KONSULTASI
Logo

MPOB: Masa Depan Biofuel Sawit Ditentukan Teknologi, Bukan Sekadar Produksi Murah

21 September 2026
AuthorDwi Fatimah
EditorDwi Fatimah
MPOB: Masa Depan Biofuel Sawit Ditentukan Teknologi, Bukan Sekadar Produksi Murah

sawitsetara.co - Industri kelapa sawit global menghadapi tantangan baru. Strategi mengejar volume produksi tinggi dengan biaya murah dinilai tidak lagi cukup untuk menjaga keberlanjutan industri, terutama di tengah tekanan deforestasi dan perubahan iklim.

Ke depan, efisiensi berbasis riset, teknologi, dan inovasi menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas tanpa memperluas penggunaan lahan. Pendekatan inilah yang dinilai penting dalam menjaga masa depan industri biofuel berbasis kelapa sawit.

Hal tersebut ditegaskan Group Leader of Biofuel Technology, Engineering and Processing Division Malaysia Palm Oil Board (MPOB), Dr. Harrison Lau Lik Nang, dalam sesi diskusi 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Nusa Dua, Bali.

Menurut Harrison, industri sawit perlu mengubah paradigma dari sekadar mengejar produksi menjadi bagaimana menghasilkan lebih banyak dengan penggunaan input yang lebih sedikit dan tetap memenuhi prinsip keberlanjutan.

“Masa depan biofuel berbasis sawit bukan lagi soal menghasilkan lebih banyak dengan mengorbankan biaya, melainkan menghasilkan lebih banyak dengan input yang lebih sedikit (produce more with less), serta membuktikan bahwa kita melakukannya secara bertanggung jawab,” ujar Harrison dalam diskusi sesi 4 bertajuk “Global Palm Bioenergy Outlook: Yields, Innovation, and B50 Mandate Execution”, Jumat (18/9/2026).

Harrison memaparkan, populasi dunia diproyeksikan mendekati 10 miliar jiwa pada 2050. Kondisi tersebut akan mendorong kebutuhan minyak nabati global hingga sekitar 200 juta ton.

Dalam situasi tersebut, kelapa sawit dinilai memiliki keunggulan kompetitif karena mampu menghasilkan minyak dalam jumlah besar dengan kebutuhan lahan yang relatif lebih rendah dibandingkan tanaman minyak nabati lainnya.

“Kelapa sawit hanya menggunakan sekitar 7,8% dari total lahan tanaman minyak nabati dunia, tetapi mampu memasok hingga 35% kebutuhan minyak nabati global. Untuk menghasilkan 1 ton minyak, kelapa sawit hanya membutuhkan lahan sekitar 0,26 hektare, atau 5 hingga 8 kali lebih efisien dibandingkan jenis tanaman minyak nabati lainnya,” paparnya.

Namun, keunggulan produktivitas tersebut harus berjalan beriringan dengan pengendalian dampak lingkungan. Peningkatan produksi, menurut pendekatan yang dipaparkan Harrison, tidak harus dilakukan melalui ekspansi lahan.

Malaysia sendiri telah menetapkan target penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 45% pada 2030 dengan basis PDB 2005.

Pemerintah Malaysia juga menetapkan batas maksimal area perkebunan kelapa sawit sebesar 6,5 juta hektare. Saat ini, realisasi tutupan perkebunan sawit berada di sekitar 5,7 juta hektare. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan peningkatan produksi sawit tidak dilakukan melalui pembukaan hutan primer baru.

Karena itu, peningkatan produktivitas menjadi semakin penting. Produksi harus didorong dari lahan yang sudah ada melalui perbaikan material tanaman, teknologi budidaya, otomatisasi, hingga pengelolaan berbasis data.

Untuk menjawab tantangan tersebut, MPOB meluncurkan visi kerangka kerja riset PAMS Vision 2030 yang berfokus pada lima pilar, yakni Productivity, Automation, Low Carbon, Marketability, dan Sustainability.

Salah satu fokus utamanya adalah meningkatkan hasil produksi tanpa harus menambah luas lahan.

MPOB telah mengembangkan material genetik unggul yang berpotensi menghasilkan hingga 8 ton minyak per hektare. Angka tersebut jauh di atas rata-rata nasional yang saat ini masih berada di bawah 4 ton per hektare.

Pengembangan material genetik tersebut kemudian diperkuat dengan penerapan precision agriculture. Teknologi seperti Internet of Things (IoT) dan citra satelit mulai dimanfaatkan untuk menghasilkan pengelolaan kebun yang lebih akurat dan efisien.

DPP

MPOB juga berkolaborasi dengan IPB University Bogor dalam pengembangan sistem PKS Palm yang ditujukan untuk memprediksi kecukupan nutrisi tanaman secara lebih akurat.

Pendekatan berbasis data tersebut diharapkan dapat membantu pekebun menggunakan pupuk dan input produksi secara lebih tepat, sehingga produktivitas meningkat sekaligus mengurangi pemborosan.

Selain produktivitas, aspek keterlacakan atau traceability juga menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan industri sawit Malaysia.

Malaysia memperkuat transparansi melalui penerapan sertifikasi Malaysian Sustainable Palm Oil (MSPO) secara mandatory. Hingga kini, sertifikasi tersebut telah mencakup lebih dari 90% pemegang lisensi. MPOB juga terus memodernisasi rantai pasok sawit dari sistem konvensional menuju sistem digital terintegrasi.

Salah satunya melalui Sawit Intelligent Management System (SIMS) dan sistem Geo-Sawit, yang dikembangkan untuk memperkuat keterlacakan produk mulai dari kebun hingga pabrik pengolahan.

Dengan kombinasi peningkatan produktivitas, teknologi presisi, digitalisasi, pengurangan emisi, serta penguatan traceability, industri sawit diharapkan mampu menjawab tuntutan pasar global sekaligus memenuhi kebutuhan pangan dan energi yang terus meningkat.

Bagi industri biofuel berbasis sawit, pesan yang dibawa dari forum tersebut semakin jelas: masa depan bukan sekadar memproduksi lebih banyak, tetapi menghasilkan lebih banyak dari sumber daya yang lebih sedikit dan dapat membuktikan prosesnya dilakukan secara berkelanjutan.


Berita Sebelumnya
Insentif Pasar Dinilai Jadi Kunci Perluasan Sawit Berkelanjutan

Insentif Pasar Dinilai Jadi Kunci Perluasan Sawit Berkelanjutan

Upaya meningkatkan praktik keberlanjutan di sektor kelapa sawit dinilai perlu diikuti dengan insentif ekonomi. Akses pasar dan peluang memasuki pasar baru menjadi salah satu cara agar investasi produsen, terutama pekebun kecil, dalam praktik berkelanjutan mendapat imbal balik.

19 September 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *