KONSULTASI
Logo

BPDP Dorong UMKM Sawit Kembangkan Biopelet, Peluang Pasar Global Terbuka Lebar

10 April 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
BPDP Dorong UMKM Sawit Kembangkan Biopelet, Peluang Pasar Global Terbuka Lebar

sawitsetara.co - JAMBI — Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPDP) mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sektor kelapa sawit untuk mengembangkan produk biopelet berbasis biomassa.

Hal ini disampaikan oleh Analis Divisi UKMK BPDP, Anwar Sadat, usai kegiatan bertajuk Pemberdayaan UMKM Kelapa Sawit Melalui Pengolahan Biomassa dan Produksi Biopelet yang diselenggarakan oleh DPP APKASINDO di Jambi, Rabu (8/4/2026).

Anwar Sadat menjelaskan bahwa potensi biomassa kelapa sawit di Indonesia sangat besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah seperti tandan kosong, pelepah, cangkang, hingga batang sawit hasil peremajaan memiliki nilai ekonomis tinggi jika diolah menjadi biopelet sebagai sumber energi terbarukan.

“Kami melihat peluang besar dari biomassa sawit yang selama ini belum dimaksimalkan. Dengan teknologi yang relatif terjangkau, bahan-bahan tersebut bisa diolah menjadi biopelet yang memiliki nilai tambah,” ujar Anwar.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurutnya, pengembangan biopelet membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari asosiasi petani, koperasi, UMKM, hingga lembaga riset dan perguruan tinggi. Dukungan teknologi dan riset menjadi kunci dalam memastikan kualitas produk sesuai standar pasar.

BPDP, lanjut Anwar, berkomitmen untuk mendukung penguatan kapasitas pelaku UMKM melalui penyelenggaraan workshop dan pelatihan. Kegiatan ini bertujuan untuk mempercepat diseminasi teknologi pengolahan biomassa serta meningkatkan pemahaman terkait proses produksi biopelet.

Salah satu tantangan utama dalam pengembangan biopelet adalah pemenuhan standar kualitas, seperti nilai kalor dan spesifikasi teknis lainnya. Hal ini membutuhkan pemahaman mengenai pencampuran bahan baku biomassa yang tepat agar produk dapat diterima di pasar, baik domestik maupun internasional.

“Diseminasi teknologi masih menjadi tantangan terbesar. Kami perlu memastikan pelaku UMKM memahami proses produksi hingga mampu memenuhi standar yang dibutuhkan pasar,” jelasnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Di sisi lain, peluang pasar biopelet dinilai sangat menjanjikan, seiring meningkatnya kebutuhan energi terbarukan di tingkat global. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan disebut memiliki permintaan tinggi terhadap produk biomassa, termasuk cangkang sawit dan biopelet.

Dengan luas perkebunan sawit Indonesia yang mencapai lebih dari 16 juta hektare, ketersediaan bahan baku biomassa dinilai sangat melimpah. Sekitar 70 persen dari total biomassa sawit masih belum dimanfaatkan secara optimal.

“Dengan potensi tersebut, Indonesia berpeluang menjadi pemain utama dalam industri biopelet dunia,” kata Anwar.

Ia menegaskan bahwa pemanfaatan limbah sawit menjadi biopelet tidak hanya memberikan nilai tambah ekonomi, tetapi juga mendukung upaya transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan. BPDP pun membuka peluang bagi UMKM dan koperasi yang tertarik untuk mengembangkan usaha biopelet melalui program pelatihan lanjutan yang lebih teknis, mulai dari pengolahan bahan baku hingga produksi skala komersial.

Sawit Setara Default Ad Banner

Acara FGD yang didukung BPDP tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal DPP APKASINDO, Dr. Rino Afrino, ST., MM., C.APO. Hadir pula Plt Ketua DPW APKASINDO Jambi, Mahmudin S.Pt, serta perwakilan dari Dinas ESDM, Bank Mandiri, PT Riset Perkebunan Nusantara, Dinas Perkebunan Provinsi Jambi, koperasi perkebunan, hingga pelaku UMKM sawit dari seluruh wilayah Jambi.

Melalui forum ini, APKASINDO menekankan pentingnya hilirisasi sawit, khususnya melalui pemanfaatan biomassa. Limbah kelapa sawit dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi biopelet sebagai sumber energi terbarukan.

Pengembangan energi berbasis biomassa sawit tidak hanya mendukung ketahanan energi nasional, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi UMKM di sektor perkebunan. Dengan pendekatan ini, petani tidak hanya bergantung pada penjualan tandan buah segar (TBS), tetapi juga dapat memperoleh nilai tambah dari limbah yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.

APKASINDO berharap sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan petani dapat terus diperkuat agar program PSR dan pengembangan energi terbarukan berbasis sawit berjalan berkelanjutan serta memberikan dampak nyata bagi perekonomian nasional.

Tags:

BPDP

Berita Sebelumnya
Integrasi Sawit-Sapi Masih Terhambat Logistik dan Infrastruktur

Integrasi Sawit-Sapi Masih Terhambat Logistik dan Infrastruktur

Berbagai langkah dan upaya terus dilakukan untuk mewujudkan swasembada pangan termasuk pada komoditas peternakan (sapi), diantaranya melalui sistem linier menjadi sirkular—dan integrasi sapi dengan perkebunan kelapa sawit (SISKA) dinilai menjadi salah satu kunci menuju arah tersebut. Namun hal tersebut tidaklah semudah membalikan telapak tangan.

9 April 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *