KONSULTASI
Logo

Geopolitik Memanas, APMI: Sawit Harus Jadi Pilar Kedaulatan Energi dan Pangan Nasional

4 Maret 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
Geopolitik Memanas, APMI: Sawit Harus Jadi Pilar Kedaulatan Energi dan Pangan Nasional
HOT NEWS

sawitsetara.co - Ketegangan geopolitik global kembali menjadi sorotan setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran yang berpotensi mengganggu sekitar 20 persen distribusi minyak dunia. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi urat nadi perdagangan energi global. Ketika pasokannya terganggu, efek dominonya langsung terasa pada lonjakan harga minyak, tekanan inflasi, serta ketidakpastian rantai pasok internasional.

Bagi Indonesia, situasi ini bukan sekadar isu luar negeri. Sebagai negara yang masih bergantung pada impor BBM, gejolak harga minyak dunia akan berdampak langsung pada APBN, subsidi energi, biaya logistik, hingga harga kebutuhan pokok masyarakat.

Ketua Umum Asosiasi Planters Muda (APMI), Muhammad Nur Fadillah, menilai kondisi ini harus dibaca sebagai alarm strategis untuk mempercepat kedaulatan energi nasional berbasis sumber daya dalam negeri, khususnya kelapa sawit.

“Gangguan di Selat Hormuz membuktikan bahwa ketergantungan pada energi impor adalah risiko struktural. Indonesia punya solusi konkret, dan itu ada pada sawit,” ujarnya.

Puasa

Indonesia saat ini merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia dengan produksi lebih dari 45 juta ton per tahun. Melalui kebijakan mandatori biodiesel seperti B35 dan B40 yang terus diperkuat, jutaan kiloliter impor solar berhasil ditekan setiap tahunnya. Program ini tidak hanya menahan laju impor energi fosil, tetapi juga menjaga stabilitas pasokan energi domestik di tengah ketidakpastian global.

Menurut Fadillah, jika satu kebijakan biodiesel saja mampu memberikan dampak signifikan terhadap penghematan devisa dan stabilitas energi, maka penguatan hilirisasi sawit dan percepatan transisi menuju bioenergi adalah langkah logis yang harus diprioritaskan.

“Setiap liter biodiesel yang diproduksi di dalam negeri berarti pengurangan impor, penghematan devisa, dan penguatan daya tahan ekonomi nasional,” tegasnya.

Ia menambahkan, krisis global seharusnya tidak hanya dipandang sebagai ancaman, tetapi juga momentum konsolidasi. Di tengah dinamika geopolitik yang sulit dikendalikan, Indonesia perlu mempercepat eksekusi kebijakan berbasis data dan berpihak pada produksi domestik.

Puasa

Tak hanya energi, Fadillah juga menekankan pentingnya ketahanan pangan yang berjalan beriringan dengan ketahanan energi. Penguatan produktivitas perkebunan rakyat, efisiensi distribusi, serta inovasi berbasis generasi muda menjadi faktor krusial untuk memastikan sawit tetap menjadi sektor strategis yang inklusif dan berkelanjutan.

“Kita memang tidak bisa mengontrol konflik global. Tapi kita bisa memastikan rakyat Indonesia tidak menjadi korban dari ketergantungan struktural. Sawit bukan sekadar komoditas ekspor, melainkan instrumen kedaulatan bangsa,” ujarnya.

APMI pun mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, industri, serta generasi muda untuk menjadikan krisis global sebagai titik balik menuju swasembada energi dan pangan yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.

Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, sawit dinilai bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi fondasi strategis untuk menjaga stabilitas nasional.


Berita Sebelumnya
Guru Besar Ekonomi Unri: PAP untuk Pohon Sawit Tidak Tepat dan Berisiko Tekan Pendapatan Petani

Guru Besar Ekonomi Unri: PAP untuk Pohon Sawit Tidak Tepat dan Berisiko Tekan Pendapatan Petani

Polemik wacana Pajak Air Permukaan (PAP) untuk pohon sawit sampai juga ke meja Prof. Dr. Almasdi Syahza, SE., MP. Guru Besar bidang ekonomi dari Universitas Riau (Unri) ini ikut menyoroti dampak berantai andai kebijakan ini diterapkan.

3 Maret 2026 | Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *