
sawitsetara.co - JAKARTA — Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Sahat Sinaga memperkirakan produksi sawit Indonesia pada 2026 akan turun sekitar 5–6 persen dibandingkan 2025 yang mencapai 52 juta ton. Penurunan itu dipicu penertiban sawit di kawasan hutan oleh Satgas PKH serta persoalan perizinan yang belum tuntas.
“Perkiraan kami, produksi sawit pada tahun ini akan turun sekitar 5 sampai 6 persen ketimbang 2025 yang mencapai 52 juta ton. Penurunan terjadi karena itu tadi, banyak lahan yang dikelola dengan tidak baik,” kata Sahat dalam agenda buka bersama di Jakarta, Kamis (26/2/2026).
Sahat menilai, penurunan produksi berpotensi berdampak lanjutan pada agenda hilirisasi sawit. Gangguan produksi dinilai akan menghambat pasokan bahan baku industri turunan, yang pada akhirnya berpengaruh pada perekonomian nasional.
Selain penertiban kawasan hutan, ia menyoroti banyaknya hak guna usaha (HGU) perusahaan sawit yang berakhir dan belum mendapat kepastian perpanjangan dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN. Kondisi itu, kata Sahat, menghambat agenda peremajaan tanaman.
“Karena HGU belum diperpanjang atau diperbarui maka agenda replanting atau peremajaan pohon sawit menjadi terganggu juga. Jika produksi turun, jelas akan mengganggu hilirisasi di sektor sawit,” ujarnya.
Di tengah tekanan domestik, Sahat menyebut permintaan global terhadap produk sawit Indonesia masih tinggi, termasuk untuk biomassa. Namun, daya saing sawit nasional mulai tergerus sejak 2022–2023.
“Negara besar seperti India dan China kini mulai mengembangkan kedelai dan bunga matahari sendiri agar tidak bergantung kepada produk sawit,” katanya.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *