
sawitsetara.co - PENAJAM PASER UTARA — Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyoroti dua ancaman besar bagi keberlanjutan perkebunan sawit rakyat, yakni serangan penyakit Ganoderma dan anjloknya harga tandan buah segar (TBS) petani.
Isu ini mengemuka dalam Workshop Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit yang digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur, Sabtu (30/5/2026).
Salah satu sponsor kegiatan ini adalah badan pengelola dana perkebunan dan di dihadiri pengurus DPP dan DPW APKASINDO, petani sawit, pemerintah daerah, serta sejumlah narasumber dari pemerintah pusat.
Dalam sambutannya, ketua umum dpp apkasindo Dr. Gulat ME Manurung, MP. C. IMA. C. APO mengajak organisasi petani sawit menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan industri sawit nasional. Menurutnya, perbedaan organisasi tidak boleh menghalangi perjuangan bersama untuk membela kepentingan petani sawit Indonesia.
Ia menyebut APKASINDO telah terkonsolidasi di 24 provinsi dan 164 kabupaten/kota dengan sekitar 2,4 juta anggota. Karena itu, sinergi organisasi petani dan Pemda dinilai penting untuk meningkatkan produktifitas kebun dan menjaga keberlanjutan sektor sawit sebagai penggerak ekonomi rakyat.
Ganoderma Disebut “Pembunuh Berdarah Dingin”
Selain membahas kelembagaan, Dr. Gulat memberi perhatian khusus terhadap penyebaran penyakit Ganoderma yang mulai mengancam kebun sawit rakyat.
Menurutnya, Ganoderma sangat berbahaya karena serangannya sering tidak disadari petani. Berbeda dengan kumbang tanduk yang mudah terlihat, penyakit ini menyerang akar dan batang hingga menyebabkan tanaman mati perlahan.
“Ganoderma ini pembunuh berdarah dingin. Tidak tampak seperti hama lainnya, tetapi bisa membuat tanaman layu dan mati dalam waktu relatif singkat,” kata Dr. Gulat.
Peringatan itu dinilai penting karena sejumlah sentra sawit di Kalimantan Timur mulai melaporkan peningkatan serangan Ganoderma.
Harga TBS Jatuh Akibat Macetnya Tender KPBN
Dalam kesempatan itu, Dr. Gulat juga menjelaskan analisis APKASINDO mengenai penyebab merosotnya harga TBS petani dalam beberapa pekan terakhir.
Menurutnya, persoalan utama berasal dari tidak berjalannya tender harian minyak sawit mentah (CPO) di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN). Ketika tender berulang kali mengalami withdrawal atau gagal bertransaksi, pasar kehilangan acuan harga bagi pelaku usaha dan petani.
“Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat. Tanpa referensi harga yang jelas, pabrik kelapa sawit (PKS) komersial memiliki ruang lebih besar menentukan harga pembelian TBS,” papar Dr. Gulat.
Sementara itu, petani plasma yang hanya sekitar 7 persen masih terlindungi melalui mekanisme penetapan harga oleh dinas perkebunan. Namun mereka tetap terdampak karena formula harga mengacu pada tren CPO periode sebelumnya yang sudah turun.
Karena itu, APKASINDO mendesak pemerintah mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia dan memastikan tender KPBN berjalan normal agar tercipta transparansi harga yang adil.
Dukung Pencabutan Izin PKS Nakal
Dr. Gulat mengatakan APKASINDO terus melakukan advokasi kepada Kementerian Pertanian, termasuk berkomunikasi langsung dengan Wakil Menteri Pertanian, untuk memperjuangkan perlindungan harga TBS petani.
Ia menegaskan organisasi petani mendukung langkah pemerintah mengawasi secara ketat PKS yang membeli TBS di bawah harga kewajaran.
“Perusahaan yang sengaja menekan harga dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan harus ditindak tegas. Langkah yang dapat ditempuh mulai dari pembentukan satgas hingga pencabutan izin usaha,” kata dia.
APKASINDO juga mendukung hilirisasi sawit melalui pemanfaatan minyak sawit asam tinggi menjadi bahan baku biodiesel (fatty acid methyl ester/FAME) maupun bahan bakar penerbangan guna meningkatkan serapan domestik dan nilai tambah sawit nasional.
APKASINDO Kaltim: Harga TBS Sempat Terjun ke Rp1.200 per Kilogram
Sementara itu, Ketua DPW APKASINDO Kalimantan Timur Ir. Betman Siahaan mengatakan Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Paser menjadi wilayah yang paling terdampak serangan Ganoderma dan kumbang tanduk.
“Banyak petani belum memahami gejala Ganoderma. Tidak sedikit yang mengira tanaman mati akibat tersambar petir, padahal penyebabnya adalah infeksi jamur pada akar dan batang,” kata dia.
Betman juga menyoroti anjloknya harga TBS di Kalimantan Timur yang disebut sebagai penurunan paling tajam di Indonesia. Berdasarkan hasil rapat nasional APKASINDO, harga TBS yang sebelumnya sekitar Rp3.000 per kilogram sempat turun hingga Rp1.200 per kilogram.
Pada harga tersebut, sebagian besar pendapatan petani habis untuk biaya panen dan transportasi yang mencapai sekitar Rp1.000 per kilogram. Akibatnya, keuntungan bersih petani hanya sekitar Rp200 per kilogram sehingga banyak yang memilih menunda panen.
“Kondisi ini juga merugikan pelaku usaha pengumpul atau RAM karena stok sawit menumpuk saat harga turun mendadak. Sejumlah pelaku usaha bahkan disebut merugi hingga ratusan juta rupiah hanya dalam sepekan,” tambahnya.
APKASINDO Kaltim menduga sejumlah PKS sengaja membatasi pembelian melalui sistem kuota meski harga CPO tidak turun signifikan. Karena itu, organisasi tersebut mendesak penerapan satu harga TBS secara nasional dan percepatan pembentukan BUMN pengiriman CPO untuk mengurangi praktik monopoli tata niaga sawit.
Dalam forum tersebut, APKASINDO juga menyinggung keberadaan PKS tanpa kebun atau PKS komersial di Penajam Paser Utara. Dari delapan PKS yang beroperasi, dua menggunakan pola inti-plasma, sedangkan enam lainnya merupakan PKS komersial.
Berdasarkan jajak pendapat dalam forum, sekitar 90 persen petani mendukung keberadaan PKS komersial karena dinilai penting dalam menyerap hasil panen petani swadaya. Kehadiran PKS komersial juga dianggap menjaga persaingan pasar dan memperluas pilihan penjualan TBS.
Sementara itu, sambutan Bupati Penajam Paser Utara H. Mudyat Noor, S.Hut., yang dibacakan perwakilan pemerintah daerah menegaskan bahwa sektor perkebunan sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, penyerapan tenaga kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
“Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara mengapresiasi inisiatif DPP APKASINDO menyelenggarakan workshop tersebut karena dinilai mendukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia petani sawit,” kata Mudyat.
Menurut pemerintah daerah, serangan Ganoderma dan kumbang tanduk merupakan tantangan nyata yang dapat menurunkan produktivitas serta mengancam keberlanjutan perkebunan rakyat. Karena itu, petani diharapkan memanfaatkan kegiatan tersebut untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengendalian hama serta penyakit tanaman.
Pemkab PPU juga menegaskan komitmennya memperkuat sektor pertanian dan perkebunan melalui peningkatan kualitas SDM, penguatan kelembagaan petani, serta penerapan praktik perkebunan yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *