
sawitsetara.co - BANJARBARU — Di sebuah kota penyangga ibu kota provinsi, Banjarbaru, Pemerintah Kalimantan Selatan (Kalsel) mulai merancang lompatan besar: mengubah limbah sawit menjadi sumber energi dan pupuk.
Februari 2026 menjadi titik awal ketika Dinas Perkebunan dan Peternakan Kalimantan Selatan menggandeng peneliti dalam dan luar negeri untuk membangun pabrik pupuk dan energi berbasis limbah.
Kolaborasi ini melibatkan Badan Riset dan Inovasi Nasional bersama dua lembaga teknologi asal Korea Selatan (Korsel)—National Institute of Green Technology dan Korea Institute of Industrial Technology.
Tahap awal proyek difokuskan pada penyusunan regulasi daerah dan studi kelayakan terpadu untuk pabrik pakan, pupuk, serta fasilitas energi terbarukan. Strategi ini dirancang sebagai jawaban atas dua persoalan sekaligus: ketahanan pangan dan ketergantungan energi.
Limbah perkebunan, yang selama ini dipandang sebagai beban, diarahkan menjadi komoditas bernilai ekonomi tinggi bagi petani dan pelaku industri.
Teknologi Korsel menjadi tulang punggung pengolahan limbah sawit menjadi pupuk organik. Produk tersebut telah diuji di perkebunan karet Kabupaten Tabalong dan terbukti mampu memenuhi kebutuhan nutrisi tanaman. Pemerintah daerah menargetkan alih teknologi ini dapat langsung diserap oleh tenaga kerja lokal.
Rencana pengembangan industri berkelanjutan ini mencakup penyusunan kerangka regulasi operasional, survei lapangan terintegrasi, diseminasi teknologi, serta pembiayaan fasilitas energi hijau melalui skema kemitraan strategis. Bank Indonesia ikut dilibatkan untuk memastikan fondasi ekonomi proyek berjalan transparan dan akuntabel.
Di sisi lain, sektor pertambangan masuk melalui pemanfaatan lahan eks reklamasi. Kawasan bekas tambang diproyeksikan menjadi sentra pengembangan sapi skala besar dengan skema tanggung jawab sosial perusahaan. Limbah tanaman pangan pun mulai dimaksimalkan sebagai pakan alternatif, untuk mengurangi ketergantungan pada limbah sawit semata.
Sejumlah infrastruktur pendukung sebenarnya telah berjalan. Unit pengolahan limbah mini di Tabalong melayani petani rakyat, sementara pabrik pakan berbasis limbah sawit di Tanah Bumbu telah beroperasi dan menyuplai kebutuhan lintas kabupaten. Permintaan pupuk organik terus meningkat seiring melonjaknya harga pupuk kimia.
Pemprov Kalimantan Selatan kini memfasilitasi data teknis dan pendampingan lapangan bagi peneliti Korea Selatan, memastikan kesiapan lahan serta pasokan bahan baku. Integrasi sektor perkebunan dan peternakan diposisikan sebagai motor ekonomi hijau di Bumi Lambung Mangkurat.
Proyek ini tidak berhenti pada dokumen kajian. Target akhirnya adalah pabrik yang beroperasi mandiri—menyediakan energi terbarukan, pupuk organik, dan menjadi model pengelolaan limbah sawit nasional. Jika berhasil, Kalimantan Selatan akan menjadi laboratorium hidup transisi energi berbasis perkebunan.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *