
NEW DELHI – Tren pencantuman label “No Palm Oil” atau “Palm Oil Free” pada produk pangan di India dinilai berpotensi menyesatkan konsumen dan melemahkan upaya ketahanan minyak nabati nasional.
Indian Food and Beverage Association (IFBA) menilai praktik tersebut lebih mengedepankan strategi pemasaran ketimbang informasi gizi yang berbasis sains.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (30/12/2025), IFBA menyatakan keprihatinan atas maraknya pelabelan tersebut di tengah meningkatnya kesadaran konsumen terhadap isu kesehatan.

Menurut asosiasi industri makanan dan minuman itu, narasi “tanpa sawit” justru berisiko membangun persepsi keliru terhadap minyak yang telah lama menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat India.
“Minyak sawit memiliki peran yang diakui dalam pola makan sehat dan seimbang. Namun, label seperti ‘No Palm Oil’ justru mengarahkan konsumen pada persepsi keliru dengan mengedepankan pemasaran ketimbang sains,” ujar Ketua IFBA Deepak Jolly, seraya merujuk pada pedoman gizi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan India.
IFBA menegaskan bahwa minyak sawit telah digunakan di India sejak abad ke-19 dan hingga kini menjadi salah satu minyak nabati utama karena harganya yang terjangkau, serbaguna, serta memiliki stabilitas nutrisi dan daya simpan yang panjang. Karakteristik tersebut menjadikan sawit pilihan penting bagi banyak merek pangan global maupun domestik.
Namun, menurut IFBA, gelombang narasi negatif yang berkembang di media sosial mendorong konsumen mengambil keputusan berdasarkan tren, bukan pada bukti ilmiah yang terverifikasi.
“Cerita-cerita semacam ini mengalihkan perhatian dari pentingnya keseimbangan nutrisi secara menyeluruh dan berpotensi melemahkan upaya India menuju swasembada minyak nabati,” kata Jolly pada Jumat (2/1/2026), dikutip InfoSawit dari DD News.

Ia mengingatkan bahwa dampak dari pelabelan yang menyesatkan tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga petani, pelaku industri, hingga perekonomian nasional secara luas.
Data industri menunjukkan India mengonsumsi sekitar 26 juta ton minyak nabati setiap tahun, dengan hampir 9 juta ton di antaranya berasal dari minyak sawit. Angka ini menegaskan peran strategis sawit dalam sistem pangan nasional, terutama dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dengan harga terjangkau.
Pandangan IFBA tersebut diperkuat oleh Shilpa Agrawal, Director of Scientific and Regulatory Affairs IFBA. Ia merujuk pada Dietary Guidelines for Indians 2024 yang diterbitkan oleh ICMR–National Institute of Nutrition, yang mengakui manfaat kandungan tocotrienol dalam minyak sawit.
“Pedoman tersebut menyebutkan bahwa tocotrienol dalam minyak sawit berperan menurunkan kolesterol dan mendukung kesehatan jantung,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah India juga merekomendasikan rotasi konsumsi berbagai jenis minyak nabati, termasuk minyak sawit, guna menjaga keseimbangan asam lemak dalam pola makan masyarakat.

IFBA juga menyoroti relevansi isu ini dengan kebijakan nasional. Asosiasi tersebut mengapresiasi peluncuran program National Mission on Edible Oils–Oil Palm (NMEO-OP) pada 2021, yang didukung anggaran sebesar 11.040 crore, untuk memperluas perkebunan sawit dan mengurangi ketergantungan impor minyak nabati.
Menurut IFBA, kampanye “Palm Oil Free” justru berpotensi bertolak belakang dengan arah kebijakan tersebut jika tidak disertai edukasi nutrisi yang memadai.
“Label ‘Palm Oil Free’ bukan pengganti nasihat gizi yang seimbang,” tegas IFBA. “Konsumen perlu waspada terhadap klaim berlebihan yang tidak berpijak pada ilmu nutrisi.”
Asosiasi itu mendorong agar informasi pada produk pangan disampaikan secara bertanggung jawab, berbasis bukti ilmiah, serta sejalan dengan kepentingan kesehatan publik dan ketahanan pangan nasional.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *