
sawitsetara.co - JAKARTA – Potensi biomassa dari perkebunan kelapa sawit Indonesia dinilai masih jauh dari optimal, padahal pemanfaatannya melalui konsep ekonomi sirkular dapat meningkatkan nilai tambah hingga delapan sampai sembilan kali lipat sekaligus memperkuat daya saing industri sawit nasional.
Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Hariyadi mengatakan Indonesia saat ini memiliki areal perkebunan kelapa sawit seluas 16,83 juta hektare. Luasan tersebut menghasilkan potensi biomassa sekitar 261,7 juta ton bahan kering setiap tahun, menjadikan Indonesia sebagai produsen biomassa sawit terbesar di dunia.
“Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit di Indonesia sangat spektakuler, saat ini tercatat mencapai 16,83 juta hektare. Oleh karena itu, pengelolaan kelapa sawit harus dilakukan secara berkelanjutan,” kata Hariyadi dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (18/7/2026).
Menurut dia, biomassa sawit mencakup pelepah dan batang kelapa sawit, tandan kosong kelapa sawit (TKKS), cangkang dan serat sawit, hingga limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME). Seluruh komponen tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi melalui penerapan ekonomi sirkular.
Hariyadi menjelaskan pemanfaatan biomassa sawit berpotensi memberikan nilai tambah delapan hingga sembilan kali lipat. Biomassa dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku kompos dan pupuk organik, bahan bakar pembangkit listrik berbasis biomassa, hingga bahan campuran semen dan material konstruksi.

Dengan potensi produksi mencapai 261,7 juta ton per tahun, biomassa sawit juga dinilai mampu menjadi salah satu penopang pengembangan energi terbarukan nasional.
“Pemanfaatan biomassa sawit tersebut tidak hanya mendukung ketahanan energi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru di sektor industri hilir,” ujarnya.
Ia menambahkan, manfaat ekonomi yang dihasilkan tidak hanya berasal dari produk turunannya, tetapi juga dari berkembangnya industri hilir di sekitar sentra perkebunan, industri bahan bangunan berbasis serat alam, penyediaan energi terbarukan yang dapat dipasarkan ke jaringan listrik maupun sektor industri, hingga pengurangan emisi metana yang berpotensi menghasilkan kredit karbon.
“Oleh karena itu optimalisasi limbah kelapa sawit akan memberikan nilai ekonomi baru,” ujar Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Perkebunan (Alpenbun) itu.
Meski demikian, Hariyadi mengingatkan penerapan ekonomi sirkular di industri sawit masih menghadapi sejumlah kendala. Tantangan tersebut meliputi tingginya kebutuhan investasi awal, keterbatasan teknologi pengolahan limbah, biaya logistik dan distribusi yang masih tinggi, lemahnya pasar produk turunan, serta regulasi dan insentif yang belum sepenuhnya mendukung.
Untuk mempercepat penerapan ekonomi sirkular, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) disebut terus mendorong hilirisasi, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mendukung penelitian dan pengembangan teknologi pemanfaatan biomassa sawit.
Pengajar sekaligus peneliti Pusat Studi Sawit IPB University, Siti Nikmatin, menilai dukungan BPDP menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan inovasi ekonomi sirkular di sektor kelapa sawit.
“Produk turunan berbahan dasar limbah kelapa sawit bisa mendukung kelestarian lingkungan sekaligus menciptakan nilai ekonomi,” kata Nikmatin.
Ia menambahkan penerapan ekonomi sirkular tidak hanya berdampak pada aspek ekonomi dan lingkungan, tetapi juga memberi manfaat sosial melalui pelibatan masyarakat di sekitar perkebunan maupun pabrik kelapa sawit dalam pengolahan limbah menjadi produk bernilai tambah.
“Sudah ada bukti nyata bahwa BPDP mendukung penelitian inovatif untuk kemajuan sawit di Indonesia,” ujar Nikmatin.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *