
sawitsetara.co - PADANG – Integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit dinilai mampu menjadi solusi meningkatkan populasi ternak sekaligus memperkuat peternakan rakyat di Sumatera Barat. Model pengembangan tersebut telah diterapkan di Kabupaten Pesisir Selatan dan disebut mampu meningkatkan populasi sapi pesisir secara signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat Sukarli mengatakan sistem integrasi memanfaatkan areal perkebunan kelapa sawit sebagai lokasi penggembalaan sekaligus sumber pakan ternak. Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi salah satu contoh keberhasilan pengembangan peternakan berbasis potensi lokal.
“Sapi pesisir ini kita sudah lakukan, saya dulu di Pesisir Selatan mencoba mengembangkan sapi pesisir terintegrasi dengan kelapa sawit. Di Lunang itu populasinya sekitar 500-an ekor, saya terakhir ke sana tahun 2023 populasinya sudah lebih dari 5.000 ekor,” ujar Sukarli dalam dialog Padang Menyapa di RRI Pro 1 Padang, Sabtu (1/8/2026).
Menurut Sukarli, tidak semua wilayah di Sumatera Barat sesuai untuk pengembangan sapi berukuran besar seperti Simmental maupun Limousin. Kawasan pesisir justru lebih cocok untuk pengembangan sapi pesisir karena memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap kondisi lingkungan serta pola pemeliharaan yang dilakukan masyarakat.
“Kalau sapi pesisir ini boleh dikatakan sapi atlet, karena dia berjalan sepanjang hari, tekstur dagingnya lebih gurih karena lemak subkutannya lebih tipis,” katanya.
Ia menilai karakteristik tersebut menjadi keunggulan yang dapat mendukung pengembangan sapi pesisir sebagai komoditas unggulan peternakan rakyat, terutama di wilayah pesisir Sumatera Barat.
Di sisi lain, Kepala Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTUHPT) Padang Mengatas Farouk Mochtar mengatakan lembaganya terus memperkuat penyediaan bibit sapi pesisir untuk mendukung peningkatan populasi ternak lokal.
“Kami juga di BPTUHPT Padang Mengatas sangat concern untuk pengembangan sumber daya lokal sapi pesisir. Jumlah induk di awal itu 150 ekor, sekarang jumlahnya kurang lebih 600 ekor dengan induk sekitar 340 ekor, per tahun kami memproduksi kurang lebih 200 sampai 250 ekor,” ujar Farouk.
Meski demikian, Farouk mengakui kapasitas pengembangan di BPTUHPT Padang Mengatas masih terbatas. Karena itu, pengembangan sentra pembibitan baru di daerah asal sapi pesisir dinilai menjadi langkah penting untuk memperluas populasi.
Menurut dia, BPTUHPT Padang Mengatas telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dan Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan guna mendorong pembentukan sentra pembibitan sapi pesisir di tingkat peternak. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat penyediaan bibit sekaligus memperkuat pengembangan sapi lokal berbasis masyarakat.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *