
sawitsetara.co - JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kondisi curah hujan di sejumlah wilayah sentra perkebunan kelapa sawit akan beragam pada periode Oktober hingga Desember 2026. Perbedaan kondisi hujan tersebut terlihat di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang menjadi kawasan utama perkebunan sawit nasional.
Prediksi itu tercantum dalam Buletin Informasi Iklim Perkebunan Sawit periode September 2026 terbitan BMKG. Dalam buletin tersebut, BMKG menyajikan peta prakiraan curah hujan bulanan untuk Oktober, November, dan Desember 2026 di sejumlah wilayah sentra sawit.
Wilayah yang dipetakan meliputi Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur. Masing-masing wilayah menunjukkan pola curah hujan yang berbeda, mulai dari kategori rendah hingga sangat tinggi.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kondisi hujan pada tiga bulan terakhir 2026 tidak akan berlangsung seragam di seluruh sentra sawit. Sejumlah wilayah diprakirakan mengalami peningkatan curah hujan menuju akhir tahun, sementara wilayah lainnya tetap berada pada kategori rendah hingga menengah.
Aceh diprediksi mengalami hujan menengah hingga sangat tinggi
BMKG memprediksi wilayah Aceh akan mengalami curah hujan kategori menengah hingga sangat tinggi pada Oktober hingga Desember 2026.
Peta prakiraan menunjukkan kondisi hujan yang cukup beragam di Aceh. Namun, secara umum wilayah tersebut berada pada rentang kategori menengah hingga sangat tinggi selama tiga bulan.
Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam aktivitas perkebunan sawit. Curah hujan yang tinggi dapat memengaruhi berbagai kegiatan di lapangan, terutama akses menuju kebun, kegiatan pemanenan, serta pengangkutan tandan buah segar (TBS).
Pengelola kebun perlu memperhatikan kondisi jalan dan saluran drainase untuk menjaga kegiatan operasional tetap berjalan ketika curah hujan meningkat.
Riau menghadapi rentang hujan rendah hingga sangat tinggi
Di Riau, BMKG memprediksi curah hujan berada pada rentang rendah hingga sangat tinggi selama Oktober sampai Desember 2026.
Peta prakiraan memperlihatkan perbedaan kondisi hujan antardaerah. Pada Oktober, sejumlah wilayah Riau berada pada kategori rendah hingga menengah, sementara wilayah lainnya menunjukkan kondisi yang lebih basah.
Memasuki November dan Desember, kondisi hujan diprakirakan meningkat di sejumlah wilayah. Pola tersebut membuat kondisi curah hujan Riau perlu dilihat secara lebih spesifik berdasarkan lokasi.
Bagi perkebunan sawit, variasi tersebut menjadi faktor penting dalam menyusun kegiatan operasional. Kondisi hujan yang rendah dapat menjadi pertimbangan dalam pemantauan ketersediaan air dan kondisi tanaman. Sebaliknya, peningkatan curah hujan perlu diikuti dengan perhatian terhadap drainase, jalan produksi, dan kegiatan pengangkutan hasil panen.
Jambi diprediksi lebih rendah
Berbeda dengan Aceh dan sebagian wilayah Riau, Jambi diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah hingga menengah pada Oktober hingga Desember 2026.
Pada Oktober, peta BMKG menunjukkan sebagian besar wilayah Jambi berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut kemudian berubah pada November dan Desember dengan meningkatnya wilayah yang berada pada kategori menengah.
Prakiraan tersebut menunjukkan adanya perubahan kondisi hujan sepanjang periode Oktober–Desember. Bagi perkebunan sawit, perubahan ini perlu diikuti dengan pemantauan kondisi lapangan secara berkala.
Kondisi hujan rendah dapat memengaruhi ketersediaan air bagi tanaman apabila berlangsung dalam periode tertentu. Karena itu, informasi prakiraan hujan dapat digunakan sebagai salah satu bahan dalam menentukan langkah pengelolaan kebun.
Kalimantan Barat berpotensi semakin basah menuju Desember
Di Pulau Kalimantan, Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan perubahan pola hujan yang cukup terlihat dalam peta prakiraan BMKG.
BMKG memprediksi curah hujan di Kalimantan Barat berada pada kategori rendah hingga sangat tinggi selama Oktober–Desember 2026.
Pada Oktober, kondisi hujan di sejumlah wilayah masih berada pada kategori rendah hingga menengah. Kondisi kemudian meningkat pada November. Pada Desember, sebagian besar wilayah Kalimantan Barat diprediksi berada pada kategori tinggi hingga sangat tinggi.
Peningkatan curah hujan menuju akhir tahun tersebut perlu diperhatikan oleh pelaku perkebunan. Kondisi hujan tinggi dapat memengaruhi mobilitas pekerja, akses kendaraan pengangkut TBS, dan kondisi jalan kebun.
Selain itu, pengelolaan tata air menjadi semakin penting ketika curah hujan meningkat. Saluran drainase yang berfungsi baik dapat membantu mengurangi genangan di areal perkebunan.
Kalimantan Tengah: hujan meningkat dari Oktober ke Desember
Kalimantan Tengah diprediksi mengalami curah hujan rendah hingga tinggi pada Oktober hingga Desember 2026.
Pada Oktober, sejumlah besar wilayah dalam peta prakiraan berada pada kategori rendah. Kondisi kemudian menunjukkan peningkatan pada November, sebelum menjadi lebih basah pada Desember.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pelaku perkebunan di Kalimantan Tengah perlu memperhatikan dinamika hujan dari bulan ke bulan. Strategi pengelolaan kebun pada Oktober dapat berbeda dengan kondisi yang dihadapi pada Desember.
Pada saat curah hujan rendah, perhatian dapat diarahkan pada kondisi kelembapan tanah dan tanaman. Ketika hujan meningkat, perhatian dapat bergeser pada pengelolaan drainase serta kesiapan sarana transportasi dan jalan kebun.
Kalimantan Timur masih menghadapi kondisi rendah hingga tinggi
Sementara itu, Kalimantan Timur diprediksi mengalami curah hujan kategori rendah hingga tinggi pada Oktober hingga Desember 2026.
Peta BMKG menunjukkan sejumlah wilayah masih berada pada kategori rendah pada Oktober. Kondisi pada November dan Desember tetap beragam, dengan beberapa wilayah menunjukkan curah hujan yang lebih tinggi.
Pola tersbut memperlihatkan bahwa kondisi hujan di Kalimantan Timur juga tidak seragam. Karena itu, pengelolaan perkebunan perlu mempertimbangkan kondisi spesifik masing-masing wilayah.
Informasi prakiraan dapat membantu pelaku usaha sawit menyiapkan kegiatan lapangan, terutama yang berkaitan dengan pemanenan, pemeliharaan tanaman, akses kebun, dan pengangkutan hasil.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *