
sawitsetara.co - JAKARTA – Wakil Menteri Transmigrasi, Viva Yoga Mauladi menegaskan Kementerian Transmigrasi tidak lagi sekadar memindahkan penduduk, melainkan meningkatkan kualitas hidup para transmigrasi menjadi lebih baik diantaranya dengan menjadi petani kelapa sawit.
Sehingga dalam hal ini komoditas kelapa sawit memiliki peran strategis tidak hanya bagi pengusaha, tetapi juga masyarakat lokal, transmigrasi dan pemerintah melalui perkebunan milik BUMN di berbagai daerah.
Kelapa sawit menjadi salah satu sektor prioritas yang terus didorong pengembangannya karena mampu memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara sekaligus membuka lapangan kerja secara luas.
“Kelapa sawit ini bukan hanya milik pengusaha, tetapi juga milik negara dan petani. Oleh karena itu, sawit menjadi prioritas untuk dikembangkan, selain mendatangkan devisa juga untuk meningkatkan lapangan pekerjaan,” ujar Viva Yoga Mauladi.

Viva mengungkapkan bahwa kawasan transmigrasi memiliki potensi lahan yang sangat besar, mencapai sekitar 3,1 juta hektare, baik yang termasuk kawasan prioritas nasional maupun kawasan eks-transmigrasi. Dari jumlah tersebut, sekitar 600.000 hektare telah dimanfaatkan sebagai kebun sawit.
Namun demikian, angka tersebut belum mencakup berbagai skema pengembangan lain seperti ekspansi maupun transmigrasi swakarsa.
Viva menilai, bagi masyarakat transmigrasi, kelapa sawit memiliki nilai ekonomi yang sangat penting. Bahkan, sawit sebagai “rezeki dari Tuhan” bagi warga transmigrasi.
Hal ini ia sampaikan berdasarkan hasil kunjungan kerjanya ke Kabupaten Bungo, Jambi. Di sana, ia melihat langsung keberhasilan program Perkebunan Inti Rakyat Transmigrasi (PIR-Trans), di mana para transmigran awalnya bermitra dengan pihak swasta melalui sistem bagi hasil, hingga akhirnya memiliki lahan secara mandiri.
“Mereka merasa bersyukur mengikuti program PIR-Trans sawit, karena setelah beberapa tahun, lahan tersebut menjadi milik mereka sendiri,” Viva.

Lebih lanjut, Viva menjelaskan bahwa pengembangan komoditas di kawasan transmigrasi disesuaikan dengan potensi unggulan masing-masing daerah. Di wilayah seperti Jambi dan Riau, sawit menjadi komoditas utama, sementara di Papua lebih banyak dikembangkan padi. Adapun di Sulawesi Tengah, selain padi juga dikembangkan hortikultura seperti durian dan kakao.
Kementerian Transmigrasi, lanjutnya, terus mendorong kawasan transmigrasi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui optimalisasi komoditas unggulan lokal.
“Pengembangan ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkas Viva.



Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *