KONSULTASI
Logo

Petani Sawit Bengkulu Terjepit: Harga TBS Turun, Potongan Pengumpul Membengkak

20 Juni 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Petani Sawit Bengkulu Terjepit: Harga TBS Turun, Potongan Pengumpul Membengkak

sawitsetara.co - BENGKULU – Petani kelapa sawit di Bengkulu menghadapi tekanan berlapis. Di tengah penurunan harga tandan buah segar (TBS) di tingkat pabrik kelapa sawit (PKS), mereka juga harus menanggung potongan harga yang diterapkan pengumpul atau ramp sebelum hasil panen sampai ke pabrik.

Kondisi ini menjadi perhatian Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Provinsi Bengkulu. Organisasi tersebut menilai belum adanya aturan yang mengatur batas margin keuntungan pengumpul membuat petani, terutama petani mandiri yang tidak memiliki akses langsung ke PKS, berada pada posisi yang lemah.

Sekretaris Apkasindo Bengkulu Jon Simamora mengatakan keberadaan ramp memang dibutuhkan dalam rantai distribusi sawit. Namun, hingga kini tidak ada regulasi yang secara spesifik membatasi besaran margin yang dapat diambil pengumpul dari hasil penjualan petani.

Akibatnya, harga yang diterima petani jauh lebih rendah dibandingkan harga pembelian di tingkat pabrik. Situasi itu semakin terasa ketika harga TBS di PKS juga sedang mengalami penurunan.

“Ramp sebenarnya menjadi bagian dari distribusi sawit, tetapi persoalannya belum ada aturan yang mengatur batas margin keuntungan mereka. Ketika harga di PKS turun, petani yang menjual lewat ramp menerima harga yang jauh lebih rendah lagi,” kata Jon.

Sawit Setara Default Ad Banner

Menurut Jon, setiap pengumpul menerapkan kebijakan potongan yang berbeda karena tidak ada aturan yang menjadi acuan. Kondisi tersebut membuat petani tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga jual hasil panennya.

Besaran margin yang dipotong pengumpul juga berbeda di setiap daerah sentra sawit. Di Kabupaten Mukomuko, potongan harga disebut masih berkisar antara Rp50 hingga Rp80 per kilogram. Di Kabupaten Bengkulu Utara, margin yang diambil pengumpul mencapai Rp100 hingga Rp200 per kilogram.

Adapun kondisi yang paling memberatkan petani terjadi di wilayah selatan Bengkulu, meliputi Seluma, Manna, dan Kaur. Di daerah tersebut, margin yang dipotong pengumpul disebut dapat mencapai Rp400 hingga Rp600 per kilogram.

“Wilayah selatan menjadi daerah yang paling berat. Ada pengumpul yang mengambil margin sampai Rp600 per kilogram dan itu tentu sangat membebani petani kecil,” ujar Jon.

Apkasindo meminta pemerintah daerah mengambil peran lebih aktif dalam pengawasan distribusi TBS. Menurut Jon, karena izin operasional ramp berada di bawah kewenangan pemerintah daerah, maka pengawasan terhadap praktik pembelian TBS juga perlu diperkuat.

“Karena izin operasional ramp dikeluarkan pemerintah daerah, maka pengawasannya juga harus diperkuat. Kami mendorong adanya regulasi yang mengatur batas margin agar petani mendapat perlindungan,” katanya.

Sorotan terhadap kondisi petani sawit juga datang dari anggota DPRD Provinsi Bengkulu dari daerah pemilihan Bengkulu Utara, Samsir Alam. Ia menilai turunnya harga sawit tidak hanya berdampak pada petani, tetapi juga terhadap perputaran ekonomi masyarakat secara umum.

Menurut Samsir, harga TBS yang saat ini berada pada kisaran Rp2.500 hingga Rp2.900 per kilogram membuat keuntungan petani semakin menipis. Sebagian besar pendapatan, kata dia, habis untuk biaya operasional kebun dan ongkos panen.

“Harga sawit yang turun drastis sangat memukul ekonomi petani. Dengan harga di kisaran Rp2.500 sampai Rp2.900 per kilogram, penghasilan petani nyaris hanya cukup untuk biaya perawatan dan panen,” ujar Samsir.

Sawit Setara Default Ad Banner

Ia meminta seluruh PKS di Bengkulu mematuhi harga pembelian yang sebelumnya telah disepakati bersama, yakni Rp3.300 per kilogram. Kepatuhan terhadap harga acuan tersebut dinilai penting agar petani tetap memperoleh margin keuntungan yang layak.

“Kami meminta pabrik membeli TBS sesuai harga yang sudah disepakati sebesar Rp3.300 per kilogram. Petani harus tetap mendapat keuntungan agar roda ekonomi masyarakat Bengkulu tetap berjalan,” kata Samsir.

Menurut dia, sektor pertanian dan perkebunan sawit masih menjadi penopang utama ekonomi Bengkulu. Karena itu, kestabilan harga komoditas sawit perlu dijaga agar dampak pelemahan harga tidak semakin meluas.

“Perputaran ekonomi Bengkulu sampai hari ini masih sangat bergantung pada sektor pertanian, terutama perkebunan sawit,” ujar Samsir.

Tags:

harga TBS

Berita Sebelumnya
APKASINDO Riau Dorong Pemanfaatan Pupuk Organik di Tengah Lonjakan Harga Pupuk Kimia

APKASINDO Riau Dorong Pemanfaatan Pupuk Organik di Tengah Lonjakan Harga Pupuk Kimia

Menurut Suher, pupuk masih menjadi komponen biaya terbesar dalam usaha perkebunan kelapa sawit rakyat. Karena itu, APKASINDO Riau berupaya mencari alternatif yang lebih murah dan berkelanjutan melalui pemanfaatan limbah sawit menjadi pupuk organik.

19 Juni 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *