
sawitsetara.co - JAKARTA – Pengembangan industri hilir sawit di KEK Sei Mangkei difokuskan pada pengolahan CPO (crude palm oil) menjadi produk oleofood, bahan baku industri pangan, serta biodiesel. Proyek ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas sawit, tetapi juga memperkuat implementasi program mandatori bioenergi nasional.
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kuntoro Boga menegaskan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan langkah konkret dalam memperkuat ekosistem hilirisasi perkebunan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
“Sei Mangkei memiliki posisi strategis sebagai pusat pertumbuhan industri berbasis sawit di wilayah barat Indonesia. Hilirisasi ini akan meningkatkan nilai ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional,” ujar Kuntoro kepada sawitsetara, Senin (5/4/2026).

Di atas lahan sekitar 10 hektare, akan dibangun sejumlah fasilitas industri hilir secara bertahap. Salah satunya adalah pabrik oleofood yang memproduksi margarin dan shortening menggunakan teknologi kristalisasi tanpa hidrogenasi, sehingga menghasilkan produk pangan yang lebih sehat.
Pabrik ini direncanakan berkapasitas 35.000 ton per tahun dan ditargetkan beroperasi pada akhir 2027.
Penguatan hilirisasi juga diarahkan pada pembangunan pabrik biodiesel berkapasitas sekitar 450.000 ton per tahun yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2028. Produksi fatty acid methyl ester (FAME) ini menjadi sangat penting dalam konteks global yang diwarnai ketegangan geopolitik dan fluktuasi harga energi fosil. Keberadaan pabrik ini diharapkan mampu menutup kesenjangan produksi biodiesel nasional serta mendukung implementasi program B50 bahkan lebih tinggi.
Lebih luas, pemerintah juga mendorong hilirisasi komoditas perkebunan lainnya di berbagai daerah. Di Maluku Tengah, misalnya, dikembangkan industri pengolahan pala menjadi oleoresin. Sementara itu, industri kelapa terpadu diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai tinggi seperti minyak MCT, tepung kelapa, dan karbon aktif. Di Morowali, pembangunan ekosistem agroindustri terintegrasi menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi berbasis wilayah.

Dari keseluruhan proyek yang dijalankan, diperkirakan akan tercipta lapangan kerja hingga sekitar 600.000 orang. Nilai investasi yang telah berjalan, termasuk di luar fase pertama dan kedua, mencapai sekitar USD26 miliar, menunjukkan besarnya potensi hilirisasi sebagai motor penggerak ekonomi nasional.
“Melalui sinergi antara pemerintah, industri, dan pemangku kepentingan, hilirisasi perkebunan diharapkan menjadi pengungkit utama pertumbuhan ekonomi daerah, peningkatan ekspor, serta penguatan industri nasional berbasis sumber daya alam yang berkelanjutan,” pungkas Kuntoro.
Sekedar catatan, Presiden Prabowo Subianto mendorong hilirisasi di KEK Sei Mangkei, Sumatera Utara, dengan meresmikan groundbreaking proyek hilirisasi fase II (oleofood/biodiesel) pada 29 April 2026. Fokus utama adalah peningkatan nilai tambah sawit, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi nasional, sejalan dengan visi 13 proyek strategis nasional (Rp116-119 triliun).



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *