasar,” kata Allan.
Harga referensi itu kemudian menjadi dasar bagi perusahaan pengolah atau ekstraktor dalam menentukan harga yang ditawarkan kepada produsen. Harga tersebut digunakan sebagai acuan dalam transaksi komersial TBS.
“Perusahaan pengolah menetapkan harga referensi bagi produsen yang menjadi dasar dalam transaksi komersial,” ujarnya.
Namun, menurut Allan, mekanisme harga TBS di Honduras tidak berhenti pada harga referensi. Perusahaan pengolah juga bersaing untuk memperoleh pasokan TBS dari produsen.
Persaingan itu dilakukan melalui pemberian insentif dan premi tambahan. Skema tersebut membuat perusahaan pengolah memiliki ruang untuk menawarkan nilai yang lebih menarik kepada produsen maupun perantara.
“Setiap perusahaan pengolah menggunakan harga referensi dan menawarkan insentif serta premi tambahan untuk menarik produsen dan perantara,” kata Allan.
Menurut dia, persaingan yang terjadi di antara perusahaan pengolah menciptakan pasar TBS yang kompetitif. Situasi tersebut dinilai dapat memberikan manfaat bagi petani karena membuka peluang memperoleh harga yang lebih baik di tingkat kebun.
“Persaingan yang kuat untuk mendapatkan TBS di Honduras menciptakan pasar yang kompetitif. Hal ini dapat meningkatkan harga di tingkat petani dan memberikan produsen posisi tawar yang lebih besar,” ujar Allan.
Posisi tawar produsen menjadi penting karena petani berada di sisi awal rantai pasok. Harga yang diterima di tingkat kebun akan menentukan pendapatan yang diperoleh dari hasil panen.
Meski demikian, Allan mengungkapkan masih terdapat tantangan dalam tata niaga TBS di Honduras. Salah satunya adalah peran perantara yang cukup besar dalam pemasaran buah.
Perantara membantu proses pengumpulan hasil panen dan logistik. Namun, keberadaan mereka juga memiliki konsekuensi terhadap distribusi nilai dalam rantai pasok.
“Sebagian besar buah dipasarkan melalui perantara yang membantu proses pengumpulan dan logistik, tetapi mereka dapat mengambil sebagian dari nilai yang dihasilkan dalam rantai tersebut,” kata Allan.
Karena itu, FENAPALMAH melihat perdagangan langsung antara produsen dan perusahaan pengolah sebagai peluang untuk memperbaiki mekanisme pemasaran TBS.
Perdagangan langsung dinilai dapat memperpendek mata rantai pemasaran sekaligus membuat transaksi lebih transparan. Petani juga memiliki peluang memperoleh bagian yang lebih besar dari nilai akhir buah yang mereka produksi.
“Peluang utamanya adalah memperkuat perdagangan langsung antara produsen dan perusahaan pengolah, meningkatkan transparansi serta memastikan bagian yang lebih besar dari nilai akhir buah sampai kepada produsen,” ujarnya.
Allan mengatakan penguatan mekanisme harga tidak berarti menghilangkan persaingan di antara perusahaan pengolah. Sebaliknya, persaingan tetap diperlukan untuk menciptakan pasar yang sehat dan memberikan pilihan kepada produsen.
Yang perlu diperkuat, kata dia, adalah transparansi dalam proses pembentukan harga. Dengan mekanisme yang lebih terbuka, petani dapat mengetahui dasar harga dan memiliki posisi yang lebih baik dalam melakukan negosiasi.
“Tujuan strategisnya adalah mengembangkan mekanisme harga yang lebih transparan, efisien, dan kompetitif yang memberikan manfaat kepada produsen, sekaligus mempertahankan persaingan yang sehat di antara perusahaan pengolah,” kata Allan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *