
sawitsetara.co - MEDAN — Limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dimanfaatkan mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) menjadi bahan penguat kemasan aktif untuk memperpanjang mutu cabai merah dalam kondisi penyimpanan lembap.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE). Tim memanfaatkan nanofiber selulosa dari TKKS, kitosan berbahan cangkang udang, serta ekstrak kulit rambutan untuk membuat edible film.
Riset ini berangkat dari persoalan kehilangan hasil setelah panen, terutama pada kondisi penyimpanan yang lembap seperti yang dapat terjadi setelah banjir. Di sisi lain, Sumatera Utara memiliki limbah agroindustri yang berpotensi diolah menjadi bahan bernilai guna.
Ketua tim penelitian, Inggrid Auralya Sandy, mengatakan formulasi tersebut menggabungkan sejumlah bahan dengan fungsi berbeda.
“Kami memanfaatkan kitosan dari cangkang udang yang dikombinasikan dengan nanofiber selulosa dari limbah TKKS sebagai bahan penguat, serta ekstrak kulit rambutan yang kaya akan senyawa antioksidan dan antimikroba alami,” ujar Inggrid, dikutip dari laman USU, Rabu (7/10/2026).
Tim menguji lapisan tersebut pada cabai merah selama 15 hari dengan kelembapan relatif minimal 85 persen. Kondisi pengujian dibuat menyerupai lingkungan penyimpanan lembap yang mungkin dihadapi cabai setelah banjir.
Hasilnya menunjukkan susut bobot cabai yang diberi perlakuan hanya 12 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan cabai tanpa perlakuan yang mengalami susut bobot 21,5 persen.
Penelitian juga menemukan bahwa penambahan ekstrak kulit rambutan sebesar 1 persen menghasilkan formulasi terbaik setelah melalui sejumlah tahapan pengujian di laboratorium.
Selain menekan susut bobot, edible film tersebut mampu menghambat pertumbuhan mikroba pembusuk. Lapisan ini membantu mempertahankan kesegaran dan warna merah cabai hingga hari ke-15.
Dari Limbah Sawit Menjadi Bahan Bernilai Tambah
Penelitian itu dikerjakan mahasiswa Program Studi D4 Kimia Terapan Fakultas Vokasi bersama mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) USU.
Inggrid memimpin tim yang beranggotakan Novaldo Imanuel Haloho dan Crisya Lestari Siregar serta anggota lain dari FMIPA USU. Penelitian didampingi Juli Novita Sari, S.Si., M.Si. dari Fakultas Vokasi USU.
Mereka mengangkat penelitian berjudul “Pengembangan Edible Film Kitosan Nanofiber Selulosa Tandan Kosong Kelapa Sawit dan Ekstrak Kulit Rambutan sebagai Kemasan Aktif Cabai Merah Pascabanjir.”
Pemanfaatan TKKS menjadi salah satu bagian penting dalam riset tersebut. Limbah yang selama ini dihasilkan dari industri kelapa sawit itu diolah menjadi nanofiber selulosa untuk memperkuat material kemasan.
Sementara itu, kulit rambutan yang juga merupakan limbah agroindustri dimanfaatkan karena mengandung senyawa antioksidan dan antimikroba alami.
Dengan pendekatan tersebut, penelitian tidak hanya menyasar persoalan ketahanan cabai setelah panen. Tim juga mencoba meningkatkan nilai guna biomassa lokal yang tersedia di Sumatera Utara.
Inovasi tersebut diperkenalkan dengan nama SPICEFILM melalui akun media sosial @spicefilm.team. Penelitian menjadi bagian dari kegiatan PKM-RE yang didampingi Juli Novita Sari.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *