KONSULTASI
Logo

APKASINDO: B50 Berpotensi Dongkrak Harga TBS Petani hingga Rp300 per Kilogram

29 Juni 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
APKASINDO: B50 Berpotensi Dongkrak Harga TBS Petani hingga Rp300 per Kilogram
HOT NEWS

sawitsetara.co - PEKANBARU - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyambut optimistis peluncuran program mandatori biodiesel B50 yang akan diresmikan pemerintah pada 1 Juli 2026. Bagi petani sawit, kebijakan ini diyakini tidak hanya menjadi tonggak sejarah baru bagi Indonesia dalam pengembangan energi terbarukan, tetapi juga berpotensi meningkatkan harga tandan buah segar (TBS) dan kesejahteraan petani sawit di seluruh Indonesia.

Ketua Umum DPP APKASINDO, Dr. Ir. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO., mengatakan Indonesia akan menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan campuran biodiesel hingga 50 persen berbahan baku minyak sawit. Menurutnya, keberhasilan program tersebut harus diukur bukan sekadar dari keberhasilan mencampurkan 50 persen biodiesel ke dalam solar, tetapi sejauh mana kebijakan itu mampu memberikan manfaat nyata bagi petani sawit sebagai produsen bahan bakunya.

“Di tengah ketidakpastian geopolitik global dan ancaman krisis energi dunia, B50 menjadi harapan besar menuju kemandirian energi nasional. Namun yang paling penting, program ini harus memberikan manfaat langsung kepada petani sawit,” ujarnya.

Gulat menjelaskan, secara teori implementasi B50 akan menyerap sekitar 19 juta ton minyak sawit atau sekitar 35 persen dari total produksi CPO Indonesia. Dibandingkan program B40, penerapan B50 diperkirakan menambah kebutuhan sekitar 5 juta ton CPO. Bertambahnya permintaan tersebut diprediksi akan mengurangi stok minyak sawit dunia sehingga mendorong kenaikan harga CPO di pasar domestik maupun global.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut perhitungannya, harga CPO domestik berpotensi naik sekitar Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram dalam waktu sekitar satu bulan setelah implementasi B50. Bahkan pada akhir Juli 2026, harga CPO domestik diperkirakan dapat mencapai kisaran Rp16.500 per kilogram.

Kenaikan harga CPO tersebut diyakini akan berdampak langsung terhadap harga TBS petani. Berdasarkan rumus umum industri sawit, setiap kenaikan Rp1.000 harga CPO akan meningkatkan harga TBS sekitar Rp300 per kilogram. Dengan asumsi seluruh faktor pendukung berjalan normal, harga TBS petani swadaya di Sumatera yang saat ini berada pada kisaran Rp3.250 hingga Rp3.300 per kilogram diperkirakan dapat meningkat menjadi sekitar Rp3.600 per kilogram pada akhir Juli. Sementara di Indonesia Timur, harga TBS diproyeksikan naik dari sekitar Rp2.800 menjadi Rp3.100 per kilogram.

Meski demikian, Gulat mengingatkan proyeksi tersebut bergantung pada sejumlah faktor, antara lain kelancaran implementasi B50, tidak adanya gangguan teknis pada mesin diesel, serta kondisi pasar minyak nabati dunia yang tetap stabil.

“Bila seluruh syarat tersebut terpenuhi, maka manfaat ekonomi dari B50 benar-benar akan dirasakan oleh petani sawit melalui kenaikan harga TBS,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan B50 akan membuktikan bahwa sawit Indonesia tidak hanya menjadi komoditas ekspor, tetapi juga berperan strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan jutaan petani sawit rakyat.

Tags:

APKASINDOB50

Berita Sebelumnya
Rektor IKOPIN University Sebut Dualisme Ekonomi Kolonial Masih Membelenggu Sawit Indonesia

Rektor IKOPIN University Sebut Dualisme Ekonomi Kolonial Masih Membelenggu Sawit Indonesia

Ekonom koperasi sekaligus Rektor UKOPIN University Prof. Agus Pakpahan menilai struktur ekonomi yang membelenggu petani kelapa sawit Indonesia hingga kini masih mewarisi pola dualisme ekonomi yang diperkenalkan ekonom Belanda Julius Herman Boeke pada masa kolonial.

28 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *