
sawitsetara.co - KUALA LUMPUR — Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia diperkirakan bergerak terbatas sepanjang Maret 2026.
Dilansir dari Bernama.com, Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memproyeksikan harga CPO akan berkonsolidasi di kisaran RM4.000 hingga RM4.300 per ton, ditopang pasokan jangka pendek yang mengetat serta membaiknya permintaan dari India.
Meski demikian, MPOC menilai potensi penguatan harga tidak sepenuhnya leluasa. Melimpahnya pasokan global minyak kedelai dan meningkatnya ekspor minyak kedelai dari China menjadi faktor penahan.
Untuk pertama kalinya pada 2025, China tercatat sebagai eksportir bersih minyak kedelai dan diperkirakan mempertahankan posisi tersebut pada 2026 dengan volume ekspor sekitar 850 ribu ton. Hampir separuh dari ekspor itu diserap India.
Di sisi fundamental, MPOC melihat prospek pasar sawit mulai membaik secara bertahap. Penguatan ekspor Malaysia pada kuartal pertama, ditambah strategi percepatan pengiriman Indonesia menjelang kenaikan pungutan ekspor pada Maret, diperkirakan akan menekan level persediaan sawit di kedua negara produsen utama tersebut.
Data Januari menunjukkan produksi sawit Malaysia turun secara musiman menjadi 1,58 juta ton, melemah 13,8 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Namun, ekspor justru menguat menjadi 1,48 juta ton, naik 11,4 persen dari Desember 2025 dan menjadi volume ekspor bulanan tertinggi kedua dalam setahun terakhir.
Kenaikan ini terutama ditopang lonjakan permintaan dari India dan Mesir, dengan pengiriman ke India mencapai level tertinggi dalam 15 bulan terakhir.
Dari sisi konsumsi, MPOC menilai India mulai kembali mengandalkan minyak sawit seiring membaiknya daya saing harga sejak akhir 2025. Konsumsi minyak sawit di negara tersebut diperkirakan meningkat 800 ribu ton pada 2026, sementara konsumsi minyak kedelai dan minyak bunga matahari justru turun secara akumulatif sekitar 400 ribu ton.
Tren itu mulai tercermin pada data Januari 2026, ketika impor minyak sawit India melonjak ke level tertinggi dalam empat bulan, sementara impor minyak kedelai jatuh ke titik terendah dalam 11 bulan. Kondisi ini memberi sinyal bahwa permintaan sawit global berangsur pulih, meski pasar masih dibayangi tekanan dari minyak nabati pesaing dan dinamika pasokan global.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *