KONSULTASI
Logo

Gapki Siapkan Serangga Penyerbuk dari Tanzania, Produksi Sawit Diproyeksi Naik 10–15 Persen

12 Maret 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Gapki Siapkan Serangga Penyerbuk dari Tanzania, Produksi Sawit Diproyeksi Naik 10–15 Persen

sawitsetara.co - JAKARTA — Upaya meningkatkan produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional kembali mencari jalan baru. Kali ini, industri sawit menaruh harapan pada makhluk kecil yang kerap luput dari perhatian: serangga penyerbuk.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono mengatakan organisasinya tengah menjalankan program peningkatan produktivitas melalui introduksi serangga penyerbuk dari Tanzania.

Program ini menjadi bagian dari strategi industri untuk meningkatkan produksi tanpa memperluas lahan seperti didampingi Eddy dalam konferensi pers di kantor Kementerian Pertanian di Jakarta, Rabu (11/3/2026).

“Kita itu sudah berjalan program peningkatan produktivitas, dengan melakukan introduksi serangga penyerbuk. Pertama ini dari Tanzania, dan juga sumber daya genetik. Sumber daya genetik itu juga dari Tanzania, sekarang yang sedang kita berjalan adalah dengan Zambia, ini sedang proses,” katanya.

DPP

Menurut Eddy, kehadiran serangga penyerbuk tersebut diharapkan membuat proses pembentukan buah kelapa sawit berlangsung lebih optimal. Dengan penyerbukan yang lebih efektif, tandan buah segar diperkirakan dapat terbentuk lebih sempurna.

“Ya kita harapkan memang begitu. Kenapa? Karena pembentukan buahnya kan lebih sempurna. Harusnya bisa naik sampai kira-kira sekitar 10-15 persen kenaikan produksinya,” kata dia.

Selain memperkenalkan serangga penyerbuk, Gapki juga mengembangkan sumber daya genetik baru bagi tanaman sawit. Eddy menilai langkah ini berpotensi mendorong lonjakan produktivitas yang lebih besar di masa depan.

“Dengan sumber daya genetik baru, harusnya bisa meningkat lebih tinggi lagi. Karena kenapa? Yang tadinya mungkin hanya 24 ton TBS (Tandan Buah Segar) per hektare per tahun, bisa meningkat 2 kali lipat,” ujarnya.

Jika proses introduksi berjalan sesuai rencana, dampaknya diperkirakan tidak membutuhkan waktu lama untuk terlihat di lapangan.

“Begitu nanti kita lepas, kalau ini berhasil yang kita lepas, itu kan butuh waktu 6 bulan saja yang nanti akan terlihat,” ucap Eddy.

Namun, pada tahap awal pelepasan serangga penyerbuk tersebut masih dilakukan secara terbatas. Uji coba akan berlangsung di lingkungan anggota konsorsium Gapki sebelum diperluas ke masyarakat.

“Tapi memang ini sekarang pelepasannya terbatas. Belum semua. Masih di anggota-anggota konsorsium Gapki, yang nanti setelah itu baru kita mulai lepas secara ini ke masyarakat juga,” kata dia.

DPP

Eddy menilai peningkatan produktivitas menjadi kunci untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan energi domestik dan ekspor sawit. Pemerintah saat ini mendorong pemanfaatan sawit sebagai bahan baku biodiesel untuk mendukung program swasembada energi.

“Jalan satu-satunya adalah kita harus meningkatkan produksi. Supaya ekspor tetap jalan, tetapi untuk energi juga bisa jalan. Tidak saling membunuh misalnya, atau contoh kita menaikan untuk biodiesel, tetapi ekspor turun,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Eddy mengatakan pihaknya telah menyampaikan rencana pelepasan serangga penyerbuk dan sumber daya genetik baru itu kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Menurut dia, pemerintah menyambut rencana tersebut.

“Saya sampaikan kepada Pak Mentan bahwa ini sudah siap untuk dilepas, yang serangga penyerbuk termasuk sumber daya genetik,” ujarnya.

Gapki bahkan berencana meminta Amran meresmikan langsung pelepasan serangga penyerbuk tersebut. Eddy menyebut momen itu sebagai langkah penting bagi industri sawit nasional.

Jika tidak ada perubahan jadwal, pelepasan serangga penyerbuk dan sumber daya genetik baru itu direncanakan berlangsung setelah Lebaran, sekitar April mendatang, di Medan, Sumatera Utara.

“Nanti kita atur waktunya kapan. Tetapi rencana setelah Lebaran. Setelah Lebaran, kira April, kita akan lepas serangga penyerbuk dan juga sumber daya genetik,” ujar Eddy.

Tags:

Berita Sawit

Berita Sebelumnya
Salah Pilih Bisa Berdampak 25 Tahun, Dapatkan Bibit Sawit Berkualitas di Pembibitan APKASINDO Redang Seko

Salah Pilih Bisa Berdampak 25 Tahun, Dapatkan Bibit Sawit Berkualitas di Pembibitan APKASINDO Redang Seko

Menurutnya, bibit yang tidak jelas sumbernya sering menghasilkan buah dengan kualitas minyak rendah dan produksi tidak maksimal.

11 Maret 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *