KONSULTASI
Logo

Kiat Petani Sawit Kalbar Deteksi Dini Kumbang Tanduk Ganoderma di Kebun

24 Januari 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Kiat Petani Sawit Kalbar Deteksi Dini Kumbang Tanduk Ganoderma di Kebun
HOT NEWS

sawitsetara.co - PONTIANAK – Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) mulai mengandalkan cara sederhana untuk menjaga kebun mereka dari ancaman hama dan penyakit mematikan. Salah satunya melakukan pengamatan mandiri secara rutin guna mendeteksi Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) sejak dini, terutama kumbang tanduk dan jamur Ganoderma.

Langkah ini dinilai penting untuk mencegah kerusakan ekonomi akibat serangan hama dan patogen yang dapat merusak titik tumbuh, jaringan batang, hingga sistem perakaran tanaman. Jika terlambat ditangani, serangan OPT berpotensi menurunkan produktivitas dan memicu kematian tanaman.

Sawit Setara Default Ad Banner

Balai Proteksi Tanaman Perkebunan (BPTP) Pontianak mencatat, produksi sawit Kalbar pada 2024 mencapai sekitar 6.400 ton, meningkat 10,34 persen dibandingkan periode 2021. Kenaikan produksi ini ditopang perkebunan seluas 1,4 juta hektare, namun keberlanjutannya masih dibayangi ancaman hama dan penyakit tular tanah.

BPTP Pontianak menekankan pentingnya keterlibatan langsung petani dalam pemantauan kebun, bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT). Pengamatan perlu dilakukan setiap minggu atau bulan dengan menyesuaikan fase rentan tanaman.

Sejumlah OPT yang menjadi perhatian utama antara lain kumbang tanduk (Oryctes sp.) yang menyerang titik tumbuh tanaman, ulat pemakan daun yang menghambat proses fotosintesis, serta Ganoderma spp. Penyebab busuk pangkal batang yang berujung pada kematian tanaman.

Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) disebut paling rentan, sehingga membutuhkan intensitas pengawasan lebih tinggi. Sementara itu, interval pengamatan juga disesuaikan dengan siklus hidup hama. Hama dengan daur hidup cepat, seperti ulat daun, idealnya dipantau setiap pekan.

Sawit Setara Default Ad Banner

Metode pengamatan dilakukan dengan pengambilan sampel acak dari tepi hingga tengah kebun, dengan jumlah minimal 10 persen dari total luasan areal. Tingkat serangan kemudian dinilai berdasarkan kepadatan populasi atau derajat kerusakan tanaman melalui sistem skoring.

Data hasil pengamatan ini menjadi dasar penentuan metode Pengelolaan Hama Terpadu (PHT). Selain menekan risiko kehilangan hasil secara mendadak, monitoring mandiri juga mempercepat pelaporan serangan dan mengurangi biaya pengendalian karena tindakan dilakukan sejak gejala awal.

Kebiasaan memantau kebun secara terjadwal dinilai membantu petani memahami dinamika hama di lapangan sekaligus menjaga stabilitas produksi dan ekonomi petani sawit di Kalimantan Barat.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Oktober 2025, Harga  Referensi CPO Menguat

Oktober 2025, Harga Referensi CPO Menguat

Harga Referensi (HR) komoditas minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) dan tarif Badan Layanan Umum Badan Pengelola Dana Perkebunan (BLU BPDP), atau biasa dikenal sebagai Pungutan Ekspor (PE), untuk periode Oktober 2025 adalah sebesar USD963,61/MT. Nilai ini meningkat sebesar USD8,89 atau 0,93 persen dari HR CPO periode September 2025 yang tercatat sebesar USD954,71/MT.

| Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *