KONSULTASI
Logo

Data GAPKI Ungkap Karhutla Tak Semata Soal Sawit, Kebakaran Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia

31 Agustus 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Data GAPKI Ungkap Karhutla Tak Semata Soal Sawit, Kebakaran Terjadi di Berbagai Wilayah Indonesia

sawitsetara.co - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menjadi salah satu persoalan lingkungan yang berulang di Indonesia. Fenomena ini tidak hanya terjadi di wilayah perkebunan kelapa sawit, tetapi tersebar di berbagai provinsi dengan karakteristik wilayah dan vegetasi yang berbeda.

Publikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang menghimpun data historis Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) periode 2010–2022 menunjukkan bahwa kejadian Karhutla merupakan fenomena berskala nasional.

Data tersebut memperlihatkan hampir seluruh provinsi di Indonesia pernah mencatat kejadian kebakaran dengan luasan yang bervariasi.

Sejumlah provinsi yang dikenal sebagai sentra perkebunan kelapa sawit, seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Riau, dan Kalimantan Barat, memang mencatat luasan kebakaran relatif besar.

Namun, Karhutla juga terjadi di sejumlah daerah yang bukan merupakan sentra utama perkebunan sawit. Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat turut mencatat kejadian kebakaran dengan luasan yang signifikan.

Fakta tersebut menunjukkan bahwa keberadaan perkebunan kelapa sawit tidak dapat dipandang sebagai satu-satunya faktor yang menentukan terjadinya Karhutla di Indonesia.

Menariknya, sejumlah provinsi yang memiliki perkebunan kelapa sawit justru mencatat luasan kebakaran relatif lebih rendah. Aceh, Sumatera Barat, dan Bengkulu menjadi contoh wilayah yang menunjukkan variasi tersebut.

DPP

Analisis Global Forest Watch mencatat sekitar 61 persen area terbakar pada 2019 berada di luar kawasan gambut. Artinya, kebakaran tidak hanya berkaitan dengan karakteristik lahan gambut yang selama ini kerap menjadi perhatian dalam pembahasan Karhutla.

Kajian berbasis citra satelit juga menunjukkan bahwa pada 2015 sekitar 86 persen titik api berada di luar konsesi perkebunan kelapa sawit.

Angka tersebut meningkat pada 2019, ketika sekitar 89 persen titik api tercatat berada di luar konsesi sawit. Sebagian besar titik api tersebut ditemukan pada kawasan hutan maupun konsesi kehutanan.

Data ini memperlihatkan bahwa persoalan Karhutla memiliki spektrum yang jauh lebih luas dan melibatkan berbagai tipe penggunaan serta tutupan lahan.

Dengan demikian, upaya penanganan Karhutla membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berfokus pada satu komoditas atau sektor, tetapi melihat keseluruhan bentang alam dan faktor pemicunya.

Di sisi lain, perkebunan kelapa sawit bukan berarti terbebas dari dampak Karhutla. Kebakaran dan asap justru dapat menimbulkan kerugian bagi sektor perkebunan.

Paparan asap dan kondisi lingkungan akibat kebakaran dapat mengganggu proses fotosintesis tanaman. Dalam jangka tertentu, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi produktivitas tanaman.

Karhutla juga dapat menghambat aktivitas operasional perkebunan, mengganggu mobilitas pekerja dan distribusi hasil panen, sekaligus meningkatkan biaya pengawasan serta pengendalian kebakaran.

DPP

Karena itu, pencegahan Karhutla pada dasarnya merupakan kepentingan bersama, termasuk bagi pelaku usaha perkebunan dan petani sawit.

Karhutla merupakan persoalan kompleks yang dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari aktivitas manusia, kondisi cuaca, musim kemarau panjang, perubahan iklim, hingga karakteristik vegetasi dan kondisi lahan.

Karena itu, strategi pencegahan perlu dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah, masyarakat, pelaku usaha perkebunan dan kehutanan, akademisi, serta organisasi masyarakat sipil.

Pendekatan berbasis data menjadi penting untuk memetakan sumber risiko, lokasi rawan kebakaran, pola kemunculan titik api, hingga karakteristik lahan yang rentan terbakar.

Dengan melihat Karhutla sebagai persoalan ekologis berskala nasional, upaya pencegahan diharapkan tidak berhenti pada respons ketika api sudah muncul. Penguatan deteksi dini, pengelolaan lanskap, edukasi masyarakat, kesiapsiagaan di tingkat tapak, serta penegakan aturan perlu berjalan secara bersamaan.

Data historis tersebut pada akhirnya memberikan satu pesan penting: Karhutla adalah persoalan lintas wilayah dan lintas sektor. Karena itu, solusinya pun membutuhkan tanggung jawab bersama.


Berita Sebelumnya
Bicara di IOPS Forum 2026: BPDP Dorong Petani Sawit Naik Kelas Lewat Hilirisasi dan Aliansi Internasional

Bicara di IOPS Forum 2026: BPDP Dorong Petani Sawit Naik Kelas Lewat Hilirisasi dan Aliansi Internasional

Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mendorong penguatan posisi petani sawit melalui hilirisasi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta kerja sama dan diplomasi petani sawit di tingkat internasional.

29 Agustus 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *