
sawitsetara.co - NUSANTARA — Digitalisasi dinilai dapat menjadi salah satu kunci untuk meningkatkan produktivitas dan profitabilitas petani kelapa sawit. Pemanfaatan teknologi digital yang dipadukan dengan pengetahuan agronomi dapat membantu petani memperoleh informasi, memantau kebun dan mengambil keputusan secara lebih tepat.
Hal tersebut disampaikan CEO SawitPRO Abhishek Singh dalam sesi sharing pada International Oil Palm Smallholder (IOPS) Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur, Kamis (27/8/2026).
Dalam paparannya bertajuk Digital and Data-Driven Solutions for Palm Oil Smallholders, Abhishek memperkenalkan pendekatan SawitPRO yang menggabungkan pengetahuan agronomi dengan teknologi digital untuk mendukung pengelolaan perkebunan kelapa sawit.
“Digitalisasi harus memberikan manfaat nyata bagi petani. Teknologi bukan hanya tentang aplikasi, tetapi bagaimana data, pengetahuan agronomi dan teknologi dapat membantu petani meningkatkan hasil produksi, menurunkan biaya dan membuat keputusan yang lebih baik dalam mengelola kebunnya,” ujar Abhishek.
Menurut dia, SawitPRO mengembangkan platform yang dirancang dengan pendekatan mobile first, sehingga berbagai layanan dapat diakses petani melalui telepon seluler. Platform tersebut mencakup pemanfaatan data secara real-time, pemantauan lapangan, akses terhadap sarana produksi serta dukungan tenaga ahli.
“Ketika petani memiliki akses terhadap data yang tepat dan dukungan agronomi, mereka dapat memahami kondisi kebunnya dengan lebih baik. Dari sana, keputusan mengenai pemupukan, perawatan tanaman, pengendalian hama dan penyakit hingga pengelolaan biaya dapat dilakukan secara lebih terukur,” katanya.
Pendekatan tersebut diarahkan untuk mencapai tiga sasaran utama, yakni meningkatkan hasil produksi, menekan biaya dan membantu petani mengambil keputusan yang lebih baik demi keberlanjutan usaha perkebunan.
Produktivitas Masih Bisa Ditingkatkan
Dalam presentasinya, SawitPRO menampilkan adanya kesenjangan antara produktivitas aktual dan potensi produktivitas petani sawit Indonesia. Produktivitas saat ini ditampilkan sekitar 2,2 ton CPO per hektare, sedangkan potensi yang ditampilkan mencapai 2,75 ton CPO per hektare.
Dengan demikian, terdapat peluang peningkatan produktivitas sekitar 25 persen.
“Potensi peningkatan produktivitas ini menunjukkan bahwa masih ada ruang yang besar untuk memperbaiki kinerja perkebunan rakyat. Dengan pengelolaan yang lebih baik dan dukungan teknologi, petani dapat meningkatkan produksi tanpa semata-mata bergantung pada perluasan lahan,” ujar Abhishek.
SawitPRO memperkirakan peningkatan produktivitas petani sawit Indonesia berpotensi menghasilkan tambahan 3,8 juta ton CPO per tahun. Dampaknya juga diproyeksikan mencapai tambahan US$3,4 miliar penerimaan nasional dari ekspor dan pajak serta kontribusi sekitar 0,25 persen terhadap pertumbuhan GDP.
Petani Dibekali Teknologi dan Agronomi
Untuk mendukung petani di tingkat kebun, SawitPRO mengembangkan PetaniPRO, aplikasi manajemen perkebunan yang menyediakan sejumlah fitur seperti pencatatan panen, pencatatan kegiatan perawatan dan kalkulator pupuk.
Aplikasi tersebut ditujukan untuk membantu petani mengurangi biaya, meningkatkan produktivitas, mengelola risiko dan meningkatkan pendapatan.
“Petani membutuhkan alat yang sederhana, mudah digunakan dan benar-benar menjawab persoalan di lapangan. Karena itu, kami mencoba menghadirkan teknologi yang dapat digunakan langsung oleh petani sebagai semacam asisten pribadi dalam mengelola kebunnya,” kata Abhishek.
Selain PetaniPRO, SawitPRO menyediakan Dokter Sawit, layanan konsultasi dengan tenaga ahli agronomi kelapa sawit. Layanan ini memberikan kesempatan bagi petani memperoleh pendampingan dalam mengambil keputusan terkait pengelolaan kebun.
SawitPRO juga mengembangkan Toko Sawit, marketplace untuk kebutuhan perkebunan dan kebutuhan harian petani yang menawarkan akses terhadap produk, panduan ahli dan harga kompetitif.
Digitalisasi Kelembagaan Petani
Transformasi digital yang ditawarkan SawitPRO juga menyasar kelembagaan petani. Melalui KUDPRO, koperasi unit desa dapat mengelola operasional dan menyiapkan data yang dibutuhkan untuk program BPDPKS maupun kebutuhan sertifikasi.
“Kami melihat digitalisasi bukan hanya kebutuhan petani secara individu. Kelembagaan seperti KUD juga membutuhkan data yang baik dan sistem pengelolaan yang rapi agar dapat meningkatkan efisiensi, mempersiapkan sertifikasi dan mengakses berbagai program yang tersedia bagi petani,” ujar Abhishek.
KUDPRO juga dikembangkan untuk membantu koperasi mencari pembeli baru, mengurangi biaya input melalui pembelian langsung secara e-commerce serta membuat prediksi produksi berbasis data.
Ekosistem SawitPRO turut mencakup manajemen KUD dan perkebunan, manajemen loyalitas untuk pabrik kelapa sawit, manajemen ramp, manajemen pembibitan, akses terhadap benih atau bibit Topaz, input pertanian berbiaya rendah, pemetaan menggunakan drone serta layanan agronomi.
Menurut Abhishek, arah pengembangan tersebut adalah membangun ekosistem digital yang menghubungkan berbagai kebutuhan petani, mulai dari pengelolaan kebun hingga akses terhadap sarana produksi dan pasar.
“Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem yang terintegrasi. Petani tidak hanya mendapatkan teknologi untuk mencatat kegiatan di kebun, tetapi juga memperoleh akses terhadap pengetahuan, input, layanan agronomi dan informasi yang dapat membantu mereka meningkatkan produktivitas serta profitabilitas,” katanya.
Visi SawitPRO adalah membangun platform digital terintegrasi dari hulu hingga hilir bagi pelaku industri kelapa sawit untuk menciptakan “Prosperity for People and Planet.”
Paparan Abhishek di IOPS Forum 2026 menegaskan bahwa digitalisasi dapat ditempatkan sebagai bagian dari strategi peningkatan daya saing petani sawit rakyat. Dengan dukungan data, teknologi dan pengetahuan agronomi, pengelolaan kebun diharapkan menjadi lebih terukur, efisien dan produktif.
Tags:


Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *