KONSULTASI
Logo

Pasar Mulai Mengantisipasi Krisis Pasokan Sawit 2027

11 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Pasar Mulai Mengantisipasi Krisis Pasokan Sawit 2027

sawitsetara.co - KUALA LUMPUR - Persediaan minyak sawit Malaysia sedang melimpah. Namun pasar komoditas mulai mengantisipasi kondisi berbeda pada 2027 ketika ancaman El Nino berpotensi menekan produksi sawit di Indonesia dan Malaysia.

Dilansir dari New Straits Times, persediaan minyak sawit Malaysia mencapai 2,82 juta ton pada Agustus 2026. Angka tersebut merupakan level tertinggi sepanjang tahun ini, sekaligus meningkat 7,5 persen dibanding bulan sebelumnya dan 28,2 persen secara tahunan.

Kenaikan stok terjadi ketika ekspor melemah dan produksi meningkat. Kondisi itu semestinya menekan harga crude palm oil (CPO) dalam jangka pendek. Namun pasar justru mulai memperhitungkan risiko berkurangnya pasokan tahun depan.

Sinyal tersebut terlihat dari pasar berjangka. Kontrak sawit untuk periode awal 2027 diperdagangkan dengan premi besar dibandingkan harga untuk pengiriman jangka pendek. CIMB Securities mencatat kontrak Januari-Maret 2027 diperdagangkan dengan premi lebih dari RM594 per ton dibanding kontrak Oktober tahun ini.

Public Investment Bank Bhd (PublicInvest) juga melihat pelebaran selisih antara harga spot dan futures CPO Malaysia. Selisihnya telah mencapai sekitar RM300 per ton karena pasar mulai memperhitungkan potensi pengetatan pasokan akibat El Nino.

apkasindo

El Nino Jadi Risiko Utama

RHB Research memperkirakan peluang terjadinya El Nino yang sangat kuat mencapai 95 persen pada periode Oktober-Desember. Dampaknya terhadap produksi sawit diperkirakan baru terasa terutama mulai 2027.

Kekhawatiran tersebut diperkuat kondisi cuaca di kawasan produsen utama. CIMB Securities mencatat kondisi kering yang tidak biasa dan curah hujan rendah di Indonesia serta Malaysia dalam enam pekan terakhir. Risiko penurunan produksi juga meningkat akibat berkurangnya penggunaan pupuk.

“Sementara itu, kondisi yang luar biasa kering dan curah hujan yang rendah di Indonesia dan Malaysia selama enam minggu terakhir, ditambah dengan berkurangnya penggunaan pupuk, meningkatkan risiko penurunan produksi minyak sawit mulai tahun 2027,” kata CIMB Securities dalam catatannya.

Kondisi ini membuat pasar melihat kenaikan stok saat ini sebagai tekanan sementara. Produksi memang masih memasuki periode musiman yang kuat, tetapi risiko gangguan pasokan pada tahun berikutnya mulai dihargai dalam kontrak futures.

CIMB Securities memperkirakan harga CPO dapat mencapai RM4.600 per ton dalam waktu dekat. Penguatan tersebut ditopang ekonomi biofuel yang lebih menarik, penguatan kondisi El Nino, serta pengetatan pasokan minyak nabati global.

apkasindo

Stok Naik, Ekspor Malaysia Melemah

Untuk jangka pendek, pasar sawit Malaysia masih menghadapi persoalan kenaikan persediaan. RHB Research memperkirakan stok akan bertahan di atas dua juta ton tahun ini dan masih meningkat dalam beberapa bulan mendatang seiring produksi memasuki puncak musiman pada kuartal IV. Permintaan yang biasanya meningkat menjelang musim perayaan diperkirakan dapat menahan sebagian tekanan tersebut.

CIMB Securities bahkan memproyeksikan stok Malaysia kembali naik 5,3 persen secara bulanan menjadi 2,98 juta ton pada September. Kondisi itu berpotensi membatasi kenaikan harga CPO dalam waktu dekat. Ekspor menjadi salah satu titik lemah. Ekspor minyak sawit Malaysia pada Agustus turun 7,5 persen secara bulanan dan 2,4 persen secara tahunan menjadi 1,29 juta ton. Penurunan ekspor tersebut diperkirakan mencerminkan pelemahan permintaan akibat harga CPO yang relatif tinggi. PublicInvest juga menilai persaingan dengan Indonesia ikut menekan kinerja ekspor Malaysia.

Saat ini, selisih harga CPO Malaysia dan Indonesia mencapai sekitar RM1.000 per ton. Perbedaan harga tersebut membuat produk Indonesia lebih kompetitif di pasar internasional. Sementara itu, produksi sawit Malaysia pada Agustus hanya meningkat 1,4 persen secara bulanan menjadi 1,82 juta ton. Namun secara tahunan produksinya masih turun 2 persen.

“Secara keseluruhan, peningkatan persediaan yang lebih besar dari perkiraan mencerminkan semakin lebarnya ketidakseimbangan antara produksi musiman yang mulai pulih dan permintaan ekspor yang melemah,” kata CIMB Securities.

Menurut CIMB Securities, produksi kemungkinan tetap kuat secara musiman dalam beberapa bulan ke depan. Karena itu, pemulihan ekspor diperlukan agar persediaan tidak terus meningkat.

apkasindo

Biofuel dan Minyak Nabati Jadi Penopang

Selain faktor cuaca, pasar CPO mendapat dukungan dari membaiknya ekonomi biofuel. Harga energi yang tinggi membuat margin biodiesel menjadi lebih menarik.

CIMB Securities mencatat CPO Indonesia berubah dari posisi premium terhadap gasoil pada Agustus 2025 menjadi diskon pada Agustus tahun ini. Perubahan tersebut meningkatkan daya saing CPO sebagai bahan baku biodiesel.

Kondisi itu diperkirakan mendukung permintaan biodiesel sekaligus mengurangi beban subsidi Indonesia dalam penerapan mandatori biodiesel B50. Pasar CPO juga berpotensi memperoleh tambahan permintaan dari minyak nabati lain. CIMB Securities memperkirakan penurunan ekspor minyak bunga matahari dari Rusia dan Ukraina dapat mendorong substitusi ke minyak sawit.

India menjadi salah satu pasar yang berpotensi meningkatkan pembelian minyak sawit. Kilang-kilang di negara tersebut biasanya meningkatkan pembelian minyak bunga matahari pada Oktober hingga Maret. Jika pasokannya berkurang, sebagian permintaan dapat beralih ke sawit.

Harga CPO Tetap Dipandang Positif

Meski stok Malaysia sedang tinggi, tiga lembaga riset tetap mempertahankan pandangan positif terhadap harga CPO dan sektor perkebunan. RHB Research mempertahankan asumsi harga CPO rata-rata RM4.400 per ton untuk 2026 dan RM4.500 per ton pada 2027.

PublicInvest menaikkan asumsi harga CPO menjadi RM4.500 per ton untuk 2026 dan 2027. Sebelumnya, lembaga tersebut memproyeksikan harga RM4.400 per ton. Sementara itu, CIMB Securities mempertahankan proyeksi harga CPO pada RM4.450 per ton untuk 2026 dan RM4.550 per ton untuk 2027.

Dengan demikian, pasar menghadapi dua kondisi yang berlawanan. Stok tinggi dan ekspor lemah menjadi tekanan dalam jangka pendek. Sebaliknya, risiko El Nino, permintaan biodiesel, dan potensi pengetatan minyak nabati menjadi penopang harga untuk 2027.

Laba Perusahaan Perkebunan Berpotensi Naik

Prospek harga tersebut juga menjadi katalis bagi kinerja perusahaan perkebunan. RHB Research mencatat kinerja perusahaan yang telah melaporkan hasil kuartal II 2026 secara umum sesuai ekspektasi. Dari perusahaan yang dipantau, sembilan memenuhi ekspektasi, lima berada di bawah perkiraan, dan dua melampaui perkiraan. RHB Research memperkirakan laba perusahaan perkebunan kembali meningkat pada kuartal III secara kuartalan. Kenaikan harga jual rata-rata CPO dan produksi tandan buah segar (TBS) menjadi pendorong utama.

Secara keseluruhan, dengan harga CPO yang juga diperdagangkan lebih tinggi serta produksi TBS yang meningkat, kinerja pendapatan perusahaan perkebunan sawit di Malaysia dan Indonesia diperkirakan terus membaik pada kuartal ketiga” kata RHB Research.

Ketiga lembaga riset itu juga mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perkebunan. CIMB Securities memilih IOI Corp Bhd, Kuala Lumpur Kepong Bhd, dan Hap Seng Plantations Holdings Bhd sebagai saham unggulan. RHB Research memilih Sarawak Oil Palms Bhd, IOI Corp, Hap Seng Plantations, SD Guthrie Bhd, PT Triputra Agro Persada Tbk, PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk, serta First Resources Ltd.

Adapun PublicInvest menjagokan Sarawak Plantation Bhd dan Ta Ann Holdings Bhd. Keduanya dinilai menarik karena menawarkan dividend yield 6-8 persen serta pertumbuhan produksi TBS yang berada di atas rata-rata industri. Dengan kondisi tersebut, kenaikan stok Malaysia belum cukup untuk mengubah sentimen pasar secara keseluruhan. Investor justru mulai melihat lebih jauh ke 2027, ketika dampak cuaca ekstrem terhadap produksi sawit berpotensi semakin nyata.

Tags:

CPOBerita Sawit

Berita Sebelumnya
Petani dan UMKM Sebagai Aktor Penggerak Ekonomi di Balik Industri Sawit Nasional

Petani dan UMKM Sebagai Aktor Penggerak Ekonomi di Balik Industri Sawit Nasional

Masyarakat awam masih sering mempersepsikan industri sawit hanya milik korporasi besar dengan modal investasi yang besar. Hamparan kebun sawit yang luas, pabrik-pabrik pengolahan berskala besar, dan aktivitas perdagangan sawit bernilai tinggi, semakin menguatkan opini publik terhadap industri sawit sebagai industri yang eksklusif.

10 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *