
sawitsetara.co – Penguatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di tingkat pekebun membutuhkan lebih dari sekadar regulasi. Ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, terutama auditor dan pendamping, menjadi kunci untuk memastikan standar keberlanjutan dapat diterapkan secara nyata di lapangan.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, DGL Learning Institute berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian menggelar Pelatihan Sertifikasi Auditor ISPO Pekebun melalui skema Internal Control System (ICS) di Hotel Mercure Bengkulu, 19–22 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti 23 peserta dari Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan.
Pelatihan tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman mengenai kebijakan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan, mekanisme sertifikasi ISPO berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 33 Tahun 2025, serta penerapan sistem pengawasan internal bagi kelompok pekebun.
Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan mampu menjalankan peran strategis dalam mendampingi pekebun, mulai dari membenahi administrasi kelompok, memastikan pemenuhan persyaratan sertifikasi, hingga membangun mekanisme pengawasan internal yang efektif.
Direktur Utama DGL Learning Institute, M Gema Aliza Putra, menegaskan bahwa peningkatan kapasitas SDM merupakan salah satu fondasi penting dalam mempercepat implementasi ISPO di tingkat pekebun.
Menurutnya, pemahaman terhadap regulasi harus dibarengi dengan kemampuan teknis untuk menerjemahkan ketentuan tersebut menjadi langkah pendampingan dan pengawasan yang konkret.
“Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan tidak hanya memahami regulasi dan persyaratan sertifikasi, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan tersebut dalam proses pendampingan, pengawasan, dan penguatan tata kelola perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan,” ujarnya.
ICS Jadi Kunci Kesiapan Kelompok Pekebun
Salah satu aspek penting dalam pelatihan ini adalah penerapan Internal Control System (ICS), yakni mekanisme pengendalian internal yang membantu kelompok pekebun mengelola dan memantau pemenuhan standar keberlanjutan secara lebih sistematis.
Kesiapan kelompok pekebun untuk mengikuti sertifikasi ISPO tidak hanya ditentukan oleh pemenuhan persyaratan teknis di kebun. Ketertiban administrasi, kelengkapan dokumentasi, serta konsistensi pengawasan internal juga menjadi bagian penting dalam membangun tata kelola perkebunan yang baik.
Dengan penerapan ICS, kelompok pekebun diharapkan dapat memperkuat sistem administrasi dan pengawasan, sekaligus mengidentifikasi kekurangan yang perlu diperbaiki sebelum menjalani proses sertifikasi.
Keberadaan auditor dan pendamping yang kompeten pun menjadi penting untuk membantu pekebun memahami standar, memperbaiki kelembagaan, serta menjalankan praktik perkebunan berkelanjutan secara lebih terarah.
Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjenbun Kementerian Pertanian, Mutiara Sari, S.TP., Ph.D., menegaskan bahwa penguatan implementasi ISPO merupakan bagian penting dari upaya meningkatkan daya saing kelapa sawit Indonesia di tengah dinamika industri dan tuntutan pasar global.
“Pelatihan ini menjadi ruang penting untuk memperkuat implementasi ISPO dan daya saing kelapa sawit Indonesia dalam menghadapi dinamika serta tuntutan pasar global,” katanya.
Ia berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan pemahaman calon auditor terhadap kebijakan dan perkembangan ISPO sehingga mereka mampu mendukung penerapan standar keberlanjutan secara efektif di tingkat pekebun.
Bengkulu Selatan Siapkan SDM Perkebunan
Dukungan terhadap penguatan kompetensi SDM juga ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan. Pelatihan ini didukung melalui pendanaan APBD Perubahan sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor pertanian, khususnya perkebunan kelapa sawit.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Binagransyah, MM, mengatakan kelapa sawit menjadi salah satu penopang perekonomian masyarakat sehingga peningkatan kapasitas SDM perkebunan perlu mendapat perhatian.
“Pelatihan ini merupakan bentuk dukungan penuh Bapak Bupati terhadap sektor pertanian, khususnya perkebunan, karena kelapa sawit menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat Bengkulu Selatan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, pemilihan DGL Learning Institute sebagai mitra pelatihan telah melalui pertimbangan matang, termasuk pengalaman lembaga tersebut dalam menyelenggarakan program pengembangan SDM perkebunan, seperti pelatihan teknis budidaya dan pemetaan lokasi perkebunan.
Binagransyah berharap seluruh peserta dapat mengikuti pelatihan secara optimal dan menerapkan ilmu yang diperoleh untuk mendukung pengembangan perkebunan di Bengkulu Selatan.
Pembukaan kegiatan turut dihadiri Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, Arif Budiman, S.Hut., M.Ling, beserta jajaran. Sementara itu, Mutiara Sari dan Ratna Sariaty, SP., MM, selaku Ketua Kelompok Penerapan dan Pengawasan Mutu pada Direktorat Hilirisasi Hasil Perkebunan Ditjenbun, mengikuti kegiatan secara daring.
Kolaborasi DGL Learning Institute, Ditjenbun, dan Pemerintah Kabupaten Bengkulu Selatan ini diharapkan dapat menghasilkan SDM yang mampu mendukung kesiapan kelompok pekebun dalam memenuhi standar ISPO.
Penguatan kompetensi auditor dan pendamping menjadi langkah strategis agar sertifikasi ISPO tidak berhenti pada pemenuhan dokumen administratif, tetapi juga mendorong penerapan tata kelola perkebunan yang tertib, terukur, dan berkelanjutan. Dengan demikian, pekebun memiliki kesiapan yang lebih baik untuk memenuhi standar keberlanjutan sekaligus memperkuat daya saing kelapa sawit Indonesia di pasar global.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *