KONSULTASI
Logo

Petani Rasakan Dampak Nyata PSR, Produktivitas Kebun Naik Lebih dari Dua Kali Lipat

2 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Petani Rasakan Dampak Nyata PSR, Produktivitas Kebun Naik Lebih dari Dua Kali Lipat

sawitsetara.co - SIAK – Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menunjukkan hasil nyata bagi petani di Dusun Sialang Sakti, Kecamatan Dayun, Kabupaten Siak. Setelah mengganti tanaman sawit yang telah berumur tua dengan tanaman baru, para petani mengaku produktivitas kebun meningkat signifikan, biaya panen menjadi lebih efisien, dan pendapatan pun ikut bertambah.

Salah satu petani peserta PSR dari Gapoktan Manunggal Sakti, Dadang, mengatakan sebelum mengikuti program tersebut kondisi kebunnya sudah tidak lagi memberikan hasil yang optimal karena usia tanaman yang sudah melewati masa produktif.

“Namanya sawit sudah tua, jadi penghasilannya kurang maksimal. Setelah ikut PSR, sekarang Alhamdulillah hasilnya lebih banyak daripada sebelumnya,” ujarnya didampingi Ketua Gapoktan Manunggal Sakti Budi Santoso saat ditemui sawitsetara.co, Sabtu (27/6/2026).

Menurut Dadang, sebelum PSR bukan hanya produksi yang menurun, tetapi proses panen juga menjadi tantangan tersendiri. Tingginya pohon sawit membuat pemanen kesulitan menjangkau tandan buah segar, bahkan dengan menggunakan galah fiber.

“Kendalanya dulu pohonnya sudah terlalu tinggi. Pakai galah fiber pun tidak sampai. Kadang ada buah, tetapi tidak bisa dipanen. Buah yang tertinggal tentu menjadi kerugian bagi petani,” katanya.

Setelah dilakukan peremajaan, kondisi tersebut berubah. Pohon sawit yang lebih pendek membuat seluruh tandan buah dapat dipanen secara optimal.

“Sekarang semua buah bisa dipanen. Tidak ada lagi buah yang tertinggal di atas. Itu yang membuat hasil panen meningkat dibandingkan sebelumnya,” jelasnya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Pengalaman serupa dirasakan Tarsan, petani anggota Gapoktan Manunggal Sakti yang juga mengikuti PSR. Menurutnya, tanaman sawit hasil peremajaan jauh lebih mudah dikelola sehingga pekerjaan pemanen menjadi lebih ringan.

“Alhamdulillah sekarang sawit sudah diganti. Pohonnya pendek sehingga hasilnya lebih memuaskan. Yang panen senang karena pekerjaannya lebih mudah, yang punya kebun juga senang karena hasilnya meningkat,” ujarnya.

Selain kemudahan panen, Tarsan menyebut peningkatan produktivitas menjadi manfaat paling nyata yang dirasakan setelah mengikuti PSR.

Ia mengungkapkan, sebelum peremajaan produksi kebunnya hanya sekitar satu ton per hektare setiap kali panen dengan interval sekitar 15 hari.

Kini setelah tanaman hasil PSR memasuki masa produksi, hasil panennya mencapai sekitar 2,5 ton setiap sepuluh hari.

“Kalau dulu paling dapat satu ton sekali panen. Sekarang insyaallah bisa sekitar dua setengah ton setiap panen. Panennya juga lebih cepat, sekitar 10 hari sekali,” katanya.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Tarsan, peningkatan produksi tersebut berdampak langsung terhadap pendapatan keluarga. Apalagi harga tandan buah segar saat ini juga relatif lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu.

Ia mengakui masih banyak petani yang ragu mengikuti PSR karena beredar anggapan bahwa bantuan pemerintah harus dikembalikan setelah program selesai. Padahal, berdasarkan pengalamannya, kekhawatiran tersebut tidak terbukti.

“Pesan saya kepada kawan-kawan yang sawitnya sudah tua, jangan ragu ikut PSR. Saya sudah merasakan sendiri, bantuan itu tidak perlu dikembalikan seperti yang banyak dikhawatirkan orang. Justru hasilnya sekarang jauh lebih baik,” ujarnya.

Ia bahkan mendorong petani yang tanaman sawitnya sudah tidak produktif agar segera mendaftarkan kebunnya ke program PSR selagi kesempatan masih tersedia.

“Kalau sawit sudah tinggi dan hasilnya tidak maksimal lagi, cepat ikut PSR. Jangan menunggu lebih lama karena hasilnya benar-benar terasa.”

Tarsan juga menyampaikan apresiasi kepada APKASINDO yang selama proses PSR memberikan pendampingan kepada petani.

“Terima kasih kepada APKASINDO yang sudah membantu kami. Sekarang hasil kebun saya memuaskan. Siapa saja yang punya sawit tua, saya sarankan ikut PSR,” katanya.

Pengalaman Dadang dan Tarsan menjadi gambaran bagaimana Program Peremajaan Sawit Rakyat tidak hanya mengganti tanaman tua dengan bibit baru, tetapi juga mampu meningkatkan produktivitas kebun, memperbaiki efisiensi panen, serta memberikan harapan baru bagi kesejahteraan petani sawit rakyat di Kabupaten Siak.


Berita Sebelumnya
Penerapan Minyak Solar B50 Resmi Berlaku Mulai Hari Ini

Penerapan Minyak Solar B50 Resmi Berlaku Mulai Hari Ini

Pemerintah resmi memberlakukan kebijakan pencampuran biodiesel sebesar 50 persen ke dalam bahan bakar minyak jenis solar atau B50 mulai hari ini, Rabu (1/7/2026). Kebijakan tersebut menjadi bagian dari percepatan implementasi bauran energi nasional.

1 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *