
sawitsetara.co - JAKARTA — Target pemerintah mempercepat swasembada gula dari 2028 menjadi 2026 dinilai menghadapi tantangan besar apabila hanya mengandalkan peningkatan produksi tebu. Di tengah keterbatasan lahan dan tingginya kebutuhan gula nasional, gula berbasis nira kelapa sawit disebut berpotensi menjadi sumber pasokan tambahan yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Pengamat pertanian Khudori menilai strategi pemerintah saat ini masih terlalu bertumpu pada pengembangan tebu sebagai sumber utama produksi gula nasional. Pemerintah menargetkan produksi gula nasional mencapai 3 juta ton pada 2026 atau naik sekitar 11,9 persen dibandingkan realisasi produksi 2025 yang tercatat sebesar 2,68 juta ton.
Target tersebut ditempuh melalui perluasan areal tanam, optimalisasi lahan tebu, serta program bongkar raton seluas 100 ribu hektare. Jawa Timur masih menjadi tumpuan utama peningkatan produksi karena berstatus sebagai sentra gula terbesar di Indonesia.
Namun, menurut Khudori, ketergantungan terhadap ekspansi tebu di provinsi tersebut menyimpan konsekuensi tersendiri.
“Menumpukan target swasembada pada Jawa Timur tak salah, tetapi ada risiko. Karena memperluas lahan tebu akan menurunkan luas lahan komoditas lain,” ungkapnya melalui keterangan tertulis, dikutip Senin (22/6/2026).
Selain persoalan ketersediaan lahan, ia menyoroti aspek insentif ekonomi bagi petani. Pengalaman musim giling sebelumnya menunjukkan peningkatan produksi belum tentu diikuti perbaikan kesejahteraan petani apabila harga gula tidak memberikan keuntungan yang memadai.
Khudori juga mempertanyakan peluang tercapainya target swasembada gula industri yang dipatok pemerintah pada 2030. Hingga kini, kebutuhan industri makanan, minuman, dan farmasi masih bergantung pada impor gula mentah yang kemudian diolah menjadi gula rafinasi.
“Kalau gula konsumsi saja masih belum cukup menutup kebutuhan, target swasembada gula industri pada tahun 2030 sepertinya sulit dicapai,” ujarnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, Khudori melihat peluang lain yang berasal dari sektor perkebunan kelapa sawit. Menurut dia, batang sawit yang ditebang saat peremajaan kebun atau replanting dapat menghasilkan nira yang berpotensi diolah menjadi gula.
Indonesia saat ini memiliki sekitar 16,8 juta hektare perkebunan sawit. Dari total luas tersebut, kebutuhan peremajaan kebun diperkirakan mencapai 672 ribu hektare setiap tahun.
Berdasarkan pengalaman petani di sejumlah daerah, satu pohon sawit yang ditebang saat replanting dapat menghasilkan 5 hingga 7 liter nira per hari selama 30 sampai 40 hari. Dengan asumsi populasi tanaman dan tingkat rendemen tertentu, potensi produksi gula merah sawit diperkirakan mencapai sekitar 6,86 ton per hektare selama masa peremajaan.
Jika dikalikan dengan kebutuhan replanting nasional yang mencapai 672 ribu hektare per tahun, potensi produksi gula merah sawit dapat mencapai sekitar 4,6 juta ton per tahun. Angka itu bahkan melampaui produksi gula nasional saat ini yang masih berada di kisaran 3 juta ton.
Selain volume produksi, Khudori menilai gula sawit memiliki sejumlah keunggulan lain. Pasokannya dapat tersedia sepanjang tahun mengikuti siklus peremajaan kebun, berbeda dengan gula tebu yang bersifat musiman. Gula sawit juga disebut memiliki indeks glikemik yang lebih rendah dibandingkan gula berbasis tebu sehingga berpotensi menarik minat sebagian konsumen.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan batang sawit hasil replanting dinilai dapat mengurangi limbah perkebunan, menekan risiko serangan hama kumbang tanduk, serta berpotensi mengurangi emisi karena rantai produksi dan konsumsi yang lebih dekat dengan sentra perkebunan.
Meski demikian, Khudori menilai pengembangan gula sawit tidak akan berjalan tanpa dukungan kebijakan yang jelas. Pemerintah, kata dia, perlu memetakan potensi produksi, mengkaji peluang pasar, mengidentifikasi hambatan regulasi, serta menyiapkan model bisnis yang mendukung pengembangan komoditas tersebut.
“Potensi ada di depan mata. Tanpa perlu menambah lahan dan menanam. Bukan mustahil swasembada gula lebih cepat dicapai,” imbuhnya.


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *