
sawitsetara.co - BANDAR LAMPUNG – Penguatan ekonomi Lampung sepanjang 2025 tidak lepas dari kontribusi signifikan industri hilir kelapa sawit. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menunjukkan, produk turunan sawit tampil sebagai tulang punggung ekspor daerah, sekaligus penopang utama arus devisa.
BPS mencatat, selama periode Januari–November 2025, total ekspor produk turunan kelapa sawit Lampung mencapai lebih dari 2,05 juta ton dengan nilai transaksi sebesar USD 2,35 miliar. Angka ini menempatkan kelompok Lemak dan Minyak Hewan/Nabati sebagai komoditas ekspor terbesar, melampaui sektor unggulan lain seperti kopi dan rempah-rempah.

Statistisi Ahli Madya BPS Lampung, Muhammad Ilham Salam, menjelaskan bahwa kekuatan ekspor sawit Lampung saat ini tidak lagi bertumpu pada komoditas mentah, melainkan didorong oleh produk olahan bernilai tambah.
“Refined Palm Oil atau minyak sawit olahan menjadi penyumbang volume terbesar ekspor sawit Lampung,” ujarnya, Selasa (6/1/2026), dikutip TribunNews.
Produk minyak sawit olahan tercatat menembus volume 685.171,51 ton dengan nilai USD 716,75 juta. Sementara itu, fraksi cair minyak sawit menyumbang 612.325,03 ton senilai USD 631,33 juta. Diikuti palm kernel oil (RBD) sebesar 208.621,69 ton dengan nilai USD 385,58 juta.
Adapun ekspor crude palm oil (CPO) tercatat relatif lebih kecil, yakni 202.052,72 ton, menunjukkan pergeseran struktur ekspor Lampung menuju hilirisasi. Produk turunan lainnya seperti crude glycerol dan shortening juga turut berkontribusi, meski dalam volume lebih terbatas.

Stabilitas sektor sawit ini ditopang oleh pertumbuhan luas lahan yang relatif konsisten. Dalam periode 2020–2024, luas perkebunan sawit Lampung meningkat dari 109.339 hektare menjadi 111.339 hektare, dengan produksi naik hingga 209.831 ton.
Kinerja positif industri sawit melengkapi capaian sektor perkebunan lain, khususnya kopi. Meski luas kebun kopi menyusut, produktivitas meningkat tajam dan mendorong nilai ekspor yang tinggi. Namun demikian, secara nilai dan volume, sawit tetap menjadi jangkar utama ekspor Lampung.
BPS menilai, dominasi produk turunan sawit mencerminkan arah transformasi ekonomi daerah yang semakin berbasis nilai tambah. Hilirisasi tidak hanya memperkuat daya saing ekspor, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga pertumbuhan industri pengolahan.
Dengan struktur ekspor yang kian bertumpu pada produk olahan, Lampung dinilai berada pada jalur yang tepat untuk memperkuat ketahanan ekonomi regional di tengah dinamika pasar global.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *