
sawitsetara.co - PANGKALAN BUN – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menilai kelapa sawit merupakan tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien dalam penggunaan lahan. Tingkat produktivitasnya yang jauh lebih tinggi dibandingkan komoditas minyak nabati lain membuat sawit dinilai sulit tergantikan dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia.
Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, mengatakan kelapa sawit mampu menghasilkan sekitar 4 ton minyak per hektare. Produktivitas tersebut jauh melampaui kedelai yang hanya sekitar 0,4 ton per hektare, bunga matahari sekitar 0,6 ton per hektare, maupun red seed yang produktivitasnya bahkan tidak mencapai seperlima dari sawit.
“Inilah mengapa sawit sering disebut the most land efficient vegetable oil crop (tanaman penghasil minyak nabati yang paling efisien dalam penggunaan lahan). Oil crop artinya apa? Jika dunia membutuhkan minyak nabati dengan jumlah yang sama tetapi tanpa sawit, maka lahan yang dibutuhkan akan lebih luas,” kata Zaid dalam Media Briefing Industri Sawit yang Berkelanjutan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Rabu (29/7/2026).
Menurut Zaid, efisiensi tersebut menjadi salah satu alasan penting mengapa sawit memiliki posisi strategis dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati global. Dengan produktivitas yang tinggi, kebutuhan minyak dapat dipenuhi tanpa harus membuka lahan yang lebih luas dibandingkan jika mengandalkan komoditas minyak nabati lainnya.
Ia juga menegaskan bahwa manfaat sawit tidak hanya terbatas sebagai bahan pangan. Produk turunan sawit telah menjadi bagian dari berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari kosmetik, bahan bakar, hingga minyak goreng.
“Jadi kalau kita perhatikan sawit ini 24 jam secara tidak kita sadari ada dalam kehidupan kita semua. Ada yang sudah jadi kosmetik, kalau yang suka bersolek tidak sadar itu ada unsur sawitnya juga, ada yang sudah jadi bahan bakar, ada yang sudah jadi minyak goreng, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Selain menghasilkan berbagai produk utama, limbah sawit juga telah dimanfaatkan menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti bahan pembuatan helm, kain batik, hingga rompi antipeluru.
Dari sisi ekonomi, Zaid mengatakan kelapa sawit masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Nilai ekspor komoditas ini setiap tahun mencapai lebih dari 20 miliar dolar AS dan menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia.
Ia menambahkan, struktur ekspor sawit Indonesia kini juga mengalami perubahan. Sekitar 80 persen ekspor telah berbentuk produk hilir, bukan lagi minyak sawit mentah, sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi industri nasional.
Menurut Zaid, kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional juga tetap signifikan. Pada 2025, sektor perkebunan memberikan sumbangan sekitar 4,56 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia sekaligus menjadi bagian penting dari sektor pertanian.
“Selain memberikan devisa, sektor perkebunan juga memberikan kontribusi terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) nasional. Tahun 2025, sektor perkebunan memberikan kontribusi sekitar 4,56 persen terhadap PDB Indonesia, sekaligus menjadi bagian penting dari sektor pertanian yang merupakan salah satu penopang utama perekonomian nasional,” kata Zaid.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *