KONSULTASI
Logo

Insentif Pasar Dinilai Jadi Kunci Perluasan Sawit Berkelanjutan

19 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Insentif Pasar Dinilai Jadi Kunci Perluasan Sawit Berkelanjutan

sawitsetara.co - JAKARTA — Upaya meningkatkan praktik keberlanjutan di sektor kelapa sawit dinilai perlu diikuti dengan insentif ekonomi. Akses pasar dan peluang memasuki pasar baru menjadi salah satu cara agar investasi produsen, terutama pekebun kecil, dalam praktik berkelanjutan mendapat imbal balik.

CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan penerapan standar keberlanjutan membutuhkan investasi. Karena itu, pasar perlu memberikan penghargaan kepada produsen yang telah menjalankan praktik tersebut.

“Mencapai keberlanjutan membutuhkan upaya dan investasi. Karena itu, kami ingin bekerja sama dengan CPOPC agar upaya keberlanjutan pada komoditas ini dihargai melalui akses pasar dan peluang memasuki pasar baru,” kata Aditya, dilansir dari Antara, Jumat (18/9/2026).

DPP

Menurut Aditya, masih ada jarak antara kapasitas produksi sawit yang telah memenuhi standar sertifikasi dan tingkat penerimaan produk tersebut di pasar global. Pengakuan pasar terhadap produsen yang menerapkan praktik berkelanjutan, kata dia, diperlukan agar praktik serupa dapat diperluas.

“Tujuan kami selalu memastikan adanya akses pasar dan insentif dari pasar untuk keberlanjutan. Kami berharap melalui kemitraan ini produsen dan pekebun kecil yang benar-benar menerapkan praktik berkelanjutan mendapatkan insentif dan akses tersebut,” ujarnya.

Ia mengatakan penerapan praktik berkelanjutan menjadi tantangan tersendiri bagi pekebun kecil. Kondisi mereka perlu dipahami oleh pasar, termasuk dengan memberikan pengakuan terhadap praktik baik yang sudah dilakukan.

Pernyataan tersebut disampaikan setelah WWF-Indonesia dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) meneken nota kesepahaman bertajuk “Green Partnership” pada Jumat, 18 September 2026.

Kemitraan itu mencakup sejumlah agenda, antara lain transparansi rantai pasok, produksi yang bertanggung jawab, pelestarian keanekaragaman hayati, dan pelibatan pekebun kecil.

DPP

Peluang dari Pasar Eropa

Dari sisi perdagangan, Indonesia tengah menyiapkan implementasi Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EU CEPA). Kementerian Perdagangan menyatakan kesepakatan tersebut akan membuka akses ke pasar Uni Eropa yang memiliki sekitar 450 juta konsumen.

Minyak sawit dan produk turunannya termasuk komoditas ekspor Indonesia yang disebut akan memperoleh tarif 0 persen setelah I-EU CEPA berlaku.

Peluang pasar tersebut berlangsung ketika kinerja ekspor sawit Indonesia masih tumbuh. Kementerian Pertanian mencatat nilai ekspor minyak sawit mentah atau CPO beserta produk turunannya pada Januari-Juli 2026 meningkat 5,49 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemerintah juga memperkuat kapasitas dan kelembagaan pekebun. Kemitraan dengan pelaku usaha dikembangkan untuk memperluas akses petani terhadap teknologi, pembiayaan, dan pasar.

Sekretaris Jenderal CPOPC Izzana Salleh mengatakan sawit memiliki posisi penting dalam pasar minyak nabati dunia. Komoditas ini menyumbang sekitar sepertiga produksi minyak nabati global. Adapun negara anggota dan pengamat CPOPC secara bersama-sama mencakup hampir 90 persen produksi minyak sawit dunia.

Menurut Izzana, agenda keberlanjutan tidak dapat dilepaskan dari kondisi ekonomi produsen dan masyarakat yang bergantung pada sawit.

“Keberlanjutan harus tetap berpijak pada realitas. Keberlanjutan harus melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati, tetapi juga memastikan pekebun kecil dan masyarakat tidak tertinggal,” kata Izzana.

DPP

Ia mengatakan perubahan iklim serta meningkatnya tuntutan terhadap perlindungan lingkungan, keberlanjutan, dan ketertelusuran menjadi tantangan bagi industri sawit di pasar internasional.

Karena itu, upaya memperbaiki citra sawit di pasar global, menurut Izzana, perlu ditopang oleh praktik yang dapat dibuktikan di lapangan.

“Memperbaiki persepsi global terhadap minyak sawit tidak dapat dicapai hanya melalui komunikasi. Itu harus didukung oleh bukti, transparansi, perbaikan berkelanjutan, dan praktik keberlanjutan yang kredibel di lapangan,” ujarnya.

Izzana menambahkan pengembangan sawit berkelanjutan perlu mempertemukan tiga kepentingan: daya saing industri, konservasi lingkungan, dan keberlanjutan produksi.

Tags:

Keberlanjutan

Berita Sebelumnya
Pekerja Sawit di Tengah Kepungan Asap Karhutla, Risiko K3 Berlipat

Pekerja Sawit di Tengah Kepungan Asap Karhutla, Risiko K3 Berlipat

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla menambah panjang daftar risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang dihadapi pekerja perkebunan kelapa sawit di Kalimantan. Mereka tidak hanya terpapar asap saat bekerja di kebun, tetapi juga ketika berangkat, pulang, hingga berada di tempat tinggal.

18 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *