KONSULTASI
Logo

Strategi Green Productivity Dinilai Jadi Kunci Sawit Hadapi EUDR dan Tuntutan Keberlanjutan

21 Juli 2026
AuthorHendrik Khoirul
EditorHendrik Khoirul
Strategi Green Productivity Dinilai Jadi Kunci Sawit Hadapi EUDR dan Tuntutan Keberlanjutan

sawitsetara.co - JAKARTA – Tekanan terhadap industri kelapa sawit Indonesia akibat tuntutan keberlanjutan global, termasuk penerapan European Union Deforestation-Free Regulation (EUDR), dinilai membutuhkan strategi baru yang mampu menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan perlindungan lingkungan.

Akademisi Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, Estiarty Haryani, menawarkan pendekatan tersebut melalui disertasinya yang berjudul “Strategi Keberlanjutan Implementasi Green Productivity Industri Kelapa Sawit (Studi pada PT. X di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi).”

Dalam keterangannya di Kampus UI Depok, Senin (20/7/2026), Estiarty mengatakan penelitian tersebut berangkat dari kondisi terkini industri sawit nasional yang menghadapi tekanan besar, baik dari aspek lingkungan maupun perubahan dinamika pasar global.

“Penelitian berasal dari realita teraktual di mana industri sawit tanah air menghadapi tekanan besar, terutama pada aspek lingkungan maupun dinamika pasar global,” kata Estiarty, dikutip ANTARA.

apkasindo

Menurut dia, tantangan tersebut semakin mengemuka sejak Uni Eropa menerapkan EUDR yang mewajibkan produk yang dipasarkan di kawasan tersebut bebas dari praktik deforestasi. Kondisi itu, kata dia, menegaskan pentingnya pendekatan yang mampu mengintegrasikan efisiensi ekonomi dengan perlindungan lingkungan.

Penelitian Estiarty menggunakan pendekatan kualitatif yang dipadukan dengan mixed methods. Data dikumpulkan melalui wawancara, survei masyarakat, observasi lapangan, serta studi literatur. Analisis kemudian diperkuat menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) berbasis PLS-SEM untuk mengidentifikasi hubungan antarvariabel secara lebih komprehensif.

Hasil penelitian menunjukkan implementasi green productivity pada perusahaan yang menjadi objek studi berada dalam kategori baik. Penelitian juga menemukan bahwa faktor eksternal yang dianalisis menggunakan kerangka PESTEL—meliputi politik, ekonomi, sosial, teknologi, lingkungan, dan hukum—berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan implementasi strategi tersebut.

Dari enam faktor itu, aspek politik dan hukum menjadi faktor paling dominan karena berperan dalam membentuk arah kebijakan sekaligus mendorong adopsi teknologi di industri kelapa sawit.

apkasindo

Estiarty menilai temuan tersebut dapat menjadi kerangka strategis bagi industri sawit nasional dalam menghadapi tuntutan keberlanjutan global. Selain membantu meningkatkan daya saing perusahaan, pendekatan itu juga dinilai dapat mendukung pemenuhan standar internasional yang semakin ketat.

Penelitian tersebut juga disebut memberikan perspektif bagi masyarakat mengenai pentingnya praktik industri yang berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan. Dengan demikian, tata kelola industri diharapkan menjadi lebih akuntabel, ramah lingkungan, sekaligus tetap kompetitif di pasar global.

Sebagai tindak lanjut, Estiarty merumuskan strategi keberlanjutan berbasis prinsip SMART (specific, measurable, achievable, relevant, dan time-bound). Menurut dia, regulasi yang kuat dan konsisten menjadi pengungkit utama agar implementasi green productivity dapat berjalan secara efektif dan berkelanjutan.

Tags:

EUDR

Berita Sebelumnya
Diversifikasi Ekspor Dinilai Perkuat Posisi Sawit Indonesia, PASPI Dorong Diplomasi Lebih Proaktif

Diversifikasi Ekspor Dinilai Perkuat Posisi Sawit Indonesia, PASPI Dorong Diplomasi Lebih Proaktif

Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) menilai strategi diversifikasi pasar ekspor telah memperkuat posisi industri kelapa sawit Indonesia di tengah meningkatnya berbagai hambatan dagang berbasis isu keberlanjutan.

20 Juli 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *