KONSULTASI
Logo

Tiga Negara Produsen Sawit Dunia Siapkan Payung Kerja Sama Hadapi Tekanan Global

23 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Tiga Negara Produsen Sawit Dunia Siapkan Payung Kerja Sama Hadapi Tekanan Global

sawitsetara.co - MEDAN — Indonesia, Malaysia, dan Thailand sepakat memperkuat kerja sama di sektor kelapa sawit untuk menghadapi tekanan industri yang semakin kompleks. Tiga negara produsen utama sawit dunia itu menyepakati substansi Memorandum of Understanding (MoU) on Palm Oil Cooperation under Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT).

Kesepakatan tersebut dicapai dalam The 4th Project Implementation Team (PIT) Palm Oil Cooperation Meeting yang menjadi bagian dari The 19th IMT-GT Working Group on Agriculture and Agribusiness (WGAA) Meeting di Medan, Senin (21/7/2026).

Kerja sama ini mencakup sejumlah isu strategis yang selama ini menjadi tantangan industri sawit kawasan. Mulai dari peningkatan produktivitas, keberlanjutan, hilirisasi, pemberdayaan pekebun rakyat, hingga penguatan akses pasar global.

Apj

Indonesia, Malaysia, dan Thailand secara bersama-sama menyumbang sekitar 87 persen produksi minyak sawit dunia. Besarnya kontribusi tersebut membuat ketiga negara memiliki kepentingan strategis untuk memperkuat koordinasi, terutama di tengah meningkatnya tuntutan keberlanjutan, dinamika perdagangan internasional, perubahan iklim, dan persaingan pasar global.

Pertemuan dibuka oleh Chairman PIT Palm Oil Cooperation, Dato’ Razali bin Mohamad. Delegasi Indonesia dipimpin Head of Delegation (HoD) Indonesia Hendratmojo Bagus Hudoro. Adapun Delegasi Malaysia dipimpin Norhayati binti Md. Husin dan Delegasi Thailand dipimpin Ms. Hirunya Srasom.

Dalam pertemuan tersebut, Hendratmojo yang juga menjabat Plt Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi ketiga negara.

Menurut dia, kerja sama melalui IMT-GT perlu diarahkan pada peningkatan produktivitas, pengembangan industri hilir, pemberdayaan pekebun rakyat, inovasi teknologi, serta harmonisasi berbagai inisiatif yang mendukung pembangunan industri kelapa sawit berkelanjutan.

Ia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh delegasi dan menekankan pentingnya kerja sama regional dalam menghadapi dinamika perdagangan internasional, tuntutan keberlanjutan, serta tantangan perubahan iklim.

Apj

Kesepakatan substansi MoU menjadi salah satu capaian penting dalam pertemuan tersebut. Jika ditandatangani, dokumen itu akan menjadi landasan kerja sama tiga negara dalam berbagai bidang strategis.

Ruang lingkupnya mencakup peningkatan produktivitas, pengembangan industri hilir, penguatan sistem ketertelusuran atau traceability, penerapan praktik budidaya berkelanjutan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penelitian dan pengembangan, serta pertukaran informasi dan pengalaman.

Para delegasi mengusulkan penandatanganan MoU dilakukan dalam The 32nd IMT-GT Ministerial Meeting yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026. Penandatanganan di tingkat menteri diharapkan menjadi penegasan komitmen politik ketiga negara untuk memperkuat kemitraan strategis di sektor sawit.

Selain MoU, pertemuan juga mengadopsi Terms of Reference (ToR) PIT Palm Oil Cooperation. Dokumen tersebut akan menjadi pedoman bagi pelaksanaan kerja sama, termasuk mekanisme koordinasi, implementasi program, serta pembagian peran antarnegara.

Agenda kerja sama tidak hanya menyasar industri dan perdagangan. Pemberdayaan pekebun rakyat juga menjadi salah satu perhatian utama.

Para peserta mengapresiasi penyelenggaraan Webinar on Oil Palm Smallholder Empowerment pada Juni 2026. Forum tersebut menjadi wadah bagi ketiga negara untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam meningkatkan kapasitas serta kesejahteraan pekebun kelapa sawit rakyat.

Apj

Perwakilan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Normansyah Syahrudin, berharap rekomendasi yang dihasilkan dalam webinar tersebut tidak berhenti sebagai bahan diskusi. Ia mendorong agar rekomendasi itu ditindaklanjuti menjadi program nyata yang memberikan manfaat bagi pekebun.

Atas keberhasilan webinar tersebut, PIT Palm Oil Cooperation mengusulkan agar kegiatan serupa kembali dimasukkan ke dalam program kerja 2027.

Malaysia kemudian menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah penyelenggaraan PIT Palm Oil Cooperation berikutnya. Pertemuan menyepakati The 5th PIT POC Meeting dilaksanakan secara virtual. Adapun The 6th PIT POC Meeting akan digelar secara tatap muka dan diselenggarakan secara back-to-back dengan WGAA Meeting.

Bagi tiga negara produsen utama sawit dunia, kerja sama ini bukan sekadar agenda rutin forum regional. Kesepakatan tersebut menjadi upaya untuk membangun koordinasi yang lebih terstruktur di tengah perubahan lanskap industri sawit global.

Dengan produksi gabungan yang mencapai sekitar 87 persen dari pasokan minyak sawit dunia, Indonesia, Malaysia, dan Thailand memiliki posisi penting dalam menentukan arah masa depan komoditas tersebut.

Melalui MoU, ToR, dan berbagai agenda kolaborasi yang disepakati, ketiganya berupaya membangun industri sawit yang lebih produktif, berkelanjutan, inklusif, dan berdaya saing. Dampaknya diharapkan tidak hanya dirasakan pelaku industri dan perekonomian kawasan, tetapi juga jutaan pekebun sawit rakyat.


Berita Sebelumnya
Harga CPO Malaysia Diproyeksi Tembus 4.650 Ringgit per Ton pada Agustus

Harga CPO Malaysia Diproyeksi Tembus 4.650 Ringgit per Ton pada Agustus

Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia diperkirakan masih berada di level tinggi pada Agustus 2026. Namun, ruang penguatan harga komoditas tersebut dinilai terbatas karena permintaan yang melemah dan tingginya persediaan minyak nabati di pasar utama.

22 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *