
sawitsetara.co – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyebabkan kerusakan tanaman perkebunan kelapa sawit, tetapi juga memicu kerugian ekonomi berantai bagi petani. Dampaknya meluas mulai dari kerusakan lahan, gangguan kesehatan masyarakat, hingga terhambatnya distribusi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang berujung pada berkurangnya penyerapan tandan buah segar (TBS) petani oleh pabrik kelapa sawit (PKS).
Ketua Umum DPP Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., mengungkapkan terdapat tiga dampak utama karhutla yang perlu menjadi perhatian pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan industri sawit.
Hal tersebut disampaikannya dalam program FoodAgri Insight CNBC Indonesia pada Senin (02/11/2026).
Menurut Gulat, dampak pertama adalah kerugian langsung akibat lahan dan tanaman sawit yang terbakar. Jika kebakaran menghanguskan seluruh tanaman dalam satu hektare lahan, kerugiannya diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
“Kalau satu hektare terbakar total, kerugiannya sekitar Rp150 juta sampai Rp300 juta per hektare,” ungkap Gulat.
Dampak kedua berkaitan dengan kesehatan petani dan masyarakat di sekitar perkebunan. Paparan asap akibat karhutla berpotensi menyebabkan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) maupun penyakit lainnya. Kondisi tersebut tentu mengganggu aktivitas budidaya sekaligus kehidupan masyarakat di kawasan perkebunan.
Namun, Gulat menilai dampak ketiga justru menjadi persoalan yang tidak kalah besar, yakni terganggunya distribusi CPO dan pengangkutan hasil panen petani akibat musim kemarau berkepanjangan.
Ia mencontohkan kondisi di Kalimantan Barat, khususnya sepanjang Sungai Kapuas, serta Kalimantan Tengah. Pendangkalan sungai akibat musim kering menyebabkan kapal-kapal pengangkut CPO kesulitan beroperasi dan mengangkut minyak sawit dari pabrik.
Menurutnya, ketika kapal pengangkut CPO tidak dapat beroperasi secara normal, tangki penyimpanan CPO di PKS akan semakin penuh. Kondisi ini memaksa pabrik memperlambat operasional bahkan mengurangi penyerapan TBS dari masyarakat, terutama petani swadaya.
“Ketika tangki PKS semakin penuh, akibatnya PKS memperlambat atau mengurangi serapan TBS dari masyarakat ataupun petani swadaya. Nah, ini dampaknya luar biasa,” jelasnya.
Gulat mengatakan persoalan tersebut telah dirasakan petani di sejumlah wilayah Kalimantan yang mengandalkan transportasi sungai untuk mengangkut CPO. Bahkan, berdasarkan komunikasi dengan rekan-rekannya di daerah, kapal-kapal tanker pengangkut CPO mulai mengalami kesulitan memasuki jalur sungai sehingga antrean pengangkutan semakin panjang.
“Sudah susah kapal-kapal masuk, kapal tanker pengangkut CPO, sehingga pabrik memperlambat bahkan mengurangi aktivitas pengolahan TBS,” ujarnya.
Dampak gangguan transportasi air juga dirasakan petani yang tinggal di sepanjang sungai dan anak sungai, baik di Sumatera maupun Kalimantan. Gulat menjelaskan bahwa sebagian besar petani di wilayah tersebut masih mengandalkan jalur sungai untuk mengangkut hasil panen karena keterbatasan infrastruktur jalan menuju perkebunan rakyat.
Ia menilai kondisi ini menjadi persoalan serius karena transportasi air sering kali menjadi satu-satunya pilihan bagi petani untuk mengeluarkan TBS dari kebun.
“Buah sawit tidak bisa keluar. Kalaupun bisa keluar, sudah sampai dua sampai tiga hari sehingga kualitasnya menurun ataupun memberondol,” ungkapnya.
Keterlambatan pengangkutan membuat kualitas buah berpotensi menurun sebelum sampai ke PKS. Pada saat bersamaan, pabrik juga menghadapi keterbatasan kapasitas penyimpanan CPO sehingga mengurangi aktivitas pengolahan dan pembelian TBS petani.
Gulat mengingatkan pemerintah agar tidak hanya melihat karhutla dari sisi luas lahan yang terbakar, tetapi juga memperhitungkan dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat perkebunan.
“Jangan kita hanya melihat kebakaran hutannya, tetapi dampak ekonomi petani sawit juga harus menjadi pemikiran penting pemerintah, baik Kementerian Pertanian, gubernur, maupun pemerintah daerah,” tegasnya.
Menurut Gulat, kehidupan petani sawit sangat bergantung pada pendapatan harian dari hasil panen. Ketika TBS tidak dapat dikeluarkan dari kebun atau tidak terserap oleh PKS, persoalan ekonomi baru akan muncul di tengah masyarakat perkebunan.
Ia menegaskan bahwa karhutla bukan bencana yang diinginkan siapa pun, termasuk petani sawit. Karena itu, dampak lingkungan, kesehatan, dan ekonomi harus menjadi perhatian bersama seluruh pemangku kepentingan industri sawit.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *