
sawitsetara.co - PONTIANAK – Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) mulai mengandalkan cara sederhana untuk menjaga kebun mereka dari ancaman hama dan penyakit mematikan. Salah satunya melakukan pengamatan mandiri secara rutin guna mendeteksi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sejak dini, terutama kumbang tanduk dan jamur Ganoderma.
Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kerusakan ekonomi akibat serangan hama dan patogen yang dapat merusak titik tumbuh, jaringan batang, hingga sistem perakaran tanaman. Jika terlambat ditangani, serangan OPT berpotensi menurunkan produktivitas dan memicu kematian tanaman.

Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak mencatat, produksi sawit Kalbar pada 2024 mencapai sekitar 6.400 ton, meningkat 10,34 persen dibandingkan periode 2021. Kenaikan produksi ini ditopang perkebunan seluas 1,4 juta hektare, namun keberlanjutannya masih dibayangi ancaman hama dan penyakit tular tanah.
BPTP Pontianak menekankan pentingnya keterlibatan langsung petani dalam pemantauan kebun, bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT). Pengamatan perlu dilakukan setiap minggu atau bulan dengan menyesuaikan fase rentan tanaman.
Sejumlah OPT yang menjadi perhatian utama antara lain kumbang tanduk (Oryctes sp.) yang menyerang titik tumbuh tanaman, ulat pemakan daun yang menghambat proses fotosintesis, serta Ganoderma spp. Penyebab busuk pangkal batang yang berujung pada kematian tanaman.
Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) disebut paling rentan, sehingga membutuhkan intensitas pengawasan lebih tinggi. Sementara itu, interval pengamatan juga disesuaikan dengan siklus hidup hama. Hama dengan daur hidup cepat, seperti ulat daun, idealnya dipantau setiap pekan.

Metode pengamatan dilakukan dengan pengambilan sampel acak dari tepi hingga tengah kebun, dengan jumlah minimal 10 persen dari total luasan areal. Tingkat serangan kemudian dinilai berdasarkan kepadatan populasi atau derajat kerusakan tanaman melalui sistem skoring.
Data hasil pengamatan ini menjadi dasar penentuan metode Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Selain menekan risiko kehilangan hasil secara mendadak, monitoring mandiri juga mempercepat pelaporan serangan dan mengurangi biaya pengendalian karena tindakan dilakukan sejak gejala awal.
Kebiasaan memantau kebun secara terjadwal dinilai membantu petani memahami dinamika hama di lapangan sekaligus menjaga stabilitas produksi dan ekonomi petani sawit di Kalimantan Barat.
Tags:

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *