KONSULTASI
Logo

Produksi Sawit Naik 7,2%, APKASINDO Sebut PSR Jadi Penopang Utama: Persyaratan Jangan Dipersulit

13 Maret 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorDwi Fatimah
Produksi Sawit Naik 7,2%, APKASINDO Sebut PSR Jadi Penopang Utama: Persyaratan Jangan Dipersulit
HOT NEWS

sawitsetara.co - JAKARTA — Kinerja industri kelapa sawit Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan tren positif. Produksi minyak sawit mentah (CPO) dan ekspor produk sawit mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, menyampaikan produksi CPO pada 2025 mencapai 51,66 juta ton, meningkat 7,26% dibandingkan produksi tahun 2024 yang sebesar 48,16 juta ton.

Sementara itu, produksi minyak inti sawit atau PKO juga meningkat 6,41% menjadi 4,89 juta ton, dari 4,59 juta ton pada tahun sebelumnya.

“Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada 2025 mencapai 56,55 juta ton, lebih tinggi 7,18% dibandingkan total produksi 2024 sebesar 52,76 juta ton,” ujar Eddy dalam konferensi pers dan buka bersama di Jakarta, Kamis (12/3/2026).

DPP

Peningkatan produksi tersebut turut mendorong kenaikan ekspor produk sawit Indonesia. Sepanjang 2025, total ekspor sawit tercatat mencapai 32,34 juta ton, meningkat 9,51% dibandingkan ekspor 2024 yang sebesar 29,53 juta ton.

Kenaikan ekspor terbesar berasal dari minyak sawit olahan yang mencapai 22,73 juta ton, naik dari 20,45 juta ton pada tahun sebelumnya. Selain itu, ekspor olahan minyak inti sawit juga meningkat menjadi 1,56 juta ton, sedangkan ekspor oleokimia mencapai 5,08 juta ton.

Dari sisi negara tujuan, peningkatan ekspor terbesar terjadi ke kawasan Afrika, yang bertambah 991 ribu ton. Selain itu, ekspor juga meningkat ke China sebesar 644 ribu ton, Malaysia sebesar 516 ribu ton, Bangladesh sebesar 503 ribu ton, serta Pakistan sebesar 214 ribu ton.

Namun, beberapa pasar utama mengalami penurunan impor sawit dari Indonesia. Penurunan tercatat pada ekspor ke India sebesar 859 ribu ton, kemudian Uni Eropa sebesar 97 ribu ton, serta Amerika Serikat sebesar 15 ribu ton.

Secara nilai, ekspor produk sawit Indonesia pada 2025 mencapai US$35,87 miliar atau sekitar Rp590 triliun, meningkat 29,23% dibandingkan nilai ekspor tahun 2024 yang sebesar US$27,76 miliar.

Menurut Eddy, peningkatan nilai ekspor tersebut tidak hanya didorong oleh kenaikan volume ekspor, tetapi juga karena harga rata-rata minyak sawit global yang lebih tinggi sepanjang 2025.

DPP

Menanggapi data tersebut, Ketua Umum DPP APKASINDO Dr. Gulat Medali Emas Manurung, MP., C.IMA., C.APO, mengapresiasi GAPKI yang telah menyajikan gambaran kinerja industri sawit nasional sepanjang 2025.

Menurutnya, sejumlah data yang dipaparkan cukup mengejutkan karena sebelumnya banyak pengamat memprediksi produksi CPO Indonesia justru akan turun.

“Memang banyak data yang disajikan tersebut mengejutkan. Semula diprediksi banyak pengamat dan praktisi bahwa produksi CPO Indonesia akan turun kisaran 2–5 persen, tetapi justru naik sekitar 7,2 persen,” ujarnya yang juga hadir dalam agenda tersebut.

Dr. Gulat menilai kenaikan produksi tersebut tidak lepas dari kontribusi program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang mulai memasuki fase tanaman menghasilkan (TM). “Artinya di sini, PSR-lah yang menjadi pahlawan kenaikan produksi CPO Indonesia pada 2025,” katanya.

DPP

Ia menegaskan keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti bahwa percepatan program PSR sangat penting untuk meningkatkan produktivitas sawit nasional. Oleh karena itu, ia mendorong agar persyaratan program PSR yang selama ini dinilai rumit dapat disederhanakan.

“Ini pembuktian apa yang sudah berulang kali kami sampaikan supaya PSR dipacu melalui perbaikan persyaratan, yang selama ini cukup rumit, berliku dan sangat panjang. Kita harus move on, hijrah, dari percaturan persyaratan, Kinerja BPDP dan Dirjenbun harus berbasis capaian PSR, jika tidak tercapai maka patut di evaluasi pejabat tersebut,” kata Dr. Gulat.

“Sudah gak zamannya lagi dengan persyaratan memanjang, yang ada harus percepatan dan akselerasi dan ini sejalan dengan cita-cita Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto,” tambahnya.

Ia mengatakan, jika masih terdapat kementerian maupun lembaga (K/L) yang mengurusi PSR masih mempersulit petani sawit untuk ikut program tersebut, berarti KL tersebut tidak sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo.

Menurut Dr. Gulat, keberhasilan PSR juga akan sangat menentukan upaya pemerintah dalam mencapai target kemandirian energi melalui program biodiesel. Ia menilai waktu yang tersedia cukup sempit untuk menuju target pemanfaatan biodiesel yang lebih tinggi.

“Waktu kita sangat sempit menuju program B50 sampai B100 untuk kemandirian energi. Kami petani sawit ingin membantu Presiden menuju kemandirian energi melalui peningkatan produktivitas kebun sawit,” katanya.

Saat ini, lanjutnya, produktivitas kebun sawit rakyat masih jauh dari potensi ideal. Produksi rata-rata kebun petani hanya sekitar 400–800 kilogram tandan buah segar (TBS) per hektare per bulan dengan rendemen 18–21 persen.

Padahal, produktivitas ideal bisa mencapai 2,5–3,5 ton TBS per hektare per bulan dengan rendemen di atas 26 persen. “Dan tentunya kami bisa membantu meningkatkan produksi itu hanya dengan satu jalan, yaitu melalui PSR,” ujar Dr. Gulat.

Tags:

Berita SawitGAPKIAPKASINDO

Berita Sebelumnya
Pertengahan Maret Harga CPO Menguat, Terdorong Kenaikan Harga Minyak Mentah

Pertengahan Maret Harga CPO Menguat, Terdorong Kenaikan Harga Minyak Mentah

Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives ditutup menguat pada Rabu (12/3/2026).

12 Maret 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *