
sawitsetara.co - JAMBI — Petani sawit di Provinsi Jambi, Norman Siagian, tegas menolak wacana penutupan pabrik kelapa sawit (PKS) tanpa kebun (komersial). Norman, yang telah 27 tahun menjadi petani sawit mandiri, mengaku selama ini justru bergantung pada PKS tanpa kebun.
Dalam wawancara dengan sawitsetara.co di Jambi pada Kamis (9/4/2026), Norman mengatakan PKS tanpa kebun memberikan fleksibilitas harga yang menguntungkan petani. Bahkan dalam kondisi tertentu, harga yang diterima bisa lebih tinggi dari harga pasar.
“Saya jual ke pabrik yang tanpa kebun, yang bebas. Karena prosesnya lebih cepat dan harga lebih bersaing dibanding pabrik yang sudah ada. Kalau sawit kita bagus dan jumlahnya besar, bisa dapat harga istimewa, sampai ditambah sekitar Rp200 per kilogram,” katanya.

Norman menegaskan, jika PKS tanpa kebun ditutup, petani mandiri atau yang tidak bermitra dengan PKS inti plasma (konvensional) akan kesulitan menjual hasil panen.]
Terbatasnya pabrik akan membuat pasokan melimpah tidak terserap optimal dan berpotensi menekan harga di tingkat petani.
“Kalau ditutup, kita jualnya susah. Pabrik sedikit, supply banyak, harga pasti turun. Padahal ini satu-satunya penghasilan kami,” jelasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti kemudahan sistem pembayaran di PKS tanpa kebun yang dinilai lebih cepat dan efisien.
“Kita panen, langsung antar, ditimbang, tiga hari kemudian uang masuk ke rekening. Dulu bisa tunggu sampai seminggu (baru bisa dijual ke PKS konvensional), bahkan sawit bisa busuk,” ungkapnya.

Atas dasar itu, Norman bersama petani lainnya menyatakan sikap tegas menolak rencana penutupan PKS tanpa kebun. “Kita menolak. Mereka itu membantu kami. Sawit kami tertampung semua, kami sangat terbantu. Kami bela mereka,” tegasnya.
Ia bahkan menyebut keberadaan PKS tanpa kebun sebagai bagian penting dari masa depan petani sawit swadaya. “Bagi kami, PKS tanpa kebun itu masa depan petani mandiri,” pungkasnya.
Tags:



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *