
sawitsetara.co - Siapa sangka limbah tandan kosong kelapa sawit (TKKS) yang selama ini hanya menumpuk di sekitar pabrik dapat diubah menjadi material bangunan bernilai tinggi. Melalui riset yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), limbah sawit kini berhasil dikembangkan menjadi plafon biokomposit yang lebih kuat, lebih ringan, sekaligus lebih murah dibandingkan berbagai plafon konvensional.
Inovasi tersebut dipresentasikan dalam Pekan Riset Sawit Indonesia 2026. Presenter hibah riset BPDP, Ahmad, menjelaskan penelitian berawal dari besarnya potensi limbah tandan kosong kelapa sawit di wilayah Luwu, Luwu Timur, dan Luwu Utara, Sulawesi Selatan, yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
“Sebagian memang dimanfaatkan sebagai kompos, tetapi jumlah limbah yang tersisa masih sangat besar. Kami melihat ini sebagai peluang untuk menghasilkan produk bernilai tambah yang lebih tinggi,” ujar Ahmad, Senin (20/7/2026).
Selama ini, tandan kosong kelapa sawit umumnya hanya dimanfaatkan sebagai bahan kompos sehingga nilai ekonominya relatif rendah. Melalui penelitian tersebut, limbah sawit diolah menjadi material biokomposit dengan memanfaatkan serat tandan kosong sebagai bahan penguat yang dipadukan dengan serat kaca (glass fiber) dan resin poliester.
Penggunaan serat kaca bertujuan meningkatkan ketahanan material terhadap air, mengingat serat tandan kosong sawit secara alami memiliki daya serap air yang cukup tinggi. Sebelum diproses, serat sawit dibersihkan menggunakan larutan natrium hidroksida (NaOH) untuk menghilangkan minyak dan kotoran sehingga mampu berikatan lebih baik dengan resin.
Material kemudian diproduksi menggunakan metode press molding, yang menghasilkan kualitas lebih baik dibandingkan metode Vacuum Assisted Resin Infusion (VARI).
Untuk memastikan kualitasnya, plafon biokomposit tersebut menjalani berbagai pengujian, mulai dari uji tarik, uji lentur, uji impak, hingga analisis struktur menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) dan Energy Dispersive Spectroscopy (EDS).
Hasilnya menunjukkan performa yang menjanjikan. Plafon berbahan tandan kosong kelapa sawit memiliki kekuatan tarik, kekuatan lentur, serta ketahanan benturan yang lebih baik dibandingkan plafon berbahan asbes, gipsum, tripleks, maupun PVC. Analisis SEM dan EDS juga memperlihatkan struktur material yang homogen dengan ikatan serat dan resin yang kuat sehingga menghasilkan komposit yang lebih stabil.
Tak hanya unggul dari sisi teknis, inovasi ini juga menawarkan keunggulan ekonomi. Berdasarkan perhitungan biaya produksi skala industri, harga pokok produksi plafon diperkirakan hanya berkisar Rp9.500 hingga Rp17.000 per lembar, sedangkan harga jualnya diproyeksikan sekitar Rp20.000 hingga Rp30.000 per lembar, lebih kompetitif dibandingkan sejumlah plafon konvensional yang beredar di pasaran.
Menurut Ahmad, biaya produksi masih berpotensi ditekan apabila industri plafon dibangun di sekitar kawasan pabrik kelapa sawit karena bahan bakunya tersedia dalam jumlah melimpah.
“Kalau pabrik plafon dibangun di wilayah yang dekat dengan pabrik kelapa sawit, biaya produksinya bisa lebih murah lagi karena bahan bakunya sangat melimpah,” katanya.
Selain lebih ekonomis, plafon berbasis limbah sawit juga memiliki berbagai keunggulan lain, di antaranya berbobot ringan, tahan terhadap serangan rayap, serta lebih ramah lingkungan karena memanfaatkan limbah perkebunan yang sebelumnya kurang bernilai.
Pengembangan inovasi ini menjadi bukti bahwa limbah kelapa sawit tidak lagi dipandang sebagai sisa produksi semata, melainkan sebagai sumber bahan baku industri masa depan yang mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat ekonomi sirkular, sekaligus mendukung pengembangan material bangunan berkelanjutan di Indonesia.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *