
sawitsetara.co - PEKANBARU – Berbagai langkah dan upaya terus dilakukan untuk mewujudkan swasembada pangan termasuk pada komoditas peternakan (sapi), diantaranya melalui sistem linier menjadi sirkular—dan integrasi sapi dengan perkebunan kelapa sawit (SISKA) dinilai menjadi salah satu kunci menuju arah tersebut. Namun hal tersebut tidaklah semudah membalikan telapak tangan.
Hal tersebut mengemuka dalam The 3rd Integrated Cattle and Oil Palm (ICOP) Conference 2026 di Pekanbaru.
Guru besar dari Wageningen University, Prof Henk Hogeveen menekankan bahwa integrasi tanaman dan ternak bukan sekadar pilihan teknis, melainkan kebutuhan strategis dalam membangun sistem pangan masa depan.
“Visi kita adalah sistem pangan sirkular yang mampu memaksimalkan produksi pangan bergizi, sekaligus meminimalkan dampak lingkungan dan meningkatkan karbon tanah,” ujar Hogeveen.

Dari Sistem Linier ke Sirkular
Selama ini, sistem pangan cenderung bersifat linier: produksi, konsumsi, lalu limbah. Dalam model sirkular, limbah justru menjadi sumber daya baru. Residu tanaman, limbah makanan, hingga kotoran ternak dimanfaatkan kembali untuk mendukung produksi pangan.
Dalam konteks ini, kehadiran ternak menjadi elemen penting. “Tidak ada sistem sirkular tanpa ternak. Nilai utama pakan akan kembali dalam bentuk pupuk organik melalui kotoran,” kata Hogeveen.
Integrasi seperti SISKA memungkinkan pemanfaatan biomassa secara optimal. Limbah sawit dapat menjadi pakan ternak, sementara kotoran ternak kembali ke tanah sebagai sumber nutrisi. Siklus ini, menurut dia, menciptakan efisiensi sumber daya sekaligus menekan limbah.
Namun, implementasi sistem sirkular tidak bisa dilakukan secara parsial. Integrasi harus dilihat dalam berbagai skala—dari tingkat peternakan, kawasan, hingga regional. “Sistem ini harus dirancang secara menyeluruh, bukan sepotong-sepotong,” ujarnya.

Peluang Besar, Termasuk Sapi Perah
Selama ini, integrasi sawit-sapi lebih banyak difokuskan pada sapi potong. Namun, Hogeveen melihat peluang besar untuk pengembangan sapi perah dalam sistem terintegrasi.
Ia menilai produktivitas susu di Indonesia masih relatif rendah, sementara ketersediaan pakan kasar cukup melimpah. Di sisi lain, pakan konsentrat berbasis biji-bijian cenderung mahal.
“Kenapa tidak memikirkan sistem produksi ganda—daging dan susu—dalam satu kerangka integrasi?” kata dia.
Meski demikian, pengembangan sapi perah membutuhkan tingkat pengetahuan dan manajemen yang lebih tinggi. Aspek nutrisi, reproduksi, kesehatan, hingga pengolahan susu memerlukan dukungan teknis yang tidak sederhana.

Tantangan Logistik yang Kompleks
Di balik potensi besar tersebut, Hogeveen menyoroti tantangan utama yang justru berada di luar sektor produksi: logistik dan infrastruktur.
Distribusi produksi dan konsumsi di Indonesia yang terpisah secara geografis menjadi kendala serius. Produksi ternak banyak berada di Sumatra dan Kalimantan, sementara pusat konsumsi berada di Pulau Jawa.
Transportasi ternak hidup, menurut dia, bukan hanya mahal, tetapi juga berisiko tinggi. “Pengangkutan ternak menjadi salah satu jalur utama penyebaran penyakit, selain menimbulkan masalah kesejahteraan hewan,” ujarnya.
Proses karantina yang ketat diperlukan, namun hal itu menambah biaya dan kompleksitas. Karena itu, Hogeveen menyarankan pendekatan alternatif: memperkuat pemotongan lokal di dekat sumber produksi.
“Lebih baik mengintegrasikan sistem dengan rumah potong hewan lokal daripada mengandalkan transportasi ternak jarak jauh,” katanya.
Untuk sektor susu, tantangan logistik bahkan lebih besar. Susu segar membutuhkan sistem pendinginan yang memadai selama transportasi. Tanpa itu, kualitas produk akan cepat menurun.
Solusi yang ditawarkan adalah pengembangan fasilitas pengolahan lokal, seperti pabrik susu bubuk, untuk mengurangi ketergantungan pada distribusi jarak jauh.

Infrastruktur Pengetahuan dan Pasar
Selain logistik, Hogeveen menekankan pentingnya infrastruktur non-fisik, seperti pengetahuan, pasar, dan pembiayaan.
Sistem integrasi yang kompleks membutuhkan dukungan tenaga ahli, mulai dari dokter hewan hingga penyuluh lapangan. Jaringan pembelajaran, teknologi informasi, dan sistem advisory menjadi bagian penting dalam memastikan praktik terbaik diterapkan di lapangan.
“Produksi saja tidak cukup. Kita membutuhkan ekosistem yang mencakup pasar, pengolahan, logistik, dan pengetahuan,”pungkasnya.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *