
sawitsetara.co - JAKARTA — Kebijakan Amerika Serikat (AS) yang menetapkan tarif impor nol persen bagi minyak sawit Indonesia dinilai membuka peluang strategis bagi Indonesia untuk mengubah jalur dan pola ekspor sawit nasional.
Kebijakan ini memungkinkan Indonesia mengurangi ketergantungan pada Uni Eropa (UE) yang selama ini menjadi pintu masuk utama sawit Indonesia ke pasar Amerika. Ketergantungan semakin memberatkan Indonesia dengan aturan harus lolos EUDR.
Direktur Eksekutif Palm Oil Strategic Agribusiness Strategic Policy Instutute (PASPI), Dr. Ir. Tungkot Sipayung menjelaskan bahwa selama ini ekspor sawit Indonesia ke Amerika dilakukan melalui dua skema. Pertama, perdagangan langsung dari Indonesia ke Amerika Serikat. Kedua, melalui pihak ketiga, terutama negara-negara UE.
“Selama ini ada dua cara sawit kita masuk ke Amerika, yaitu direct trade dari Indonesia dan melalui pihak ketiga, terutama negara-negara Uni Eropa,” kata Dr. Tungkot saat dihubungi sawitsetara.co, Rabu (18/2/2026).
Ia menyebut konsumsi minyak sawit AS mencapai sekitar 5–6 juta ton per tahun. Namun ekspor langsung Indonesia baru sekitar 2 juta ton. Selebihnya, sekitar 3–4 juta ton, merupakan sawit Indonesia yang diekspor ke Eropa dan kemudian diekspor ulang ke Amerika.
“Yang direct trade itu hanya sekitar 2 juta ton. Lebih dari 3 juta ton itu sawit Indonesia yang masuk ke Amerika lewat Eropa dengan aturan EUDR,” ujar ahli agribisnis dan pertanian ini.
Dengan tarif nol persen, Indonesia kini memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan negara-negara Eropa yang masih dikenai tarif saat mengekspor ke Amerika. Menurut Dr. Tungkot, kondisi ini memungkinkan seluruh kebutuhan sawit Amerika dipasok langsung dari Indonesia tanpa melalui perantara.
Ia juga menilai kebijakan ini menguntungkan karena karakter pasar Amerika berbeda dengan UE. Amerika dinilai tidak terlalu mempersoalkan isu lingkungan seperti emisi dan deforestasi, yang selama ini menjadi hambatan utama ekspor sawit Indonesia ke Eropa.
“Amerika tidak seketat Uni Eropa dalam soal lingkungan. Mereka lebih fokus ke perdagangan,” kata dia.
Selain itu, pasar Amerika juga dinilai strategis karena sebagian besar sawit digunakan untuk industri pangan. Sekitar 70 persen industri pangan Amerika menggunakan minyak sawit, sementara kebutuhan biodiesel mereka dipenuhi dari minyak kedelai domestik.
Meski demikian, Dr. Tungkot mengingatkan pengalihan ekspor ke Amerika berpotensi mengurangi ekspor ke kawasan lain seperti UE, Afrika, India, dan Cina, terutama jika pasar Amerika menawarkan margin keuntungan yang lebih besar, namun itu bukan ancaman bagi pasar yang sudah ada selama ini, tinggal bagaimana mengelolanya dan memperbaiki sektor hulu (huluisasi).
Sebelumnya, Pemerintah AS menyetujui penerapan tarif bea masuk sebesar 0 persen untuk minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya dari Indonesia melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART).
Selama ini, ekspor CPO Indonesia ke Amerika tercatat sekitar 6 juta ton per tahun. Namun, hanya sekitar 2 hingga 2,5 juta ton yang dikirim secara langsung. Selebihnya masuk ke pasar AS melalui negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Spanyol, Belanda, dan Italia yang berperan sebagai re-ekspor.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *