KONSULTASI
Logo

Digitalisasi Sawit Masuk Babak Baru, AI hingga Drone Jadi Kunci Traceability dan Produktivitas

23 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Digitalisasi Sawit Masuk Babak Baru, AI hingga Drone Jadi Kunci Traceability dan Produktivitas

sawitsetara.co - Transformasi digital mulai memasuki babak baru di industri kelapa sawit Indonesia. Digitalisasi tidak lagi sebatas menghadirkan koneksi internet atau memindahkan pencatatan manual ke sistem digital, tetapi mulai diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, hingga memastikan ketertelusuran produk sawit dari kebun.

Kebutuhan tersebut mengemuka dalam The 3rd Digital Transformation Forum (DTF) 2026 yang digelar Selular Media Network di Hotel Arion Suites Kemang, Jakarta, Senin (21/9/2026).

Forum bertema “Kolaborasi Lintas Industri, Lembaga dan Kementerian, Mendorong Digitalisasi dan Kemajuan Ekonomi” itu mempertemukan pemerintah, operator telekomunikasi, asosiasi internet, industri perangkat dan ritel teknologi, hingga sektor perkebunan kelapa sawit.

Salah satu perhatian dalam forum tersebut adalah bagaimana teknologi digital dapat memberikan dampak langsung terhadap sektor produktif, termasuk industri sawit yang memiliki rantai pasok luas dan tersebar secara geografis.

Pengurus Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Mochamad Husni, mengatakan industri sawit masih menghadapi sejumlah proses yang dilakukan secara manual.

Mulai dari pencatatan kebun, pengelolaan logistik tandan buah segar (TBS), hingga pelaporan keberlanjutan masih membutuhkan penguatan melalui sistem digital.

Padahal, kebutuhan terhadap traceability atau ketertelusuran semakin meningkat seiring tuntutan pasar global.

Industri sawit dituntut mampu mengetahui sekaligus mendokumentasikan asal-usul bahan baku, termasuk informasi yang berkaitan dengan perkebunan tempat produk tersebut berasal.

Kondisi ini membuat digitalisasi memiliki peran yang semakin strategis. Teknologi bukan hanya digunakan untuk mempercepat pekerjaan administratif, tetapi juga untuk membangun data perkebunan yang lebih akurat dan dapat ditelusuri.

apkasindo

Sejumlah teknologi dapat digunakan untuk menjawab kebutuhan tersebut. Artificial intelligence (AI), misalnya, dapat dimanfaatkan untuk membantu memprediksi produksi buah. Sementara drone dan citra satelit dapat digunakan untuk melakukan pemetaan serta memantau kondisi perkebunan.

Teknologi Internet of Things (IoT) dan analitik data juga membuka peluang bagi perusahaan maupun pelaku usaha perkebunan untuk memperoleh informasi secara lebih cepat dan terukur.

Dengan dukungan teknologi tersebut, pengelolaan perkebunan dapat bergerak dari pola yang bergantung pada pencatatan manual menuju pengambilan keputusan berbasis data.

Digitalisasi juga berpotensi membuka berbagai layanan pendukung di kawasan perkebunan, mulai dari konektivitas, IoT, cloud computing, layanan keuangan digital, logistik hingga marketplace.

Namun, penerapan teknologi di sektor sawit tidak cukup hanya dengan menghadirkan aplikasi atau perangkat digital.

Konektivitas menjadi salah satu persoalan mendasar karena kawasan perkebunan memiliki karakteristik geografis yang luas dan tersebar. Artinya, teknologi secanggih apa pun akan sulit memberikan manfaat maksimal apabila infrastruktur komunikasi belum mampu menjangkau kawasan perkebunan.

Karena itu, kolaborasi antara pelaku usaha sawit, operator telekomunikasi, penyedia teknologi, pemerintah, dan penyedia layanan digital menjadi penting. Tujuannya agar solusi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan lapangan.

Digitalisasi pada akhirnya harus mampu memberikan hasil konkret berupa peningkatan produktivitas, efisiensi operasional, kualitas data, serta kemampuan industri memenuhi tuntutan ketertelusuran dan keberlanjutan.

Pembahasan DTF 2026 juga menunjukkan bahwa transformasi digital telah menjadi agenda lintas sektor.

Kepala Biro Humas dan Teknologi Informasi Kementerian Koordinator Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Kemenko Kumham Imipas), Mamur Saputra, mengatakan digitalisasi telah menjadi kebutuhan dalam penyelenggaraan layanan publik.

apkasindo

Sejumlah layanan pemerintah telah dikembangkan secara digital, seperti paspor online, autogate, visa elektronik, izin tinggal digital, database narapidana terpadu, hingga Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH).

Di sektor telekomunikasi, VP Head of Ecosystem Regulatory Affairs Indosat Ooredoo Hutchison (IOH), Machdi Fauzi, menyebut perkembangan AI, IoT, dan cloud computing telah mendorong perubahan model bisnis operator dari Telco menuju TechCo.

“Konektivitas tetap menjadi fondasi utama, tetapi monetisasi terbesar di masa depan ada pada lapisan atas—seperti aplikasi, solusi digital, dan AI. Kolaborasi antara regulator dan operator adalah kunci utama agar ekosistem digital Indonesia bisa melompat lebih jauh,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Kelembagaan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Elly Noor, menekankan pentingnya menghilangkan pola kerja sektoral dalam pengembangan ekonomi digital.

“Kita semua tidak bisa bekerja sendiri. Masalah-masalah yang dihadapi di lapangan harus kita duduk bersama untuk mencari solusinya. Yang paling penting adalah tidak ada lagi ego sektoral atau bekerja secara silo,” katanya.

Perkembangan AI juga mulai mengubah industri perangkat digital. Chief Strategy, Research and Development; Enterprise and Education Director Erajaya Digital, Mark Jefferson Go, mengatakan meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi AI turut mendorong permintaan chipset berkemampuan tinggi.

Sementara Country General Manager Motorola Indonesia, Bagus Prasetyo, menjelaskan pengembangan konsep Hybrid AI yang menggabungkan pemrosesan AI di perangkat dengan AI berbasis cloud.

apkasindo

Motorola juga mengembangkan konsep Inter Connected AI, yakni ekosistem AI yang dapat bekerja lintas perangkat.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa persaingan industri teknologi ke depan tidak hanya berkutat pada spesifikasi perangkat, tetapi juga kemampuan membangun ekosistem yang saling terhubung.

Berbagai pembahasan dalam DTF 2026 memperlihatkan satu kebutuhan yang sama: transformasi digital tidak dapat berjalan sendiri-sendiri.

Pemerintah membutuhkan teknologi dan investasi industri untuk meningkatkan layanan publik. Operator membutuhkan regulasi serta model bisnis yang mendukung keberlanjutan investasi. Industri perangkat membutuhkan ekosistem, konektivitas, dan akses masyarakat terhadap teknologi.

Sementara sektor produktif seperti sawit membutuhkan kombinasi konektivitas, AI, IoT, citra satelit, drone, dan analitik data untuk menjawab kebutuhan produktivitas sekaligus ketertelusuran.

CEO sekaligus Editor in Chief Selular Media Network, Uday Rayana, mengatakan keberhasilan transformasi digital pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh banyaknya teknologi baru yang digunakan.

“Tantangan sesungguhnya adalah memastikan digitalisasi mampu meningkatkan daya saing industri, memperluas manfaat teknologi, dan menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi Indonesia,” tandasnya.

Bagi industri sawit, arah tersebut menjadi semakin penting. Digitalisasi bukan lagi sekadar pilihan untuk mengikuti perkembangan teknologi, melainkan bagian dari upaya membangun industri yang lebih efisien, berbasis data, mampu ditelusuri, dan semakin siap menghadapi tuntutan pasar global.


Berita Sebelumnya
Kementan Kucurkan Rp228 Juta untuk Dukung Sawit Rakyat di Seluma

Kementan Kucurkan Rp228 Juta untuk Dukung Sawit Rakyat di Seluma

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Seluma, Arian Sosial, mengatakan kepastian dukungan tersebut telah dituangkan dalam Surat Perjanjian Kerja Sama (SPK) yang ditandatangani antara Pemkab Seluma dan Kementan.

22 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *