
sawitsetara.co - JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah pada September-November 2026. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pelaku perkebunan, terutama di wilayah sentra kelapa sawit.
Dalam Buletin Informasi Iklim Perkebunan Komoditas Sawit edisi Agustus 2026, BMKG menyebut kondisi curah hujan Indonesia secara umum berada pada kategori rendah hingga menengah selama periode September-November 2026.
Pada September 2026, sekitar 75,05% wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah dengan kisaran 1-100 milimeter per bulan. Sementara itu, 23,14% wilayah diperkirakan mengalami curah hujan kategori menengah, sedangkan 1,81% wilayah diprediksi mengalami curah hujan kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Memasuki Oktober, wilayah dengan curah hujan kategori rendah diperkirakan mencapai 44,24%. Sebanyak 49,92% wilayah diprediksi berada pada kategori menengah, sementara 5,83% wilayah mengalami curah hujan kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Pada November 2026, pola curah hujan diperkirakan semakin bergeser ke kategori menengah. BMKG memprediksi 17,04% wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori rendah, 69,42% kategori menengah, dan 13,53% kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Berpotensi Pengaruhi Pertumbuhan Sawit
Khusus wilayah sentra kelapa sawit, BMKG memprediksi curah hujan umumnya berada pada kategori rendah hingga menengah selama September-November 2026.
Curah hujan kategori rendah, yakni kurang dari 100 milimeter per bulan, berpotensi menyebabkan pertumbuhan tanaman kelapa sawit tidak optimal di sejumlah wilayah.
Wilayah yang perlu mendapat perhatian antara lain sebagian Jambi, bagian selatan Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Kondisi curah hujan yang rendah dapat memengaruhi ketersediaan air bagi tanaman, terutama apabila berlangsung dalam periode yang cukup panjang. Karena itu, informasi prakiraan iklim perlu menjadi pertimbangan dalam pengelolaan perkebunan dan penentuan langkah mitigasi di lapangan.
BMKG juga mengingatkan bahwa kondisi iklim dapat memengaruhi berbagai tahapan produksi kelapa sawit. Pemantauan curah hujan secara berkala menjadi penting bagi pekebun untuk menyesuaikan kegiatan pemeliharaan tanaman dengan kondisi cuaca yang berkembang.
Dengan adanya prakiraan untuk periode tiga bulan tersebut, pelaku usaha dan pekebun sawit dapat melakukan antisipasi lebih awal terhadap potensi kekurangan air, khususnya di wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan rendah.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *