
sawitsetara.co - NUSANTARA — Petani kelapa sawit Thailand mengembangkan sistem tumpang sari atau intercropping untuk mengoptimalkan lahan sekaligus menambah sumber pendapatan. Strategi ini dinilai dapat mengurangi ketergantungan petani terhadap satu komoditas dan membantu menghadapi berbagai risiko usaha perkebunan.
Hal tersebut disampaikan Orawan dari Krabi Oil Palm Growers’ Cooperative Federation, Thailand, dalam International Oil Palm Smallholders (IOPS) Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara, Kalimantan Timur, Kamis (27/8/2026).
Orawan menjelaskan intercropping sebagai pola menanam dua atau lebih jenis tanaman secara bersamaan pada area yang sama. Dalam praktiknya, kelapa sawit tetap menjadi tanaman utama, sedangkan tanaman lain ditanam di ruang kosong di antara barisan tanaman sawit.
“Intercropping memungkinkan ruang di antara barisan kelapa sawit dimanfaatkan untuk tanaman lain, sehingga lahan dapat memberikan hasil lebih beragam,” kata Orawan dalam paparannya.
Menurut dia, penerapan tumpang sari dapat dimulai sejak awal penanaman kelapa sawit dan paling lambat dilakukan ketika tanaman berumur empat tahun. Tanaman sela ditempatkan di ruang kosong di antara barisan sawit dengan jarak sekitar 1,5–2 meter dari pangkal tanaman sawit.
Orawan mengatakan pilihan tanaman sela dapat disesuaikan dengan kondisi kebun. Sejumlah tanaman sayuran yang dapat dibudidayakan antara lain cabai, labu, dan terung. Petani juga dapat memilih tanaman semusim atau tanaman dengan siklus panen pendek seperti kacang hijau, jagung, tanaman herbal, tebu, dan padi.
“Jenis tanaman sela harus disesuaikan dengan kondisi kebun dan umur tanaman kelapa sawit,” ujarnya.
Selain tanaman berumur pendek, sistem tersebut juga dapat dikombinasikan dengan tanaman tahunan maupun tanaman buah. Dalam paparannya, Orawan mencantumkan langsat, durian, dan kakao sebagai beberapa pilihan tanaman yang dapat dikembangkan dalam sistem tumpang sari.
Menurut Orawan, umur tanaman sawit menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan tanaman sela. Pada umur 0–3 tahun, tajuk sawit masih relatif terbuka sehingga cahaya matahari dapat masuk ke ruang di antara barisan tanaman.
Kondisi tersebut memungkinkan petani menanam tanaman yang membutuhkan cahaya matahari penuh. Tanaman seperti nanas, padi lahan kering, pisang, dan tebu menjadi pilihan yang dapat dikembangkan pada fase tersebut.
“Pada saat tanaman sawit masih muda, ruang terbuka di antara barisan dapat dimanfaatkan untuk tanaman yang membutuhkan cahaya matahari penuh,” kata Orawan.
Memasuki umur 4–9 tahun, kondisi kebun mulai berubah karena tajuk tanaman sawit semakin berkembang. Intensitas cahaya yang mencapai permukaan tanah pun semakin berkurang.
Karena itu, tanaman sela yang dipilih perlu memiliki kemampuan tumbuh pada kondisi cahaya yang lebih rendah. Orawan memaparkan sejumlah pilihan, antara lain melinjo, lada, bambu, kopi, kakao, dan salak.
“Ketika tajuk kelapa sawit semakin berkembang, tanaman sela harus dipilih berdasarkan kemampuannya beradaptasi terhadap kondisi cahaya yang lebih rendah,” ujarnya.
Namun, sistem tumpang sari tidak berarti dapat diterapkan tanpa batas. Orawan menjelaskan ketika tajuk sawit telah berkembang dan memenuhi seluruh area kebun, praktik tumpang sari sebaiknya dihindari.
Penyesuaian tersebut menunjukkan bahwa intercropping membutuhkan pengelolaan berdasarkan fase pertumbuhan sawit. Petani perlu memperhitungkan ruang tumbuh, kebutuhan cahaya, serta karakter tanaman yang akan ditanam bersama sawit.
Bagi petani, manfaat utama sistem ini bukan hanya berasal dari tambahan produksi. Orawan memaparkan bahwa tumpang sari dapat meningkatkan pendapatan pada tiga tahun pertama, ketika tanaman sawit masih berada pada fase awal pertumbuhan.
“Salah satu manfaat penting intercropping adalah meningkatkan pendapatan petani selama periode awal, terutama pada umur 0–3 tahun,” kata Orawan.
Selain memberikan sumber penerimaan tambahan, tanaman sela juga dapat membantu mengendalikan pertumbuhan gulma. Pemanfaatan ruang kosong untuk tanaman produktif membuat lahan lebih optimal dibandingkan dibiarkan tanpa tanaman.
Sistem tersebut juga dinilai dapat mengurangi risiko yang dihadapi petani. Dalam paparannya, Orawan menyebut intercropping dapat membantu mengurangi risiko akibat fluktuasi cuaca, volatilitas harga, serta serangan hama.
“Diversifikasi tanaman membantu mengurangi risiko dari perubahan cuaca, fluktuasi harga, dan serangan hama,” ujarnya.
Dengan memiliki lebih dari satu sumber hasil, petani tidak sepenuhnya bergantung pada pendapatan dari kelapa sawit. Tanaman dengan siklus panen berbeda dapat memberikan penerimaan pada waktu yang berbeda sehingga pendapatan petani menjadi lebih beragam sepanjang tahun.
Orawan menyebut diversifikasi tersebut juga membantu memaksimalkan penggunaan lahan. Kebun sawit tidak hanya diposisikan sebagai tempat produksi TBS, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas lain selama kondisi kebun memungkinkan.
Dalam paparannya, berbagai contoh penerapan tumpang sari ditampilkan dari Krabi Oil Palm Research Center. Beberapa di antaranya adalah kombinasi kelapa sawit dengan nanas, padi, cabai, manggis, pisang, durian, kelapa, serai, rumput Napier, pepaya, dan kelengkeng.
Salah satu pola yang dipaparkan menggunakan jarak tanam sawit 10 x 10 x 10 meter dengan tanaman manggis, pisang, durian, dan kelapa. Pola lain menggunakan jarak tanam 12 x 12 x 12 meter dengan kombinasi manggis, pisang, durian, dan serai.
Pengembangan tanaman sela juga tidak terbatas pada tanaman pangan. Orawan memperlihatkan simulasi budidaya anthurium di antara tanaman sawit. Dalam pola tersebut, blok tanaman anthurium dibuat berukuran 1 x 3 meter, sedangkan jarak tanam anthurium sekitar 30 x 30 sentimeter.
Selain itu, kakao dan lada juga dapat dikembangkan sebagai tanaman sela. Materi tersebut mencantumkan jarak sekitar tiga meter antartanaman dan lubang tanam sekitar 30 sentimeter untuk kedua komoditas tersebut.
Menurut Orawan, pengalaman Thailand menunjukkan bahwa diversifikasi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkuat ketahanan ekonomi petani sawit.
“Tujuan intercropping bukan menggantikan kelapa sawit sebagai tanaman utama, tetapi memaksimalkan pemanfaatan lahan dan membantu petani memperoleh pendapatan yang lebih beragam,” kata dia.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *