
sawitsetara.co - PONTIANAK – Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mulai menggeser arah pembangunan sektor kelapa sawit. Jika selama ini luas lahan kerap menjadi tolok ukur utama, kini pemerintah daerah menempatkan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, produktivitas, dan tata kelola perkebunan sebagai prioritas.
Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Barat, Ignasius IK, mengatakan pengembangan perkebunan sawit ke depan tidak lagi bertumpu pada penambahan areal tanam. Menurut dia, keberhasilan sektor ini justru ditentukan oleh kemampuan pekebun meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, efisiensi usaha, dan kesejahteraan.
“Keberhasilan pembangunan perkebunan sawit ke depan tidak lagi ditentukan oleh seberapa luas lahan yang dimiliki, tetapi oleh seberapa tinggi produktivitasnya, seberapa baik tata kelolanya, dan seberapa sejahtera pekebunnya,” ujar Ignasius saat membuka Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Tahun 2026 di Pontianak, Jumat (24/7/2026).
Ignasius mengatakan perubahan arah pembangunan tersebut menjadi penting karena sektor sawit menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, dinamika pasar global, tuntutan keberlanjutan, hingga regenerasi petani. Dalam kondisi tersebut, peningkatan kompetensi pekebun dinilai menjadi salah satu upaya memperkuat daya saing perkebunan rakyat.
Ia menilai pelatihan budidaya sawit bukan sekadar agenda tahunan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan sektor perkebunan. “Pelatihan bukan sekadar memenuhi agenda tahunan. Lebih dari itu, pelatihan merupakan investasi pengetahuan yang akan menentukan masa depan perkebunan kelapa sawit kita,” katanya.
Berdasarkan data 2025, luas perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat mencapai 2.185.701,95 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 711.882,95 hektare merupakan perkebunan rakyat dengan produksi mencapai 1.275.954,553 ton.
Menurut Ignasius, besarnya luasan dan produksi tersebut menunjukkan bahwa pekebun rakyat memegang peran strategis dalam menopang pembangunan sektor perkebunan di Kalimantan Barat. Karena itu, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan pekebun perlu menjadi perhatian bersama.
“Angka tersebut menunjukkan bahwa perkebunan rakyat memiliki peran yang sangat besar dalam menopang pembangunan sektor perkebunan di Kalbar. Oleh sebab itu, peningkatan kapasitas dan kesejahteraan pekebun harus menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.
Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit Tahun 2026 merupakan bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan yang ditujukan untuk meningkatkan kompetensi pekebun sawit di Kalimantan Barat.
Dalam kesempatan itu, Ignasius menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Bengkayang, serta Lembaga Pelatihan Mutu Institute yang mendukung penyelenggaraan pelatihan.
Menurut dia, kolaborasi antarlembaga diperlukan agar peningkatan kapasitas pekebun tidak berhenti di ruang pelatihan, tetapi diterapkan dalam pengelolaan kebun sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas dan hasil usaha.
Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat berkomitmen membangun sektor perkebunan yang maju, berdaya saing, dan berkelanjutan melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga pelatihan, penyuluh, dan pekebun.
“Mari perkuat sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pelatihan, dunia usaha, perguruan tinggi, penyuluh, dan para pekebun. Dengan semangat kebersamaan, saya optimistis Kalimantan Barat akan terus menjadi salah satu sentra perkebunan kelapa sawit terbaik di Indonesia,” kata Ignasius.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *