KONSULTASI
Logo

Sawit Tua Ditebang demi PSR, Begini Cara Petani Rohil Jaga Dapur Tetap Mengepul

8 Oktober 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Sawit Tua Ditebang demi PSR, Begini Cara Petani Rohil Jaga Dapur Tetap Mengepul

sawitsetara.co - BAGAN BATU — Di hamparan kebun kelapa sawit di Rokan Hilir (Rohil), Riau, tanaman muda tumbuh menggantikan pohon-pohon tua yang sebelumnya menjadi sumber penghidupan petani. Belum ada tandan buah segar (TBS) yang bisa dipanen. Lantas bagaimana cara mereka mempertahankan dapur tetap mengepul?

Di sela-sela barisan tanaman sawit hasil Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), petani menanam tanaman pangan. Jagung, padi, semangka, ubi, pepaya, hingga pisang menjadi pilihan untuk menjaga dapur tetap mengepul selama sawit belum menghasilkan. Pemandangan itu ditemui sawitsetara.co saat mengunjungi sejumlah kebun PSR di Rohil pada September 2026 lalu.

Ketua DPD APKASINDO Rohil Tommy Sihombing mengatakan proses membawa petani mengikuti PSR tidak berlangsung singkat. Edukasi dan pendampingan harus dilakukan dari kebun ke kebun untuk meyakinkan petani bahwa tanaman sawit yang sudah tua dan tidak produktif perlu diremajakan.

“Memang untuk mencapai angka yang seperti itu tidak mudah. Tapi berkat sosialisasi kita, tim yang turun ke lapangan memberikan edukasi, motivasi bahwa sawit yang tua dipelihara juga tidak baik untuk masa depan,” kata Tommy.

apkasindo

Rohil kini mencatat hampir 7.000 hektare kebun petani yang masuk dalam program PSR. Bagi Tommy, angka tersebut merupakan hasil dari proses panjang meyakinkan petani untuk meninggalkan tanaman tua dan beralih ke tanaman baru yang diharapkan memiliki produktivitas lebih baik.

Menurut dia, persoalan yang dihadapi petani bukan hanya soal kemauan untuk meremajakan kebun. Administrasi lahan juga kerap menjadi hambatan. Sebagian sertifikat lahan masih diagunkan ke bank. Ada pula lahan yang sudah berpindah tangan melalui jual beli, tetapi nama pada sertifikat belum diperbarui. Kondisi tersebut membuat proses administrasi PSR membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

“Ada yang sertifikatnya digadaikan di bank. Ada yang namanya juga belum diubah, masih nama semula karena ini ada yang jual beli. Itu kita buat prosesnya dengan surat keterangan beda nama,” ujar Tommy.

Pendampingan itu dilakukan sembari terus mendorong petani menyelesaikan persyaratan. Tommy menyebut hasilnya mulai terlihat di lapangan. Bagi petani, keputusan meremajakan kebun berarti harus siap menghadapi masa ketika sawit belum menghasilkan. Masa tunggu inilah yang menjadi salah satu kekhawatiran terbesar.

WhatsApp Image 2026-10-08 at 11.17.24 (1).jpeg

Untuk mengatasinya, APKASINDO Rohil mendorong petani memanfaatkan lahan PSR dengan tanaman sela. Cabai, semangka, ubi, pepaya dan pisang menjadi beberapa tanaman yang sebelumnya sudah dicoba. Di salah satu lokasi yang dikunjungi, tanaman sela juga disiapkan mengikuti kondisi cuaca. Jagung menjadi pilihan ketika hujan turun dan kondisi lahan memungkinkan untuk ditanami.

“Jadi kita anjurkan mereka untuk menanam-menanam yang bisa menambah kehidupan sehari-hari. Ada yang menanam cabai dulunya, ada yang menanam semangka, ada yang menanam ubi, ada juga yang menanam pisang,” kata Tommy.

apkasindo

Konsep tanaman sela tidak berhenti pada satu jenis tanaman. Setelah dua kali aplikasi jagung, petani biasanya beralih ke tanaman kacang-kacangan. Pergantian tanaman itu bukan tanpa alasan. Tanaman kacang-kacangan diharapkan ikut membantu memperbaiki kondisi tanah ketika tanaman sawit masih dalam masa pertumbuhan.

“Setelah nanti jagung dua aplikasi, kita akan coba dengan tanaman kacang-kacangan. Jadi dia berganti, enggak jagung terus,” ujar Tommy.

WhatsApp Image 2026-10-08 at 11.17.00.jpeg

Hasil tersebut menjadi contoh bagi petani bahwa masa tunggu sawit menghasilkan tidak harus berarti kehilangan seluruh sumber pendapatan dari lahan. Namun, pemanfaatan lahan dengan tanaman sela tetap memiliki batas. Tommy menjelaskan, sawit muda masih memungkinkan ditanami tanaman sela hingga sekitar satu tahun setengah. Setelah itu, ketika tajuk sawit mulai berkembang, pola pemanfaatan lahan akan disesuaikan.

Untuk petani yang masih ragu mengikuti PSR, Tommy menyampaikan pesan sederhana. Tanaman tua yang sudah tidak produktif tidak seharusnya dipertahankan hanya karena kekhawatiran kehilangan pendapatan sementara. Ia mencontohkan, luas lahan yang tidak terlalu besar pun dapat memberikan hasil apabila tanaman yang ditanam produktif.

“Untuk para petani sawit yang tanamannya sudah tidak produktif atau 25 tahun ke atas, mari kita remajakan sawit kita. Karena dengan meremajakan sawit kita, kita akan nantinya mendapatkan produksi yang lebih baik,” ujar Tommy. “Jangan kita di luas lahan yang terlalu lebar, hasilnya dengan yang dua hektare sama.”

Tags:

PSRperemajaan sawit rakyatBerita Sawit

Berita Sebelumnya
Praktisi Klaim Pulihkan Sawit Terinfeksi Ganoderma, Perubahan Terlihat dalam Hitungan Bulan

Praktisi Klaim Pulihkan Sawit Terinfeksi Ganoderma, Perubahan Terlihat dalam Hitungan Bulan

Sejumlah tanaman kelapa sawit yang terserang Ganoderma disebut dapat dipulihkan melalui perlakuan berbasis Trichoderma. Praktisi perkebunan kelapa sawit Ferry Harianja mengatakan pengalaman tersebut diperoleh dari penanganan tanaman di 16 lokasi.

7 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *