KONSULTASI
Logo

BRIN Petakan Hilirisasi Sawit, dari Produk Turunan hingga Bahan Bakar Pesawat

9 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
BRIN Petakan Hilirisasi Sawit, dari Produk Turunan hingga Bahan Bakar Pesawat

sawitsetara.co - JAKARTA — Industri kelapa sawit Indonesia didorong untuk tidak lagi bergantung pada penjualan bahan mentah. Pengembangan produk turunan, pemanfaatan limbah, hingga produksi bahan bakar penerbangan berkelanjutan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF) menjadi bagian dari arah baru industri sawit nasional.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah memetakan rantai nilai, hilirisasi, dan arah investasi strategis industri sawit berdasarkan kebutuhan industri. Pemetaan itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemetaan Rantai Nilai, Hilirisasi, dan Arah Investasi Strategis Industri Kelapa Sawit Indonesia” yang digelar Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) B.J. Habibie, Serpong, Kamis (3/9/2026).

FGD tersebut mempertemukan BRIN dengan asosiasi petani, pelaku industri, dan badan usaha milik negara. Pembahasan mencakup persoalan dari hulu hingga hilir, mulai dari perkebunan rakyat, produktivitas, produk turunan, pemanfaatan limbah dan biomassa, hingga peluang sawit sebagai bahan baku energi berkelanjutan.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, mengatakan forum tersebut diperlukan untuk mendapatkan gambaran empiris mengenai pemanfaatan hasil riset dan inovasi di industri nasional.

“Kami ingin menjalankan konsolidasi langsung dengan pelaku industri dan pengusaha, apakah dalam aktivitas mereka saat ini masih memakai hasil-hasil riset dan inovasi yang telah dikembangkan,” ujar Nugroho.

Menurut Nugroho, masukan dari pelaku industri akan menjadi referensi dalam pengembangan dashboard nasional Nusantara Analytic for Valuation, Innovation, Growth and Sovereign Industries (NAVIGASI). BRIN menyiapkan dashboard itu untuk mengukur pemanfaatan hasil riset, inovasi, dan hilirisasi dalam sistem industri nasional.

Data tersebut diharapkan menjadi salah satu dasar pengambilan kebijakan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.

DPP

Produktivitas Sawit Rakyat

Persoalan di sektor hulu juga menjadi perhatian dalam pemetaan tersebut. Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Gulat Manurung, mengatakan perkebunan rakyat masih menghadapi persoalan produktivitas dan kepastian legalitas lahan.

Ia menyebut produktivitas sawit rakyat saat ini berada di kisaran 1,7-2 ton CPO per hektare per tahun. Angka itu masih dapat ditingkatkan melalui Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Menurut Gulat, produktivitas sawit rakyat berpotensi mencapai 3-6 ton CPO per hektare per tahun setelah peremajaan berjalan optimal.

“Kalau itu berhasil, sawit rakyat akan menjadi penopang ketahanan energi dan pangan Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, Gulat menilai keberhasilan replanting tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan program. Kepastian legalitas lahan dan pembenahan tata kelola perkebunan rakyat juga menjadi faktor penting.

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumatra Utara, Timbas Prasyad Ginting, meminta arah riset lebih dekat dengan kebutuhan industri. Ia menilai penelitian tidak cukup hanya menghasilkan inovasi, tetapi harus menjawab persoalan yang dihadapi pelaku usaha.

“Ke depan, riset harus bertanya kepada industri, apa yang dibutuhkan untuk diteliti,” ujarnya.

Timbas juga mendorong penyusunan peta jalan industri sawit dalam jangka panjang. Menurut dia, teknologi seperti citra satelit, drone, dan smart plantation dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan data perkebunan yang lebih akurat.

DPP

Hilirisasi Jadi Sumber Nilai Tambah

Di sektor hilir, PT Perkebunan Nusantara IV atau PalmCo melihat ruang pertumbuhan yang masih besar. Kepala Divisi Project Management Office Downstream PalmCo, Muhammad Ansori Nasution, mengatakan bisnis sawit selama ini masih lebih kuat di sektor hulu.

Padahal, nilai tambah terbesar berada di sektor hilir. Karena itu, PalmCo mendorong keseimbangan antara pengembangan bisnis hulu dan hilir hingga 2029.

Produk yang dikembangkan mencakup minyak goreng, margarin, biodiesel, hingga produk berbasis cocoa butter substitute.

PalmCo juga mulai mengubah cara pandang terhadap limbah sawit. Limbah dan biomassa diarahkan menjadi bahan baku produk bernilai ekonomi, antara lain biogas, compressed biogas (CBG), syngas, dan biochar.

“Limbah sawit bukan lagi menjadi beban, tetapi sumber energi baru yang dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus menopang target dekarbonisasi,” ungkap Ansori.

Pemanfaatan residu sawit juga membuka peluang baru di sektor penerbangan. Salah satu yang dibahas dalam FGD adalah pengembangan Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbasis produk dan residu sawit.

Lead Specialist Bioenergy and Biofuel PT Pertamina (Persero) Subholding Downstream, Sahkundiyar, mengatakan penerbangan termasuk sektor yang sulit melakukan pengurangan emisi. Karena itu, SAF menjadi salah satu pilihan penting dalam agenda dekarbonisasi.

Pertamina saat ini telah memproduksi SAF secara komersial di Kilang Cilacap dengan menggunakan used cooking oil (UCO). Pengembangan bahan baku kemudian diarahkan pada sumber lain berbasis sawit, termasuk Palm Oil Mill Effluent (POME) dan produk samping sawit.

Indonesia memiliki peluang besar masuk dalam rantai pasok SAF global karena memiliki biomassa sawit dalam jumlah besar. Namun, peluang tersebut menuntut penerapan standar keberlanjutan internasional di seluruh rantai pasok.

Dengan demikian, pengembangan industri sawit tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi. Rantai nilai dari perkebunan hingga produk hilir perlu dibangun agar sawit menghasilkan nilai tambah lebih besar sekaligus mendukung ketahanan pangan, energi, dan agenda dekarbonisasi.

Tags:

HilirisasiHilirisasi Sawit

Berita Sebelumnya
Harga TBS Sawit Swadaya Riau Naik, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.943 per Kg

Harga TBS Sawit Swadaya Riau Naik, Umur 9 Tahun Jadi Rp3.943 per Kg

Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya di Provinsi Riau mengalami kenaikan pada periode 9–15 September 2026. Harga tertinggi ditetapkan untuk tanaman umur 9 tahun.

8 September 2026Harga TBS

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *