KONSULTASI
Logo

Harga CPO Malaysia Tertekan, Stok Akhir September Diproyeksi Tembus 3 Juta Ton

30 September 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Harga CPO Malaysia Tertekan, Stok Akhir September Diproyeksi Tembus 3 Juta Ton

sawitsetara.co - KUALA LUMPUR — Harga crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives tertekan pada perdagangan Selasa (29/9/2026). Pelemahan terjadi ketika laju ekspor minyak sawit melambat di tengah perkiraan kenaikan produksi secara musiman.

Dikutip dari Investor Daily, tekanan tersebut membawa harga CPO ke level terendah dalam sekitar 10 pekan. Pasar juga mendapat tekanan dari pelemahan harga minyak nabati di bursa Dalian serta penurunan aktivitas pengiriman minyak sawit.

Data survei sejumlah perusahaan inspeksi kargo menunjukkan pengiriman minyak sawit dalam 25 hari pertama September turun 15,1–24,3 persen dibandingkan periode yang sama pada Agustus.

Pada saat yang sama, produksi minyak sawit diperkirakan meningkat. Pelaku industri mengestimasi produksi selama 25 hari pertama September melonjak 20,84 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Kombinasi ekspor yang melemah dan produksi yang meningkat tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap persediaan CPO. Stok minyak sawit pada akhir September diperkirakan berpotensi menembus 3 juta ton.

Tekanan terjadi di seluruh tenor kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives. Kontrak Oktober 2026 turun 33 Ringgit Malaysia menjadi 4.433 Ringgit Malaysia per ton.

DPP

Kontrak November 2026 juga terkoreksi 33 Ringgit Malaysia ke level 4.523 Ringgit Malaysia per ton. Sementara kontrak Desember 2026 turun lebih dalam, yakni 40 Ringgit Malaysia menjadi 4.624 Ringgit Malaysia per ton.

Untuk pengiriman Januari 2027, harga kontrak turun 43 Ringgit Malaysia menjadi 4.731 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak Februari 2027 melemah 46 Ringgit Malaysia ke posisi 4.830 Ringgit Malaysia per ton.

Adapun kontrak Maret 2027 terkoreksi 42 Ringgit Malaysia menjadi 4.926 Ringgit Malaysia per ton.

Ekspor Indonesia Ikut Tertekan

Pelemahan pasar CPO global juga tercermin dari perkembangan ekspor minyak sawit Indonesia. Data asosiasi industri menunjukkan volume ekspor minyak sawit nasional pada Juli 2026 mencapai 3,19 juta ton, turun 9,87 persen secara tahunan (year on year).

Namun, tekanan terhadap harga CPO tidak sepenuhnya bergerak satu arah. Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang menahan laju koreksi.

Ketidakpastian dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjaga harga minyak mentah tetap tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan daya saing minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel.

Pergerakan pasar selanjutnya turut bergantung pada perkembangan permintaan dari China. Pelaku pasar kini mencermati rilis data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur China untuk periode September.

Indikator tersebut menjadi salah satu perhatian pasar karena China merupakan salah satu konsumen utama komoditas global. Perubahan aktivitas manufaktur dapat memberikan petunjuk mengenai arah permintaan minyak nabati dan komoditas lainnya.

Dengan demikian, pasar CPO memasuki akhir September dalam kondisi yang dipengaruhi dua tekanan utama: perlambatan ekspor dan kenaikan produksi. Perkembangan permintaan China serta harga minyak mentah dunia menjadi faktor yang akan dicermati untuk melihat arah perdagangan selanjutnya.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Bukan Sekadar Menabur Pupuk, Ini Kunci Pemupukan Sawit yang Tepat

Bukan Sekadar Menabur Pupuk, Ini Kunci Pemupukan Sawit yang Tepat

Pemupukan kelapa sawit tidak semata-mata ditentukan oleh banyaknya pupuk yang diberikan. Jenis, dosis, waktu, cara aplikasi, kondisi tanah, umur tanaman, hingga target produksi perlu menjadi pertimbangan agar unsur hara yang diberikan benar-benar mendukung pertumbuhan dan produktivitas tanaman.

29 September 2026Edukasi

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *