KONSULTASI
Logo

BPDP Minta Kampus Penyelenggara Beasiswa Sawit Tingkatkan Kompetensi Dosen dan Kurikulum

6 November 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
BPDP Minta Kampus Penyelenggara Beasiswa Sawit Tingkatkan Kompetensi Dosen dan Kurikulum

sawitsetara.co – JAKARTA — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) meminta perguruan tinggi penyelenggara program beasiswa SDM Sawit memperkuat kompetensi tenaga pengajar dan menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan industri kelapa sawit. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan perguruan tinggi mampu menghasilkan lulusan yang kompeten dan siap bersaing di dunia kerja.

Perwakilan Ketua Komite Pengembangan SDM Perkebunan BPDP, Dr. Sri Gunawan, menegaskan peningkatan kualitas alumni harus dimulai dari kesiapan institusi pendidikan yang menyelenggarakan program beasiswa.

“Selalu kami sampaikan di Komite, sebelum mahasiswa beasiswa SDM Sawit kompeten, perguruan tinggi harus kompeten dulu,” kata Sri Gunawan dalam kegiatan Sosialisasi Seleksi Lembaga Penyelenggara Program Pengembangan SDM Perkebunan Tahun 2027 di Hotel Movenpick City Centre, Jakarta, Jumat (6/11/2026).

Menurut dia, perguruan tinggi perlu memahami kebutuhan industri kelapa sawit. Salah satu caranya melalui penguatan kelas kompetensi, penyesuaian kurikulum, dan program magang di perusahaan perkebunan.

Ia juga mendorong dosen memperoleh pengalaman langsung di lingkungan industri. Dengan demikian, tenaga pengajar memiliki pemahaman mengenai kebutuhan perusahaan dan kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa.

“Bagaimana caranya? Ya harus belajar kaitannya dengan industri kelapa sawit, atau melalui setting kelas kompetensi, atau magang di industri. Harapan kami dosen-dosen itu bisa belajar di industri, minimal satu bulan atau dua bulan. Itu akan bagus sekali,” ujarnya.

tamplate

Selain kompetensi dosen, BPDP meminta perguruan tinggi memperhatikan sarana dan prasarana pendukung pendidikan. Fasilitas praktik yang berkaitan dengan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu aspek yang perlu dipersiapkan. Sri Gunawan mengingatkan bahwa kampus yang sebelumnya telah memperoleh program beasiswa tidak otomatis kembali mendapatkan kesempatan pada tahun berikutnya.

Penilaian akan mempertimbangkan kesungguhan perguruan tinggi, kualitas presentasi, serta berbagai upaya yang dilakukan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan. “Bukan berarti kampus-kampus yang sudah eksisting mendapatkan beasiswa, tahun depan akan dapat beasiswa lagi. Tergantung kesungguhan Bapak-Ibu, kemudian presentasinya, dan juga upaya-upaya yang dilakukan,” katanya.

RPS Berbasis SKKNI Harus Diterapkan

Dalam seleksi lembaga penyelenggara program SDM Perkebunan 2027, BPDP juga menekankan pentingnya kelengkapan administrasi dan substansi proposal. Perguruan tinggi diminta menjelaskan relevansi program studi secara terperinci. Penjelasan tersebut diperlukan agar kesesuaian bidang pendidikan dengan kebutuhan industri dapat dinilai secara jelas.

Selain itu, kurikulum harus dilengkapi Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI). Sri Gunawan menegaskan penyusunan kurikulum tidak boleh sekadar memenuhi persyaratan administrasi. Standar kompetensi tersebut harus benar-benar diterapkan dalam kegiatan pembelajaran.

“Kurikulum yang memiliki RPS berbasis SKKNI ini tolong betul-betul disempurnakan, yang betul-betul diimplementasikan di dalam pembelajaran. Mestinya sesuai dengan okupasi atau klasternya di kelapa sawit. Karena ada kampus yang sertifikasi kompetensinya asal sertifikasi kompetensi, dan itu yang tidak pas,” ujarnya.

Ia meminta perguruan tinggi memastikan program studi dan sertifikasi kompetensi yang disiapkan sesuai dengan kebutuhan pekerjaan di industri perkebunan. Dengan begitu, mahasiswa tidak hanya memperoleh sertifikat, tetapi juga memiliki keterampilan yang relevan dengan bidang pekerjaan yang akan dimasuki.

tamplate

Proposal Ditargetkan Selesai Sebelum 9 November

Sri Gunawan juga meminta calon lembaga penyelenggara memperhatikan perubahan mekanisme seleksi tahun ini. Proses pengajuan proposal menggunakan aplikasi yang telah ditentukan BPDP. Ia mengimbau perguruan tinggi menyiapkan proposal terbaik agar proses pemeriksaan dan evaluasi dapat berjalan lebih cepat.

“Sekali lagi saya berterima kasih kepada Bapak-Ibu, terutama lembaga yang akan bergabung di BPDP ini. Saya persilakan untuk menyiapkan proposal yang terbaik sehingga nanti kami bisa mengoreksi proposal Bapak-Ibu dengan cepat dan bagus,” katanya.

BPDP berharap proses seleksi dapat berjalan lebih cepat sehingga kegiatan pendidikan tidak mengalami keterlambatan. “Harapannya 1 Agustus 2027 targetnya sudah mulai kuliah. Cita-citanya seperti itu. Tidak molor lagi, tetapi dipercepat. Semoga nanti 1 Agustus itu bisa kuliah sehingga yang negeri tidak ketinggalan,” ujar Sri Gunawan.

Melalui peningkatan kompetensi kampus, dosen, dan kurikulum, BPDP berharap penyelenggara program beasiswa SDM Sawit mampu mencetak lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia usaha dan dunia industri perkebunan.

Tags:

Beasiswa Sawit

Berita Sebelumnya
LAM Riau: Sawit Jadi Penopang Ekonomi Masyarakat dan Masa Depan Energi Terbarukan

LAM Riau: Sawit Jadi Penopang Ekonomi Masyarakat dan Masa Depan Energi Terbarukan

Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau menegaskan kelapa sawit telah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat dan masa depan perekonomian Provinsi Riau. Komoditas perkebunan tersebut tidak hanya memberikan kontribusi ekonomi, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional melalui pengembangan energi terbarukan.

5 November 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *