
sawitsetara.co - PEKANBARU - Pondok Pesantren Al Amin Dumai memperkenalkan inovasi hilirisasi sawit melalui program Santripreneur Sawit Indonesia dalam Sawit Indonesia Expo (SIEXPO) Ke-4 2026 di SKA Co Ex Pekanbaru, Riau.
Salah satu produk yang dipamerkan ialah Batik Santripreneur Sawit Indonesia. Batik ini menggunakan Malam Sawit sebagai salah satu bahan dalam proses pembuatannya. Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), BBSPJKB Yogyakarta, dan Pondok Pesantren Al Amin Dumai.
Pimpinan Pondok Pesantren Al Amin Dumai, K. W. Zainal Abidin, M.Pd., mengatakan program tersebut diharapkan berkembang dari Riau menjadi gerakan nasional.
“Alhamdulillah, kami mengucapkan terima kasih kepada BPDP, BBSPJKB Yogyakarta, Bank Indonesia, Pemerintah Provinsi Riau, Pemerintah Kota Dumai, serta berbagai pihak lainnya yang telah mendukung pengembangan Santripreneur Sawit Indonesia. Ikhtiar yang dimulai dari Riau ini kami harapkan menjadi Gerakan Nasional Santripreneur Sawit Indonesia yang memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat kemandirian ekonomi pesantren, serta menjadi kontribusi nyata menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Zainal dalam keterangan tertulis, Selasa (11/8/2026).
Program ini menjadi pilot project yang dimulai dari Riau pada 2026. Al Amin Dumai ditetapkan sebagai Center of Excellence dan bekerja sama dengan tiga pesantren, yakni Ponpes AUFIA Minas Kabupaten Siak, Ponpes Baitul Qur’an Kota Dumai, dan Ponpes Muhammadiyah Kota Duri, Kabupaten Bengkalis.
Pada SIEXPO 2026, Sabtu (8/6/2026), Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy mengunjungi booth Santripreneur Al Amin Dumai dan menunjukkan ketertarikan terhadap produk batik tersebut.
Al Amin Dumai juga membawa produk UMKM binaan pesantren berupa keripik singkong, tempe, dan pisang. Produk itu berpeluang dipasarkan ke Belanda melalui jejaring UMKM Indonesia yang dibangun sejak Festival Islam Kepulauan PCINU Belanda di Den Haag pada 18–19 Mei 2024.
Pondok pesantren tersebut juga memperkenalkan konsep Edu Wisata Santripreneur Sawit Indonesia. Konsep ini menggabungkan pendidikan pesantren, koperasi, kewirausahaan santri, UMKM, hilirisasi sawit, ekonomi syariah, dan wisata edukasi.
Zainal yang juga Ketua Hebitren Riau sekaligus Wakil Ketua Umum FEPI ini optimistis Santripreneur Sawit Indonesia dapat menjadi model pemberdayaan ekonomi pesantren. Program tersebut juga diarahkan untuk mendukung Asta Cita melalui penguatan SDM, hilirisasi, koperasi dan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja.
“Berawal dari Riau, Pondok Pesantren Al Amin Dumai optimistis gerakan Santripreneur Sawit Indonesia dapat berkembang menjadi model nasional pemberdayaan ekonomi pesantren yang mendukung terwujudnya Asta Cita Presiden Republik Indonesia dan Visi Indonesia Emas 2045, dengan semangat: Dari Santri untuk Negeri, Terus Bersinergi dan Berinovasi,” katanya.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *