
sawitsetara.co – ACEH – Berbagai langkah dan upaya terus dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) petani, dalam hal ini petani sawit. Hal ini penting mengingat sawit bukan hanya meningkatkan penopan pendapatan negara tapi juga meningkatkan ekonomi petani.
Atas dasar itulah Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (DitjenBun) Kementerian Pertanian (Kementan) dan Universitas IPB untuk memberikan pelatihan kepada petani sawit d Aceh. Hal ini penting agar petani sawit bisa lebih berdaya saing lagi dengan dapat menerapkan budidaya secara good agriculture practices (GAP).
Pelatihan ini menjadi bagian dari Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan Kelapa Sawit 2025, Program yang rutin digelar setiap tahun itu ditujukan untuk memperkuat kompetensi petani rakyat, khususnya dalam menjaga produktivitas kebun secara berkelanjutan.
Para peserta datang dengan latar belakang beragam. Ada yang baru mulai mengelola kebun, ada pula yang sudah bertahun-tahun berkecimpung di perkebunan sawit. Meski berbeda pengalaman, mereka duduk bersama mengikuti pembelajaran yang terbagi dalam empat angkatan—XI, XII, XVIII, dan XIX. Dari total peserta, 59 orang berasal dari Aceh Tamiang, sedangkan 52 lainnya dari Aceh Timur.

Materi yang diberikan mencakup siklus budidaya sawit dari hulu hingga hilir: mulai dari persiapan benih, pengelolaan lahan, teknik penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Para instruktur tak hanya menyajikan teori, tapi juga menekankan praktik nyata yang bisa langsung diterapkan di lapangan.
Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, Cut Huzaimah, yang hadir dalam pembukaan acara, menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas petani. “Aceh memiliki potensi sawit yang besar. Tantangannya adalah bagaimana petani bisa mengelola dengan baik, produktif, dan tetap menjaga keberlanjutan,” ujarnya.
Tim trainer dari IPB Training menghadirkan para pakar berpengalaman, seperti Haryadi, Sri Hermawan, Suwardi, Sofyan Jaman, Rully Anwar, dan Abdul Rosid. Dalam paparannya, Dr. Haryadi menggarisbawahi pentingnya penerapan tujuh aspek budidaya sawit berkelanjutan.
Mulai dari legalitas lahan, peningkatan produktivitas, kesinambungan produksi, praktik ramah lingkungan (sustainability), kemampuan melacak asal produk (traceability), hingga profitabilitas yang memberi nilai tambah bagi petani. “Pelatihan ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi kesempatan bagi petani untuk memperbaiki praktik budidaya agar lebih profesional, berorientasi mutu, dan berkelanjutan,” katanya.

Agar suasana tak kaku, panitia memperkenalkan jargon penyemangat: “Siap Belajar, Siap Berkembang – SDM Kuat, Sawit Gemilang.” Slogan ini kemudian menjadi yel-yel bersama yang berkali-kali dikumandangkan peserta sepanjang pelatihan.
Selain materi di kelas, peserta mendapat kesempatan mengikuti kunjungan lapangan ke PT Agro Sinergi Nusantara (ASN) pada 11 September 2025. Rombongan disambut Dudi Sumantri, Kepala Bagian Operasional PT ASN, sebelum diajak menelusuri area pembibitan.
Di sana, para petani diperlihatkan proses seleksi bibit unggul, perawatan di pre nursery dan main nursery, hingga cara membedakan bibit bersertifikasi dan non-sertifikasi. Suasana diskusi berlangsung interaktif. Seorang peserta bahkan spontan mengangkat bibit kecil yang tampak layu, lalu bertanya penyebabnya. Instruktur menjawab sambil menjelaskan faktor teknis yang kerap luput diperhatikan, seperti kualitas tanah dan pengairan.
Petani kemudian dibawa ke kebun tanaman menghasilkan. Mereka belajar mengenali ciri buah matang siap panen, cara memanen dengan benar, hingga penanganan pascapanen. Beberapa peserta tampak antusias mencoba alat panen, sambil sesekali bercanda dengan rekannya. Diskusi makin hidup saat instruktur menunjukkan cara mengidentifikasi serangan hama dan penyakit tanaman.
“Kunjungan lapang ini bukan sekadar menambah pengetahuan, tapi memberi gambaran nyata praktik terbaik di industri,” ujar salah satu fasilitator. “Harapannya, peserta bisa membawa pulang ilmu ini untuk diterapkan di kebun masing-masing.”

Bagi sebagian peserta, pengalaman lima hari ini terasa berharga. Ismail, petani asal Aceh Timur, mengaku baru memahami pentingnya penggunaan bibit bersertifikasi. “Selama ini kami asal tanam saja. Sekarang tahu bedanya bibit bagus dan tidak. Kalau salah dari awal, hasilnya bisa rugi terus,” katanya.
Sementara Nurhayati, peserta perempuan dari Aceh Tamiang, merasa terbantu dengan penjelasan tentang pengendalian hama terpadu. “Saya jadi tahu cara mengurangi penggunaan pestisida dengan metode yang lebih ramah lingkungan,” ujarnya.
Antusiasme itu menjadi catatan penting bagi penyelenggara. Bagi pemerintah, pelatihan ini bukan sekadar seremonial, melainkan investasi jangka panjang dalam membangun sumber daya manusia perkebunan.
Sawit masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi Indonesia. Namun, sektor ini juga menghadapi tantangan global: isu lingkungan, persaingan pasar, hingga tuntutan praktik berkelanjutan. Di sinilah pentingnya membekali petani dengan keterampilan yang relevan.
Program pelatihan di Aceh menjadi bagian dari upaya memperkuat petani di daerah agar tidak tertinggal. Dengan bekal pengetahuan baru, mereka diharapkan bisa mengelola kebun lebih efisien, mandiri, dan sesuai standar keberlanjutan yang diakui dunia.
“Petani adalah ujung tombak industri sawit. Jika mereka kuat, maka sawit Indonesia juga akan kuat,” kata Mula Putra, perwakilan Ditjenbun.
Pelatihan ditutup dengan semangat optimistis. Peserta sepakat membawa pulang ilmu baru untuk diterapkan di kebun masing-masing. Mereka percaya, dengan pengetahuan yang lebih baik, produktivitas kebun bisa meningkat tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan.
Pada akhirnya, program ini bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan ikhtiar bersama menyiapkan petani sawit Aceh menghadapi masa depan industri yang kian kompetitif. Dengan SDM yang kuat, sawit Indonesia diharapkan tetap gemilang di kancah global.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *