KONSULTASI
Logo

Studi Ungkap Media Turut Perkuat Persepsi Negatif terhadap Sawit

5 Januari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Studi Ungkap Media Turut Perkuat Persepsi Negatif terhadap Sawit
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA - Isu kelapa sawit tak hanya diperdebatkan dari sisi ekonomi dan lingkungan, tetapi juga dari cara media memberitakannya. Berbagai survei dan penelitian menunjukkan bahwa media massa tak jarang memperkuat narasi negatif tentang sawit, yang kemudian memengaruhi opini publik.

Para pakar komunikasi media menegaskan bahwa pemberitaan sering kali memilih sudut pandang yang menonjolkan dampak negatif sawit, termasuk isu lingkungan, deforestasi, hingga tekanan kebijakan internasional — sementara aspek positif seperti kontribusi ekonomi dan keberlanjutan kurang mendapat ruang.

Sawit Setara Default Ad Banner

Penelitian akademik oleh Yanuar Rahmadan dan Santi Setiawati (2021) dalam Journal of International Studies pengaruh framing media terhadap isu sawit menunjukkan bahwa sejumlah media Indonesia cenderung menggunakan tone negatif dalam pemberitaan tentang diskriminasi sawit di Uni Eropa — meskipun konteks utamanya adalah negosiasi perdagangan.

Studi berjudul “The Importance of a Single Narrative Communication in Addressing the Global Negative Campaign against Palm Oil Products” menemukan bahwa kampanye negatif terhadap produk sawit sering dibingkai dalam konteks kerusakan lingkungan, pelanggaran hak asasi, dan isu keberlanjutan yang lemah, terutama di media global dan konsumen Barat. Ini diperkuat oleh temuan adanya narasi negatif dominan yang terus diproduksi tanpa strategi komunikasi terpadu dari pemangku kepentingan sawit.

Menurut penelitian bertajuk Integrated Communication Strategies For Palm Oil Advocacy Against Negative Campaigns: A Review On Unified Narrative And All Stakeholders Coopetition, peran media dalam memperkuat gambaran sawit sebagai “masalah lingkungan” di luar konteks yang lebih luas, termasuk upaya sertifikasi keberlanjutan seperti RSPO (Roundtable on Sustainable Palm Oil).

Salah satu contoh bagaimana media turut membentuk narasi publik adalah sebuah artikel yang memberikan tips mengurangi produk kelapa sawit dalam keseharian. Artikel tersebut memberikan tips kepada pembaca untuk mengurangi konsumsi dan penggunaan produk berbasis sawit, termasuk minyak goreng, sabun cair, skincare, dan bahan baking, dengan alasan dampak lingkungan yang dianggap buruk dari penggunaan sawit dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam artikel ini media menekankan bahwa hampir semua aktivitas rumah tangga melibatkan produk sawit yang “tanpa disadari … lama kelamaan bisa berdampak buruk bagi lingkungan”, serta menyarankan pembaca untuk beralih ke alternatif minyak nabati lain seperti minyak zaitun dan minyak kelapa untuk memasak.

Pemberitaan seperti ini dapat memberi kesan bahwa mengurangi sawit adalah pilihan benar dan bertanggung jawab lingkungan, meskipun konteks ilmiah yang lebih kompleks tentang keberlanjutan, sertifikasi, dan praktik industri tidak dibahas secara mendalam di dalam artikel tersebut.

Sawit Setara Default Ad Banner

Langkah media seperti ini — yang memadukan narasi gaya hidup sehat dan tanggung jawab lingkungan dengan pesan mengurangi pemakaian sawit — berkontribusi terhadap pembentukan persepsi negatif masyarakat, termasuk kecenderungan konsumen di negara lain untuk menghindari produk dengan sawit.

Dilansir dari The Sun, sebuah studi konsumen di Inggris, misalnya, menemukan bahwa sebagian besar responden menghindari produk yang mengandung minyak sawit karena kekhawatiran terhadap dampak lingkungan meski banyak yang tidak mengerti perbedaan antara sawit konvensional dan berkelanjutan.

Media massa, baik nasional maupun internasional, memiliki peran signifikan dalam membentuk narasi publik tentang kelapa sawit. Melalui pilihan framing berita, gaya penulisan gaya hidup, dan penekanan pada dampak negatif, media turut menciptakan citra sawit yang sering kali tidak seimbang.

Untuk membangun pemahaman yang lebih utuh, para pakar menilai perlu ada pemberitaan yang lebih berimbang dan berbasis data ilmiah, serta ruang lebih besar bagi suara produsen, petani kecil, dan pemangku kepentingan lain.

Sawit Setara Default Ad Banner

Selain riset komunikasi media, pernyataan akademisi dari IPB University juga menunjukkan bahwa tuduhan tentang sawit sebagai penyebab banjir bandang dan kerusakan lingkungan sering disederhanakan. Ernan Rustiadi dari IPB University menegaskan bahwa sawit tumbuh di dataran rendah dan tidak relevan menjadi penyebab banjir bandang yang bersumber dari hulu atau dataran tinggi.

Menurutnya, faktor utama kejadian banjir adalah curah hujan ekstrem akibat perubahan iklim, serta gangguan ekologi di hulu seperti pembukaan lahan ilegal — bukan keberadaan sawit itu sendiri. Praktik konversi lahan juga jarang terjadi langsung dari hutan primer menjadi sawit; lebih sering berubah dari lahan semak atau terbuka.

“Perubahan tutupan lahan juga tidak identik dengan hutan langsung jadi sawit. Bahkan, kecil sekali kemungkinan dari hutan itu langsung ke sawit. Biasanya sawit itu mengonversi yang sudah tidak ada hutannya, daerah-daerah yang sudah semak,” kata Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Masyarakat Agromaritim (WR III) IPB University ini.


Berita Sebelumnya
GAPKI Soroti Lambatnya PSR dan Dampak Kebijakan B50 terhadap Ekspor maupun Harga Minyak Goreng

GAPKI Soroti Lambatnya PSR dan Dampak Kebijakan B50 terhadap Ekspor maupun Harga Minyak Goreng

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono menyampaikan pandangannya terkait sejumlah isu krusial dalam industri kelapa sawit. Mulai dari lambatnya peremajaan sawit rakyat (PSR) hingga potensi dampak kebijakan B50 terhadap ekspor dan harga minyak goreng dalam negeri.

| Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *