KONSULTASI
Logo

Dulu Kuli Angkut Sawit, Kini Siti Rohani Sukses Menganyam Lidi Jadi Cuan

28 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Dulu Kuli Angkut Sawit, Kini Siti Rohani Sukses Menganyam Lidi Jadi Cuan

sawitsetara.co – PEKANBARU — Dulu, Siti Rohani mengandalkan tenaga untuk menyambung hidup. Bersama suaminya, ia menjadi buruh harian lepas yang mengangkut buah sawit di Dumai, Riau. Kini, tangannya tetap bekerja, tetapi bukan lagi untuk melangsir tandan buah segar menggunakan sepeda kargo. Di tangannya, lidi sawit berubah menjadi berbagai kerajinan. Produk itu kemudian dipasarkan melalui usaha bernama Difa Kreasi.

Perjalanan Siti menjadi salah satu kisah yang dibawa ke Pertamina SMEXPO Regional Pekanbaru 2026. Pameran UMKM yang digelar PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) tersebut berlangsung pada 25–27 September 2026 di Living World Pekanbaru.

Bagi Siti, kehadiran di SMEXPO bukan semata kesempatan menjual produk. Ia membawa cerita tentang bagaimana pekerjaan sebagai buruh angkut sawit membawanya pada pilihan baru untuk membangun usaha.

“Dulu, saya dan suami bekerja sebagai kuli angkut buah sawit. Suami memanen, sementara saya melangsir buah sawit menggunakan sepeda kargo. Pekerjaan itu sangat mengandalkan tenaga, dan karena kami buruh harian lepas, kalau ada pekerjaan kami bekerja, kalau tidak ada pekerjaan berarti tidak ada penghasilan,” kenang Siti, dikutip dari ANTARA, Senin (28/9/2026).

Saat itu, Siti sudah memiliki tiga anak. Pekerjaan sebagai buruh harian lepas membuat pendapatan keluarga bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan.

Ia tetap bekerja karena kebutuhan anak-anak tidak bisa menunggu. Namun, di tengah rutinitas itu, sebuah kesempatan datang melalui pelatihan menganyam lidi yang diberikan penyuluh lapangan Kecamatan Sungai Sembilan, Dumai.

Dari sana, Siti mulai mengenal keterampilan yang kelak mengubah arah hidupnya.

“Saat itu saya sudah memiliki tiga orang anak. Sebagai seorang ibu, tentu saya ingin selalu berada di dekat mereka. Tetapi keadaan membuat saya harus memilih bekerja demi memastikan anak-anak tetap bisa makan dan sekolah. Sampai akhirnya saya mendapat kesempatan mengikuti pelatihan menganyam lidi dari penyuluh lapangan Kecamatan Sungai Sembilan, Dumai dan perjalanan saya kemudian berkembang ketika mendapat kesempatan menjadi binaan Pertamina melalui Rumah BUMN Pertamina di Dumai. Bagi saya, Pertamina SMEXPO bukan sekadar pameran. Ini adalah bukti bahwa kehidupan bisa berubah ketika kita mau mencoba, belajar, bekerja keras, dan tidak mudah menyerah,” tambahnya.

DPP

Siti bergabung sebagai mitra binaan Pertamina Grup sejak 2020 melalui Rumah BUMN Dumai. Sejak itu, Difa Kreasi tidak hanya mendapat ruang untuk memasarkan produk, tetapi juga berbagai pembinaan untuk memperkuat usaha.

Pelatihan yang diterimanya mencakup manajemen keuangan, pemasaran, media sosial hingga Pertamina UMK Academy. Pengetahuan tersebut menjadi bekal untuk mengembangkan usaha yang sebelumnya dirintis dari keterampilan sederhana.

Kini, pasar Difa Kreasi tidak lagi terbatas di Dumai. Produk kerajinan anyaman lidi produksinya telah menjangkau Medan dan Jambi.

Kisah itu pula yang ingin dibagikan Siti kepada pengunjung Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026. Ia ingin menunjukkan bahwa keterbatasan pekerjaan dan penghasilan bukan akhir dari perjalanan seorang pelaku UMKM.

Terlebih, bahan yang digunakan untuk kerajinan tersebut berasal dari lidi yang selama ini lekat dengan aktivitas perkebunan sawit.

Bagi Siti, lidi yang dahulu hanya menjadi bagian dari lingkungan tempat ia bekerja kini justru menjadi bahan untuk menciptakan produk bernilai ekonomi.

DPP

Fahrougi Andriani Sumampouw, Area Manager Communication, Relations & CSR Sumbagut PT Pertamina Patra Niaga, mengatakan pembinaan UMKM merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Grup.

Menurut dia, pembinaan diarahkan untuk mendukung pelaku UMKM sejak tahap merintis hingga mampu mengembangkan usaha dan naik kelas.

“Kehadiran Difa Kreasi di Pertamina SMEXPO Pekanbaru 2026 menjadi inspirasi bagi sesama pelaku UMKM termasuk undangan dan pengunjung yang hadir. Kadang, perubahan dimulai dari satu kesempatan, keberanian untuk mencoba, tangan yang mau bekerja, dan hati yang tidak mau menyerah,” ujar Fahrougi.

Pertamina SMEXPO sendiri telah digelar secara rutin sejak 2020. Pekanbaru menjadi kota pertama dalam rangkaian pameran UMKM Pertamina SMEXPO Regional 2026.

Gelaran tahun ini menjadi kali kedua Pertamina SMEXPO diselenggarakan di Pekanbaru setelah sebelumnya berlangsung pada 2023. Puluhan UMKM lokal unggulan hadir membawa produk sekaligus cerita tentang proses membangun usaha.

Program tersebut merupakan bagian dari upaya Pertamina melalui pilar ekonomi TJSL untuk memperkuat kapasitas UMKM. Pendekatan itu mencakup pengembangan kemampuan usaha, pemasaran dan perluasan akses pasar.

Penyelenggaraan Pertamina SMEXPO juga dikaitkan dengan Asta Cita pemerintah, khususnya agenda meningkatkan lapangan kerja berkualitas, mendorong kewirausahaan, mengembangkan industri kreatif serta melanjutkan pembangunan infrastruktur.

Di antara puluhan pelaku UMKM yang hadir, cerita Siti menjadi pengingat bahwa hilirisasi tidak selalu harus bermula dari industri berskala besar. Dari buah sawit yang dahulu ia angkut sebagai buruh harian, perjalanan itu berlanjut pada lidi yang ia olah menjadi kerajinan. Dari pekerjaan yang bergantung pada upah harian, Siti kini membangun usaha sendiri. Difa Kreasi menjadi bagian dari perjalanan itu—sebuah usaha yang tumbuh dari keterampilan, pembinaan dan kemauan untuk mengubah sesuatu yang sederhana menjadi sumber penghasilan baru.

Tags:

limbah sawit

Berita Sebelumnya
Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Sawit di Masa TBM: Peluang Tumpang Sari yang Terabaikan

Ketahanan Pangan Rumah Tangga Petani Sawit di Masa TBM: Peluang Tumpang Sari yang Terabaikan

Bagi petani sawit swadaya, replanting adalah keputusan yang berat. Kebun tua memang sudah tidak produktif, tetapi dari kebun itulah uang belanja keluarga datang setiap bulan. Begitu pohon ditumbang, penghasilan ikut berhenti, dan baru kembali tiga sampai empat tahun kemudian.

26 September 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *