KONSULTASI
Logo

Kontribusi Sawit 3,5% ke PDB Dinilai Tak Cerminkan Dampak Nyata, Akademisi Soroti Peran Petani Belum Terhitung

2 Mei 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Kontribusi Sawit 3,5% ke PDB Dinilai Tak Cerminkan Dampak Nyata, Akademisi Soroti Peran Petani Belum Terhitung
HOT NEWS

sawitsetara.co - PEKANBARU — Industri kelapa sawit kembali ditegaskan sebagai salah satu penopang utama perekonomian nasional, dengan kontribusi sekitar 3,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun, Guru Besar Bidang Ekonomi Universitas Riau, Prof. Dr. Almasdi Syahza, menilai angka tersebut belum mencerminkan dampak riil sektor sawit secara menyeluruh, khususnya dari sisi hulu.

Menurut Prof Almasdi, perhitungan kontribusi tersebut selama ini masih berfokus pada sektor hilir, seperti ekspor crude palm oil (CPO), pajak ekspor, serta nilai tambah industri turunan. Sementara itu, kontribusi ekonomi dari petani—yang justru menjadi fondasi utama sektor ini—belum masuk dalam perhitungan resmi.

“Yang dihitung itu baru dari hilirnya. Padahal kontribusi dari pendapatan petani, dari perputaran uang di pedesaan, itu belum masuk. Kalau itu dihitung, kontribusinya bisa jauh lebih besar dari 3,5%,” ujarnya saat dihubungi sawitsetara.co, Sabtu (2/5/2026).

Sawit Setara Default Ad Banner

Ia menekankan bahwa peran petani sawit sangat strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Pendapatan dari tandan buah segar (TBS) yang diterima petani, kata dia, menciptakan efek berganda (multiplier effect) yang signifikan terhadap aktivitas ekonomi di pedesaan.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di delapan provinsi sentra sawit, multiplier effect sektor ini bahkan mencapai angka 2,49. Artinya, setiap investasi sebesar Rp1 miliar di sektor sawit dapat mendorong perputaran ekonomi hingga Rp2,49 miliar pada periode berikutnya.

“Itu baru dihitung sampai tingkat TBS. Sementara hasil penjualan CPO sebagian besar tidak kembali ke daerah. Yang kembali hanya gaji karyawan, pembelian TBS, dan biaya operasional. Sisanya banyak yang keluar dari daerah,” jelasnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Prof Almasdi menilai, apabila sebagian keuntungan industri sawit—terutama dari sektor hilir—dapat didistribusikan kembali ke daerah dalam bentuk investasi riil, maka pertumbuhan ekonomi lokal akan jauh lebih cepat.

“Kalau ada kebijakan yang mengembalikan sebagian keuntungan ke petani, misalnya dalam bentuk subsidi, pembangunan infrastruktur produksi, atau dukungan lainnya, maka ekonomi desa akan bergerak lebih cepat,” katanya.

Lebih lanjut, ia melihat potensi peningkatan kontribusi sawit terhadap PDB masih sangat terbuka, terutama melalui kebijakan peningkatan konsumsi domestik. Program biodiesel seperti B35, B40, hingga rencana B50 dinilai akan memperbesar serapan sawit di dalam negeri.

“Kalau konsumsi dalam negeri meningkat, otomatis kontribusi ke PDB juga akan meningkat. Jadi potensinya masih besar,” ujarnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Namun demikian, ia mengingatkan bahwa kebijakan tersebut harus diiringi dengan penguatan tata kelola dan distribusi manfaat yang lebih adil, agar dampak ekonomi tidak hanya terpusat pada pelaku industri besar.

“Jangan sampai nilai tambah hanya dinikmati di hilir, sementara petani di hulu tidak merasakan dampak yang signifikan,” tegasnya.

Dengan demikian, Prof Almasdi menilai bahwa narasi kontribusi 3,5% terhadap PDB seharusnya tidak dipandang sebagai angka final, melainkan sebagai gambaran parsial dari potensi besar industri sawit yang belum sepenuhnya tergali.


Berita Sebelumnya
Maknai Hari Buruh, Apkasindo Ajak Pekerja Sawit Seimbangkan Hak dan Kewajiban

Maknai Hari Buruh, Apkasindo Ajak Pekerja Sawit Seimbangkan Hak dan Kewajiban

Gulat menegaskan bahwa Hari Buruh menjadi momentum bagi para pekerja, termasuk di sektor perkebunan sawit, untuk mengekspresikan eksistensi dan kontribusi mereka terhadap keberlangsungan usaha. Ia menjelaskan bahwa dalam konteks perkebunan sawit, istilah “buruh” kini mulai bergeser menjadi “pekerja sawit” yang mencakup berbagai status kerja, mulai dari harian hingga bulanan.

1 Mei 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *